Kompas.com - 11/08/2022, 10:02 WIB

KOMPAS.com - Sekelompok astronom menyebut tengah bersiap memancing sebuah meteorit kecil dari sistem bintang lain, yang pernah menabrak Samudra Pasifik. Mereka berupaya mencari meteorit antarbintang tersebut dengan menggunakan magnet besar.

Meteorit tersebut pernah menghantam Bumi dengan energi yang setara dengan sekitar 121 ton (110 metrik ton) TNT.

Oleh sebab itu, tim dari Harvard University berencana untuk menemukan pecahan batu meteor antarbintang yang dikenal sebagai CNEOS 2014-01-08 ini.

Menurut studi yang dipublikasikan di jurnal pra-cetak ArXiv pada Juli 2022, CNEOS 2014-01-08 pertama kali menghantam Bumi pada 8 Januari 2014 silam.

"Menemukan fragmen seperti itu akan mewakili kontak pertama yang pernah dimiliki umat manusia dengan material yang lebih besar dari debu di luar tata surya," ungkap astrofisikawan di Harvard University sekaligus penulis studi, Amir Siraj.

Dilansir dari Live Science, Rabu (10/8/2022) Siraj mengidentifikasi asal objek antarbintang dalam sebuah studi tahun 2019.

Baca juga: Meteorit Langka Berusia 4,6 Miliar Tahun Ditemukan di Bekas Jejak Kuda

Namun, ia baru mengonfirmasi temuan tersebut kepada U.S. Space Command pada Mei 2022. Dia mengatakan, tidak ada saksi terkait dengan objek, yakni meteorit antarbintang yang pernah menabrak Bumi tersebut.

"Itu (meteorit) menghantam atmosfer sekitar seratus mil (160 kilometer) di lepas pantai Papua Nugini saat tengah malam, dengan sekitar 1 persen energi bom (atom) Hiroshima," ucap Siraj.

Proyek menemukan meteorit

Proyek yang disebut Galileo milik Siraj dan Astrofisikawan Harvard Avi Loeb, merupakan sebuah ekspedisi senilai 1,6 juta US dolar untuk menurunkan magnet yang ukurannya serupa king bed, dengan arah 1,3 derajat selatan, 147,6 derajat timur.

Ini merupakan lokasi tempat meteorit Departemen Pertahanan Amerika Serikat berada.

"CNEOS 2014-01-08 jauh melebihi kekuatan material meteorit besi biasa, yang seharusnya membuatnya lebih mudah untuk dipulihkan," kata Siraj.

Kekuatan material pada meteorit antarbintang ini mengacu pada seberapa mudah sesuatu dapat menahan deformasi atau rusak oleh beban.

Baca juga: Menyibak Jatuhnya Meteorit di Lampung Tengah

Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.