Kompas.com - 22/09/2022, 09:05 WIB

KOMPAS.com - Peneliti menemukan hal yang menarik saat mereka mendokumentasikan simpanse di Hutan Tai, di Pantai Gading, Afrika Barat awal tahun 2022.

Peneliti mengidentifikasi, bahwa simpanse menggunakan berbagai alat batu untuk memecahkan jenis kacang yang berbeda pula.

Hasil temuan ini kemudian dipublikasikan di Royal Society Open Science.

Baca juga: Simpanse Gunakan Teriakan Berburu untuk Ajak Kawanannya Mencari Mangsa

Mengutip Phys, Rabu (21/9/2022) simpanse telah lama diketahui memiliki budaya penggunaan alat untuk memecah makanan mereka.

Tetapi hanya beberapa kelompok di Afrika Barat saja yang menggunakan peralatan batu untuk memecahkan kacang.

Studi ini pun menyoroti fakta, bahwa meski beberapa kelompok simpanse terlatih memecahkan kacang, alat yang mereka gunakan dapat berbeda satu sama lain.

Perbedaan alat ini terjadi karena adanya kombinasi pilihan batu, ketersediaan batu, dan spesies kacang yang dimakan.

Selain itu, dengan membandingkan model 3D dari alat-alat batu berbeda yang digunakan oleh simpanse di Hutan Tai dengan kelompok simpanse lain di Guinea, peneliti pun akhirnya memukan ada perbedaan mencolok antara kedua kelompok dalam hal budaya material mereka.

Studi menunjukkan, bahwa kelompok simpanse tertentu di Guinea ini menggunakan palu batu dengan berbagai jenis dan ukuran batu, dan landasan batu yang sangat besar, terkadang lebih dari satu meter panjangnya. Alat-alat batu tahan lama ini tersebar luas di seluruh lanskap.

Lebih lanjut, penelitian sebelumnya telah menunjukkan dengan menggunakan alat-alat batu, beberapa kelompok simpanse mengembangkan catatan arkeologi mereka sendiri setidaknya 4300 tahun yang lalu.

Baca juga: Ilmuwan Ungkap Bagaimana Induk Simpanse Berduka Usai Kehilangan Anaknya

Dan teknologi sederhana seperti pemecah kacang adalah pendahulu dari teknologi yang lebih kompleks selama tahap awal evolusi manusia.

Sehingga, dengan memahami seperti apa teknologi alat batu sederhana ini dan bagaimana perbedaan penggunaan antar kelompok, peneliti pun bisa memahami lebih baik catatan arkeologi hominin paling awal.

"Kemampuan untuk mengidentifikasi perbedaan regional dalam budaya bahan alat batu pada primata membuka berbagai kemungkinan untuk studi arkeologi primata di masa depan," ungkap Tomos Proffitt dari Institut Antropologi Evolusi Max Planck yang memimpin penelitian ini.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber PHYSORG
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.