Viral Unggahan Poster Monas Tenggelam di Media Sosial, Apa Artinya?

Kompas.com - 08/07/2020, 08:05 WIB
Terumbu karang di Great Barrier Reef yang memutih seiring naiknya suhu laut akibat pemanasan global dan perubahan iklim. ShutterstockTerumbu karang di Great Barrier Reef yang memutih seiring naiknya suhu laut akibat pemanasan global dan perubahan iklim.
Penulis Tim Cek Fakta
|
EditorTim Cek Fakta

"Saya sengaja juga membuat visualnya terasa gelap dan menakutkan untuk memberikan efek yang sama seperti tahun 2012," kata dia.

Niel mengimbau masyarakat untuk sadar bahwa bisa jadi pada 2102 perubahan iklim dan lingkungan bumi bisa rusak jika kita tidak menjaga kestabilan lingkungan.

Terkait posternya yang menjadi viral di media sosial, Niel berharap pesannya untuk menyadarkan manusia tersampaikan, terutama pemerintah.

Ia juga tidak menyangka jika poster hasil kreasinya akan mendapatkan respons sampai puluhan ribu kali oleh pengguna Twitter lainnya.

Baca juga: Klaten Jadi Trending di Twitter, Berikut Sejarah Kota yang Dipimpin Bupati Sri Mulyani

Tanggapan LIPI

Di sisi lain, peneliti Limnologi Bogor dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Hendro Wibowo mengungkapkan, ada kemungkinan Indonesia akan mengalami hal tersebut.

Sebab, kondisi yang terjadi pada poster tersebut dapat terjadi dengan tiga pemicu yakni menurunnya kapasitas sungai, kenaikan permukaan laut, dan perubahan lahan hulu.

"Saya mencoba memahami pemikiran pengunggahnya sebagai sebuah peringatan kepada kita semua bahwa membuang sampah sembarangan menjadi salah satu sebab terjadinya banjir karena tertutupnya saluran drainase dan menurunnya kapasitas sungai," ujar Hendro saat dihubungi terpisah oleh Kompas.com, Selasa (7/7/2020).

Baca juga: Mencairnya Es di Greenland dan Risiko Banjir Tahunan...

Menurutnya, untuk proyeksi tahun 2100-an ini sudah banyak diungkapkan bahwa kota-kota pantai sesuai kondisi regional masing-masing akan tenggelam karena adanya kenaikan permukaan laut akibat pemanasan global serta penurunan muka tanah karena eksploitas air tanah dan beban bangunan akibat pembangunan yang tidak terkendali.

Di sisi lain perubahan lahan di hulu juga menyebabkan berkurangnya daerah resapan, sehingga menambah akumulasi aliran permukaan di kota-kota pantai tersebut.

"Tiga pemicu tadi secara ekstrim dapat digambarkan dalam poster tersebut. Apakah benar seperti itu? Proses tersebut sudah mulai terjadi di beberapa kota pantai," kata dia.

"Hanya saja untuk memperkirakan waktu dan besarannya tentu harus terus dilakukan penajaman akurasi model-model perubahan iklim, model proyeksi kenaikan permukaan air laut, model prediksi perubahan penggunaan lahan didukung oleh data-data monitoring untuk validasinya," lanjut dia.

Baca juga: Kristal Es Bak Salju Muncul di Gunung Gede, Kenapa Bisa Terjadi?

HOAKS ATAU FAKTA?

Jika Anda mengetahui ada berita viral yang hoaks atau fakta, silakan klik tombol laporkan hoaks di bawah ini

closeLaporkan Hoaks checkCek Fakta Lain
Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X