Hari Ini dalam Sejarah: Karol Wojtyla Dilantik Menjadi Paus Yohanes Paulus II

Kompas.com - 22/10/2019, 12:44 WIB
Bunda Teresa dan Paus Yohanes Paulus II melambaikan tangan kepada umat di Nirmal Hriday Home di Kolkata, 3 Februari 1986. AFP PHOTO / JEAN-CLAUDE DELMASBunda Teresa dan Paus Yohanes Paulus II melambaikan tangan kepada umat di Nirmal Hriday Home di Kolkata, 3 Februari 1986.

KOMPAS.com - Hari ini 41 tahun lalu, tepatnya 22 Oktober 1978, Karol Józef Wojtyla dilantik menjadi pemimpin tertinggi Gereja Katolik Roma dengan nama Paus Yohanes Paulus II.

Sebelumnya, ia terpilih menjadi Paus pada 16 Oktober 1978, dan dilantik enam hari kemudian.

Melansir situs Vatican, Wojtyla lahir di Wadowice, Polandia pada 18 Mei 1920.

Dia adalah anak bungsu dari tiga bersaudara dari pasangan Karol Wojtyla dan Emilia Kaczorowska.

Usai lulus dari SMA, Wojtyla melanjutkan pendidikannya di Universitas Jagiellonian di Krakow.

Di tempat ini, ia mendalami filsafat, sastra, dan tampil dalam sejumlah pementasan drama.

Saat ia masih menempuh pendidikan di bangku universitas, Perang Dunia II pecah.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kala itu, Nazi berhasil menduduki Polandia, termasuk Krakow. Akibatnya, universitas tempat Wojtyla mencari ilmu ditutup.

Baca juga: Hari Ini dalam Sejarah: 20 Oktober 2014, Melepas SBY, Menyambut Jokowi

Dia kemudian terpaksa keluar dan bekerja di tambang lalu di pabrik bahan kimia.

Pada tahun 1941, ibu, ayah, beserta saudara laki-lakinya meninggal dunia. Hal ini membuatnya hidup sebatang kara.

Saat perang masih berkecamuk, Wojtyla yang saat itu aktif dalam kegiatan gereja tertarik untuk menjadi imam di Gereja Katolik, dan memutuskan untuk masuk ke seminari di Krakow.

Panggilannya menjadi imam terjadi saat Perang Dunia II usai. Ia lalu melanjutkan studinya yang terputus dan mendalami Teologi.

Setelah resmi menjadi imam pada 1 November 1946, Wojtyla juga berhasil menyelesaikan dua kuliah doktor dan menjadi profesor dalam bidang teologi moral dan etika sosial.

Wojtyla yang saat itu sudah menjadi imam kemudian dikirim oleh Kardinal Sapieha ke Roma untuk kembali mendalami teologi.

Di sana, ia berhasil meraih gelar doktor pada tahun 1948.

Baca juga: Hari Ini dalam Sejarah: Indonesia Akui Hasil Referendum Timor Timur

Saat masih menjadi mahasiswa di Roma, Wojtyla menghabiskan liburannya untuk melayani para imigran dari Polandia, Perancis, Belgia, dan Belanda.

Kemudian pada usia 38 tahun, ia ditunjuk oleh Paus Pius XII menjadi uskup pembantu di Krakow sebelum menjadi uskup agung di kota itu.

Saat menjadi uskup agung, ia kerap menyuarakan kebebasan beragama dengan lantang, meski saat itu Polandia berada di bawah pemerintahan komunis.

Para pemimpin gereja kala itu juga terkesan dengan kemampuannya dalam memimpin gereja meskipun ada pembatasan oleh pemerintah komunis.

Paus Yohanes Paulus IIAP Paus Yohanes Paulus II
Wojtyla mengambil bagian dalam Konsili Vatikan Kedua (1962-1965), yang merevolusi Gereja Katolik saat itu.

Dalam konsili tersebut, Wojtyla menyumbang kontribusi dalam penyususnan Konstitusi Gaudium et Spes.

Selama menjadi uskup agung, ia pernah melobi izin untuk membangun sebuah gereja di pinggiran kawasan industri baru di Krakow.

Selama dua dekade, ia berjuang agar izin pembangunan tersebut turun. Setelah Wojtyla menang, gereja baru itu bisa berdiri pada tahun 1977.

Ia kembali ditunjuk oleh Paus untuk menjadi seorang Kardinal pada 26 Juni 1967.

Sebelas tahun setelah itu, ketika Paus Paulus VI wafat, Gereja Katolik mengadakan pemilihan Paus baru.

Setelah tujuh putaran pemungutan suara, dewan konklaf akhirnya memilih Wojtyla yang saat itu berusia 58 tahun untuk menjadi Paus ke-264.

Baca juga: Hari Ini dalam Sejarah: Thomas Alva Edison Meninggal Dunia

Wojtyla terpilih menjadi Paus non-Italia pertama dan yang termuda sejak 132 tahun terakhir.

Sebelumnya, Paus non-Italia yang telah menjabat adalah Paus Adrian VI asal Belanda yang menjabat pada tahun 1522-1523.

Selama masa jabatannya, Paus Yohanes Paulus II dikenal sebagai pemimpin yang penuh kharisma.

Namun ia juga dikenal sebagai pemimpin yang konservatif.

Sepanjang masa kepausannya, Vatikan menentang komunisme, perang, dan juga aborsi.

Ia juga menentang penggunaan kontrasepsi, penerapan hukuman mati, dan juga hubungan seks sesama jenis.

Meski demikian, aa juga dikenang akan upayanya menumbangkan komunisme dan meminta maaf untuk perilaku Gereja Katolik di masa perang Dunia II.

Bahkan, ia juga dikenang karena membuka hubungan dengan agama lain termasuk agama Yahudi, Islam, Gereja Ortodoks, serta Gereja Anglikan.

Baca juga: Hari Ini dalam Sejarah: Lahirnya Walt Disney Company

Hal lain yang dikenang dari sosoknya adalah saat ia memaafkan orang yang berusaha membunuhnya.

Dia pernah ditembak di Lapangan St Petrus oleh pria Turki bernama Mehmet Ali Agca.

Upaya tersebut gagal. Setelah menjalani perawatan di rumah sakit, Paus Yohanes Paulus II mengunjungi penjara dan memaafkan pria itu.

Setahun kemudian, ia juga menjadi target pembunuhan. Kali ini pelakunya adalah seorang pastor radikal yang menolak adanya reformasi di tubuh Gereja Katolik.

Tahun-tahun setelahnya, Paus semakin sulit berkomunikasi dan berjalan. Pada akhirnya, dia dirawat di rumah sakit akibat komplikasi penyakit pada Februari 2005. Setelah menjalani perawatan selama dua bulan, ia akhirnya menghembuskan napas terakhirnya di usia 85 tahun.

Baca tentang

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X