Apa Itu Dexamethasone, Obat Kortikosteroid dan Efek Sampingnya...

Kompas.com - 18/06/2020, 17:39 WIB
Ilustrasi dexamethasone SHUTTERSTOCK/JOSHIMERBINIlustrasi dexamethasone
  • Atrofi kulit dan telangiektasis

Biasanya muncul bersamaan. Atrofi berupa penipisan kulit sehingga pembuluh darah dapat terlihat lebih jelas. Telangiektasis berarti pembuluh darah semakin banyak dan berkelok-kelok.

  • Striae

Kondisi skar bergaris yang terbentuk karena kerusakan di lapisan dermis. Epidermis menipis, dan kolagen bertambah. Saat akut berwarna merah dan padat, kemudian mendatar dan lunak.

Baca juga: Selain Membuat Kulit Lebih Cantik, Ini Manfaat Tempe bagi Kesehatan

  • Purpura

Gangguan pada kulit yang disebabkan karena berkurangnya glikosaminoglikans di dermis sehingga pembuluh darah ruptur dan terjadi kebocoran darah. Trauma ringan (terbentur, tergaruk) dapat menyebabkan kondisi ini.

  • Hipopigmentasi

Efek samping atau gangguan lainnya dari penggunaan steroid yakni adanya hambatan sintesis melanin (senyawa pemberi warna kulit) sehingga menurunkan jumlahnya. Akibatnya, warna kulit di area tersebut tampak lebih putih dibanding sekitarnya. Efek ini bersifat reversibel setelah penghentian obat beberapa minggu.

  • Hipertrikosis

Kondisi kulit di mana timbul peningkatan rambut yang sebelumnya sudah ada menjadi lebih tebal, padat, dan panjang. Kondisi ini akan berangsur menghilang dalam waktu 2-3 tahun sejak obat dihentikan.

Baca juga: Hand Sanitizer PH 2,5, Amankah untuk Kulit?

  • Erupsi Akneiformis

Sebuah reaksi radang folikel rambut yang ditandai dengan bintil (papul) dan bintil bernanah (pustul). Beda dengan jerawat yang ada komedonya. Dapat disebabkan obat lain selain steroid.

Tak hanya itu, dalam kemasan obat kortikosteroid terdapat lambang obat keras atau lingkaran K merah.

"Ada lingkaran marahnya kan itu, dengan huruf K (keras) di tengahnya, sehingga pemakaian steroid tidak boleh sembarangan, mengingat banyaknya efek samping yang dapat muncul bila dipakai dalam jangka panjang, tidak tepat indikasi (jika beli tanpa resep), dan tanpa pengawasan dokter," ujar Rheza.

Baca juga: Waspada Gejala Baru Virus Corona, dari Sulit Berbicara hingga Halusinasi

Keefektifan Dexamethasone

Terkait kabar dexamethasone dapat menurunkan angka kematian pasien Covid-19, Rheza mengatakan, proses ini masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

"Obat itu mulai dari ditemukan sampai bisa digunakan untuk menyembuhkan penyakit, perjalanannya panjang. Butuh empat fase clinical trial. Covid-19 ini kan penyakit baru, jadi semua obat sedang diuji coba, ada yang berhasl, ada yang tidak," ujar Rezha.

Ia mengungkapkan, dalam penelitian yang berhasil, menurutnya hal itu hanyalah laporan kasus.

Sementara, untuk mengetahui efektivitas dan efek samping dari obat yang diuji membutuhkan penelitian yang lebih besar sampelnya dan multi center.

"Pada berita yang ada saat ini, hanya laporan di UK saja, belum bisa dibilang efektif untuk Covid-19, karena harus dilakukan penelitian di beberapa negara, baru bisa disahkan secara global," imbuhnya.

Baca juga: Simak, Ini 10 Cara Pencegahan agar Terhindar dari Virus Corona

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X