Coercive Act, Kebijakan Inggris untuk Menghukum Massachusetts

Kompas.com - 08/11/2021, 15:00 WIB
Ilustrasi yang menggambarkan pelaksanaan Coercive Act. New York Public LibraryIlustrasi yang menggambarkan pelaksanaan Coercive Act.

KOMPAS.com - Coercive Act atau Intolerable Act (Undang-Undang Tindakan yang Tak Bisa Dimaklumi) adalah serangkaian undang-undang yang dikeluarkan Parlemen Inggris pada 1774 untuk menghukum penduduk koloni Massachusetts.

Latar belakang dikeluarkannya Coercive Act oleh Inggris pada dasarnya berangkat dari peristiwa Boston Tea Party, yang terjadi pada 1773.

Namun, tindakan opresif yang dilakukan oleh Inggris ini ternyata justru semakin mengobarkan semangat perlawanan dari penduduk Amerika untuk memerjuangkan kemerdekaannya.

Latar belakang Coercive Act

Pada 16 Desember 1773, massa aksi yang memakai kostum suku Indian membuang 342 peti kayu yang berisi teh dari atas kapal-kapal Inggris hingga membuat pelabuhan Boston, Massachusetts, dipenuhi teh.

Aksi yang kemudian dikenal sebagai Boston Tea Party (Pesta Teh Boston) ini dipelopori oleh organisasi kelompok revolusioner bernama Sons of Liberty.

Peristiwa ini adalah aksi pembangkangan besar-besaran pertama yang dilakukan terhadap kekuasaan Inggris di Amerika.

The Boston Tea Party menunjukkan kepada Inggris bahwa orang Amerika tidak akan mematuhi Undang-Undang Teh (Tea Act) dan menolak keras kesewenang-wenangan para penjajah.

Pasalnya, Tea Act memberi hak kepada East India Company (EIC) untuk memperbesar jangkauan monopoli teh ke seluruh koloni.

Coercive Act adalah tindakan langsung yang diberikan oleh Parlemen Inggris atas peristiwa Boston Tea Party.

Parlemen Inggris berharap, Coercive Act, yang diterapkan terhadap Massachusetts, dapat meredam perlawanan penduduk di 13 koloni Amerika.

Baca juga: Sugar Act: Latar Belakang, Tujuan, dan Dampak

Halaman:


Video Pilihan

Sumber History
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pangeran Jayakarta, Penguasa Jakarta yang Paling Diburu VOC

Pangeran Jayakarta, Penguasa Jakarta yang Paling Diburu VOC

Stori
Negara-negara Anggota AFTA

Negara-negara Anggota AFTA

Stori
Sejarah dan Filosofi Rumah Joglo

Sejarah dan Filosofi Rumah Joglo

Stori
Latar Belakang Lahirnya Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia

Latar Belakang Lahirnya Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia

Stori
Tengku Abdul Jalil, Tokoh Perlawanan Aceh terhadap Jepang

Tengku Abdul Jalil, Tokoh Perlawanan Aceh terhadap Jepang

Stori
Sejarah Singkat Kerajaan Tonga

Sejarah Singkat Kerajaan Tonga

Stori
Sejarah Pramugari, Nyonya Rumah di Udara

Sejarah Pramugari, Nyonya Rumah di Udara

Stori
Daftar Lokasi Kerajaan Terbesar di Indonesia

Daftar Lokasi Kerajaan Terbesar di Indonesia

Stori
Candi Penataran: Sejarah, Fungsi, dan Kompleks Bangunan

Candi Penataran: Sejarah, Fungsi, dan Kompleks Bangunan

Stori
Sejarah Nama Kota Fatima di Portugal

Sejarah Nama Kota Fatima di Portugal

Stori
Perang Boshin: Latar Belakang, Pertempuran, dan Akhir

Perang Boshin: Latar Belakang, Pertempuran, dan Akhir

Stori
Sejarah Singkat Kerajaan Yerusalem

Sejarah Singkat Kerajaan Yerusalem

Stori
Kelebihan dan Kelemahan Teori Gujarat

Kelebihan dan Kelemahan Teori Gujarat

Stori
Latar Belakang Konflik Yugoslavia

Latar Belakang Konflik Yugoslavia

Stori
Proses Islamisasi di Maluku

Proses Islamisasi di Maluku

Stori
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.