Mengenal Saptoto, Seniman di Balik Monumen Serangan Umum 1 Maret

Kompas.com - 01/03/2020, 09:30 WIB
Tentang Monumen Serangan Umum 1 Maret Yogyakarta. Monumen Serangan Umum 1 Maret berada di area sekitar Museum Benteng Vredeburg yaitu tepat di depan Kantor Pos Besar Yogyakarta. Monumen ini dibangun untuk memperingati serangan tentara Indonesia terhadap Belanda pada tanggal 1 Maret 1949. KOMPAS/DJOKO POERNOMOTentang Monumen Serangan Umum 1 Maret Yogyakarta. Monumen Serangan Umum 1 Maret berada di area sekitar Museum Benteng Vredeburg yaitu tepat di depan Kantor Pos Besar Yogyakarta. Monumen ini dibangun untuk memperingati serangan tentara Indonesia terhadap Belanda pada tanggal 1 Maret 1949.

Saptopo pun masuk menjadi mahasiswa ASRI (Akademi Seni Rupa Yogyakarta) dan menjadi lulusan pertama jurusan seni lukis dan seni patung.

Selepas dari ASRI, Saptoto melanjutkan studinya ke Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (Sekarang Institut Seni Indonesia Yogyakarta).

Di tempat itulah ia mengabdikan sebagian hidupnya menjadi staf pengajar, hingga menjabat sebagai Direktur STSRI dan dua kali menjadi dekan saat berubah menjadi ISI.

Baca juga: Mengenal Bapak Pramuka Dunia Baden Powell yang Lahir pada 22 Februari 1857

Sang Pembuat Patung dan Monumen

Nama Saptoto tak bisa dilepaskan dari patung dan monumen.

Berbagai proyek besar seperti Monumen Serangan Umum 1 Maret di Yogyakarta (1973), Monumen Brawijaya di Malang serta pemberian ornamen-ornamen artistik untuk gedung Kedubes Indonesia di Belgia benar-benar karya-karya yang layak mendapat pujian.

Monumen dan patungnya menyebar di seluruh wilayah Indonesia, seperti Monumen Perjuangan Rakyat Kalimantan 17 Mei 1949 di Banjarmasin (1985), Monumen Perjuangan Kemerdekaan Lampung 45-49, Patung Jamin Ginting dan Monumen Sibolga (Sumatera Utara) dan masih banyak lagi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pengalamannya di berbagai medan tempur sangat menguntungkan Saptoto ketika ia diminta menampilkan monumen-monumen perjuangan atau tokoh-tokoh pejuang Indonesia.

Saptoto juga sangat teliti dalam menggambarkan detail sejarah. Bahkan, ketelitiannya melahirkan koreksi sejarah yang sangat krusial, seperti dalam hal penggambaran Panglima Besar Jenderal Sudirman sewaktu bergerilya.

Sudirman digambarkan dengan jas panjang, leher bersyal, kepala berblangkon, dan memegang tongkat di sebelah kiri.

Itu menunjukkan bahwa Sudirman siap sedia untuk menjawab salam atau hormat dari para pasukannya. Gambaran seperti ini ia wujudkan dalam bentuk Patung Sudirman di bekas medan gerilya di Pakis, Pacitan.

Baca juga: Mengenal Virus Corona, Masih Keluarga SARS dan MERS Sebabkan Pneumonia

Halaman:

25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X