Viral Unggahan Poster Monas Tenggelam di Media Sosial, Apa Artinya?

Kompas.com - 08/07/2020, 08:05 WIB
Tangkapan layar poster Monas tenggelam yang diunggah oleh akun Twitter bernama Niel pada Jumat (3/7/2020). Twitter: @morninglatte_Tangkapan layar poster Monas tenggelam yang diunggah oleh akun Twitter bernama Niel pada Jumat (3/7/2020).
Penulis Tim Cek Fakta
|
EditorTim Cek Fakta

KOMPAS.com - Sebuah unggahan menampilkan poster Monumen Nasional (Monas) yang tenggelam menjadi ramai diperbincangkan di media sosial pada Jumat (3/7/2020).

Adapun pihak pengunggah yakni akun Twitter bernama Niel, @morninglatte_.

"Kalau masih buang sampah sembarangan," tulis Niel dalam twitnya.

Baca juga: Viral, Video Pria Ancam Polisi yang Akan Bubarkan Judi Sabung Ayam di Toraja Utara

Baca juga: Video Viral Sosok Pengisi Suara Berbagai Produk Iklan, Ini Peluang Kerja Voice Over

Dalam poster tersebut, suasana yang tergambar gelap dan suram.

Poster yang memvisualisasikan Monas tenggelam ini telah disukai sebanyak lebih dari 50.200 kali oleh pengguna Twitter lainnya.

Tak lama setelah itu, Niel pun kembali mengunggah poster Garuda Wisnu Kencana (GWK) yang tenggelam pada Sabtu (4/7/2020).

"Kalo lebih mentingin pariwisata daripada lingkungannya," tulis Niel dalam twitnya.

Baca juga: Hari Ini dalam Sejarah: Kapal Titanic Tenggelam, 1.500 Orang Meninggal

Respons terhadap unggahan kedua ini pun cukup tinggi dengan lebih dari 10.000 re-twit dan lebih dari 41.400 kali akun menyukai poster GWK tenggelam.

Selain itu, pada dua poster tersebut tertulis angka 2102 dan nama wilayah di mana terdapatnya Monas dan GWK.

Baca juga: Viral Video Remaja Tenggelam Dikira Bercanda, Ini Faktanya...

Lantas, apa makna poster monas dan GWK tenggelam?

Pengunggah sekaligus designer poster, Otniel Yurotama Levy Hutabarat mengungkapkan, caption yang ada pada twitnya merupakan gambaran dari permasalahan tiap kota atas ketidaksadaran manusia.

"Sebenarnya caption-nya cuman gambaran dari problem utama kotanya masing-masing. Contohnya, Jakarta, dengan problem sampah berserakan, dan Bali dengan kondisi lingkungan yang terusik karena pariwisata," ujar Niel saat dihubungi Kompas.com, Selasa (7/7/2020).

Menurutnya, permasalahan tersebut secara universal memang dkarenakan global warming atau pemanasan global atas ketidaksadaran manusianya sendiri.

Baca juga: Kisah Penaklukan Pertama Everest, Gunung Tertinggi di Dunia

Ilustrasi permafrost di benua Arktik. Permafrost adalah lapisan tanah beku yang kian terancam mencair akibat perubahan iklim dan pemanasan global. Kali ini, ancaman lebih serius terjadi akibat tumpahan minyak atau bahan bakar diesel.WIKIMEDIA COMMONS/Brocken Inaglory Ilustrasi permafrost di benua Arktik. Permafrost adalah lapisan tanah beku yang kian terancam mencair akibat perubahan iklim dan pemanasan global. Kali ini, ancaman lebih serius terjadi akibat tumpahan minyak atau bahan bakar diesel.

Ia juga membeberkan bahwa dirinya telah membuat poster Tugu Kujang di Bogor yang juga tenggelam, sama seperti dua bangunan ikonik sebelumnya.

Terkait ilustrasi di Kota Jakarta, Bali, dan Bogor, Niel menjelaskan, tiga kota tersebut tidak hanya disorot dari segi permasalahan terhadap lingkungan, namun juga menjadi kota yang berpengaruh bagi dirinya.

"Pada dasarnya enggak ada tujuan yang filsuf tentang kenapa sih saya pilih tiga kota tersebut, tapi memang saya dari Jakarta, sekarang sudah lima tahun di Bogor, dan saya memang sudah lama punya rencana buat menetap di Bali, makanya saya pilih kota-kota tersebut," ujar freelance di bidang graphic designer, sekaligus pemilik Digital Studio Visualmovement.id ini.

Baca juga: Manfaat di Balik Desain Ruangan dengan Aksen Tanaman Hias

Arti angka 2102

Tidak hanya gambar bangunan yang tenggelam saja yang menjadi daya tarik dari karyanya, melainkan angka 2102 yang ada pada bagian bawah poster.

Niel mengatakan, ada maksud tersendiri bagi angka 2102 yang dibubuhkannya pada poster.

"Tujuan dan maksud saya pilih empat angka itu memang menuju ke tahun. Pada masanya, banyak orang merasa takut dan bertanya-tanya tentang kerusakan Bumi di tahun 2012, pada saat itu booming banget dan bikin orang merasa ketakutan (karena diimplementasikan sebagai tahun akhir zaman)," katanya lagi.

Baca juga: Trending Topic Taufik Hidayat dan Lingkaran Korupsi di Kemenpora...

Kendati demikian, Niel terbentuk ide untuk menukar angka tersebut yang awalnya 2012 menjadi 2102.

"Saya sengaja juga membuat visualnya terasa gelap dan menakutkan untuk memberikan efek yang sama seperti tahun 2012," kata dia.

Niel mengimbau masyarakat untuk sadar bahwa bisa jadi pada 2102 perubahan iklim dan lingkungan bumi bisa rusak jika kita tidak menjaga kestabilan lingkungan.

Terkait posternya yang menjadi viral di media sosial, Niel berharap pesannya untuk menyadarkan manusia tersampaikan, terutama pemerintah.

Ia juga tidak menyangka jika poster hasil kreasinya akan mendapatkan respons sampai puluhan ribu kali oleh pengguna Twitter lainnya.

Baca juga: Klaten Jadi Trending di Twitter, Berikut Sejarah Kota yang Dipimpin Bupati Sri Mulyani

Tanggapan LIPI

Terumbu karang di Great Barrier Reef yang memutih seiring naiknya suhu laut akibat pemanasan global dan perubahan iklim.Shutterstock Terumbu karang di Great Barrier Reef yang memutih seiring naiknya suhu laut akibat pemanasan global dan perubahan iklim.

Di sisi lain, peneliti Limnologi Bogor dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Hendro Wibowo mengungkapkan, ada kemungkinan Indonesia akan mengalami hal tersebut.

Sebab, kondisi yang terjadi pada poster tersebut dapat terjadi dengan tiga pemicu yakni menurunnya kapasitas sungai, kenaikan permukaan laut, dan perubahan lahan hulu.

"Saya mencoba memahami pemikiran pengunggahnya sebagai sebuah peringatan kepada kita semua bahwa membuang sampah sembarangan menjadi salah satu sebab terjadinya banjir karena tertutupnya saluran drainase dan menurunnya kapasitas sungai," ujar Hendro saat dihubungi terpisah oleh Kompas.com, Selasa (7/7/2020).

Baca juga: Mencairnya Es di Greenland dan Risiko Banjir Tahunan...

Menurutnya, untuk proyeksi tahun 2100-an ini sudah banyak diungkapkan bahwa kota-kota pantai sesuai kondisi regional masing-masing akan tenggelam karena adanya kenaikan permukaan laut akibat pemanasan global serta penurunan muka tanah karena eksploitas air tanah dan beban bangunan akibat pembangunan yang tidak terkendali.

Di sisi lain perubahan lahan di hulu juga menyebabkan berkurangnya daerah resapan, sehingga menambah akumulasi aliran permukaan di kota-kota pantai tersebut.

"Tiga pemicu tadi secara ekstrim dapat digambarkan dalam poster tersebut. Apakah benar seperti itu? Proses tersebut sudah mulai terjadi di beberapa kota pantai," kata dia.

"Hanya saja untuk memperkirakan waktu dan besarannya tentu harus terus dilakukan penajaman akurasi model-model perubahan iklim, model proyeksi kenaikan permukaan air laut, model prediksi perubahan penggunaan lahan didukung oleh data-data monitoring untuk validasinya," lanjut dia.

Baca juga: Kristal Es Bak Salju Muncul di Gunung Gede, Kenapa Bisa Terjadi?


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X