Hadapi Cuaca Ekstrem, Apa yang Bisa Dilakukan Masyarakat?

Kompas.com - 25/11/2020, 15:06 WIB
Warga nekat melitas di DAM Kali Apu di Desa Wonolelo, Kecamatan Sawangan, Magelang, yang baru beberapa minggu selesai dibangun, kembali rusak diterjang lahar dingin. Hingga Sabtu (5/11), material lahar dingin masih berada di tengah jembatan, mengakibatkan aktivitas warga terganggu. Jembatan itu menjadi akses terdekat bagi warga Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali untuk menuju pusat Kecamatan Selo. 

Kompas/Amanda Putri (UTI)
05-11-2011 AMANDA PUTRIWarga nekat melitas di DAM Kali Apu di Desa Wonolelo, Kecamatan Sawangan, Magelang, yang baru beberapa minggu selesai dibangun, kembali rusak diterjang lahar dingin. Hingga Sabtu (5/11), material lahar dingin masih berada di tengah jembatan, mengakibatkan aktivitas warga terganggu. Jembatan itu menjadi akses terdekat bagi warga Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali untuk menuju pusat Kecamatan Selo. Kompas/Amanda Putri (UTI) 05-11-2011

KOMPAS.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika ( BMKG) menyebutkan adanya potensi cuaca ekstrem pada 21-27 November 2020.

Mengutip Kompas.com, 23 November 2020, cuaca ekstrem adalah kondisi cuaca yang tidak biasa dan menimbulkan dampak kerugian baik jiwa maupun harta.

Beberapa hal yang bisa terjadi saat cuaca ekstrem antara lain banjir, longsor, banjir bandang, hujan es, dan sebagainya.

Baca juga: Kapan Musim Kemarau 2020 Berakhir dan Musim Penghujan di Indonesia Dimulai?

Lantas, apa yang bisa dilakukan masyarakat saat cuaca ekstrem terjadi?

Kepala Sub-Bidang Iklim dan Cuaca BMKG Agie Wandala menjelaskan, jika cuaca ekstrem sudah terjadi dan menyebabkan banjir, longsor, atau banjir bandang, maka masyarakat harus bertahan di tempat yang aman.

"Bangunan yang permanen tidak dapat terhempas karena arus air. Harus dipastikan aman buat seluruh anggota keluarga, baik anak-anak atau manula," katanya pada Kompas.com, Rabu (25/11/2020).

Baca juga: Indonesia Disebut Alami Gelombang Panas, Ini Penjelasan BMKG

Tapi jika cuaca ekstrem belum terjadi, maka masyarakat harus mengenali kondisi tempat tinggalnya dan potensi terdampak cuaca ekstrem.

"Masyarakat mulai membiasakan mengetahui apakah sebenarnya tempat/rumah di mana mereka berada itu rawan atau memiliki kerentanan tinggi terhadap bencara banjir/longsor/banjir bandang tidak," kata dia.

Hal itu, menurut Agie bisa dilakukan dengan beberapa cara.

Baca juga: Berikut Analisis Ahli Hidrologi UGM soal Banjir Jakarta di Awal Tahun 2020

Observasi kondisi lingkungan bisa dilakukan dengan bertanya pada sesepuh desa atau orang yang berpengalaman.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X