22 Oktober, Mengingat Kembali Sejarah Penetapan Hari Santri

Kompas.com - 22/10/2019, 08:37 WIB
Peserta beraktivitas seusai mengikuti peringatan Hari Santri Nasional yang diselenggarakan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama di kawasan Monumen Nasional, Jakarta, Sabtu (22/10/2016). Peringatan Hari Santri Nasional ini bertujuan untuk meneladani perjuangan pendahulu dalam membangun semangat keindonesiaan. KOMPAS/YUNIADHI AGUNGPeserta beraktivitas seusai mengikuti peringatan Hari Santri Nasional yang diselenggarakan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama di kawasan Monumen Nasional, Jakarta, Sabtu (22/10/2016). Peringatan Hari Santri Nasional ini bertujuan untuk meneladani perjuangan pendahulu dalam membangun semangat keindonesiaan.

KOMPAS.com - Hari Ini, 22 Oktober 2019, merupakan peringatan Hari Santri.

Hari Santri Nasional diperingati setiap tahunnya pada 22 Oktober sejak ditetapkan pertama kali pada 2015.

Penetapan Hari Santri Nasional merupakan salah satu janji kampanye Presiden Joko Widodo.

Menurut Harian Kompas edisi 22 Oktober 2015, santri tak hanya merujuk pada komunitas tertentu, tetapi merujuk mereka yang dalam tubuhnya mengalir darah Merah Putih dan tarikan napas kehidupannya terpancar kalimat La ilaha illa Allah.

Penetapan ini dituangkan dalam Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 yag ditandantangani pada 15 Oktober 2015.

Alasan 22 Oktober jadi Hari Santri

Menurut Sekretaris Kabinet Pramono Anung, penetapan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri mengacu pada peristiwa yang terjadi pada tanggal yang sama tahun 1945.

Baca juga: Peringati Hari Santri, Khofifah Minta Warga Jatim Mengheningkan Cipta

Menurut Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Komaruddin Amin, perjuangan para KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, dan Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto menciptakan organisasi Islam sangat berperan penting dalam perjalanan bangsa.

”Mereka merupakan tokoh yang memiliki komitmen Islam dan komitmen kebangsaan yang luar biasa. Hal inilah yang harus terus kita kenang,” kata Komaruddin.

Saat itu, Hasyim Asy'ari yang menjabat sebagai Rais Akbar PBNU menetapkan Resolusi Jihad melawan pasukan kolonial di Surabaya, Jawa Timur.

Peran ini sangat terlihat pada tanggal 21 dan 22 Oktober 1945 saat pengurus NU Jawa dan Madura menggelar pertemuan di Surabaya.

Pertemuan tersebut dilakukan untuk menyatakan sikap setelah mendengar tentara Belanda berupaya kembali menguasai Indonesia dengan membonceng Sekutu.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X