Kompas.com - 02/07/2022, 13:37 WIB
Penulis Lulu Lukyani
|

KOMPAS.com – Difteri adalah infeksi bakteri yang sangat menular. Penyebab difteri adalah bakteri Corynebacterium diphtheriae (C. Diphtheriae).

Difteri biasanya memengaruhi sistem pernapasan atau sistem intergumen. Sistem intergumen ini termasuk tiga lapisan kulit hipodermis, dermis, dan epidermis, serta kelenjar kuku dan dan rambut.

Dilansir dari Medical News Today, beberapa varian bakteri C. Diphtheriae menghasilkan toksin yang disebut eksotoksin. Ini dapat menyebabkan komplikasi difteri yang paling serius.

Sementara itu, varian lain bakteri penyebab difteri tidak menghasilkan toksin sehingga gejala yang dialami penderitanya tidak tergolong parah.

Penyebab difteri

Sebagaimana yang telah disebutkan, penyebab difteri adalah infeksi bakteri C. Diphtheriae. Bakteri ini dapat menyebar melalui tetesan pernapasan dari orang yang terinfeksi atau seseorang yang membawa bakteri, tetapi tidak memiliki gejala.

Baca juga: Mengenal Infeksi Paru-Paru: Proses Infeksi, Gejala, dan Penyebabnya

Mengutip Penn Medicine, bakteri C. Diphtheriae paling sering menginfeksi hidung dan tenggorokan. Dalam beberapa kasus, difteri juga menginfeksi kulit hingga menyebabkan lesi kulit.

Setelah terinfeksi bakteri penyebab difteri, bakteri tersebut akan memproduksi toksin yang menyebar melalui aliran darah ke organ-organ lain, seperti jantung dan otak.

Gejala difteri

Gejala difteri biasanya mulai muncul dua sampai lima hari setelah seseorang terinfeksi. Dilansir dari Mayo Clinic, berikut adalah gejala difteri yang perlu diwaspadai:

  • Selaput tebal berwarna abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel.
  • Sakit tenggorokan.
  • Suara serak.
  • Pembengkakan kelenjar getah bening di leher.
  • Kesulitan bernapas.
  • Keluar cairan dari hidung.
  • Demam dan kedinginan.
  • Kelelahan.

Pada beberapa orang, infeksi bakteri penyebab difteri hanya menimbulkan gejala ringan atau bahkan tanpa gejala yang jelas.

Baca juga: Tuberkulosis atau TBC: Penyebab, Gejala, dan Cara Penularan

Meski demikian, seseorang yang terinfeksi difteri dan tidak mengalami gejala tetap bisa menularkannya pada orang lain.

Cara mencegah difteri

Sebelum antibiotik tersedia, difteri merupakan penyakit yang umum di kalangan anak-anak. Saat ini, difteri tidak hanya bisa diobati, tetapi juga dicegah dengan vaksin.

Vaksin difteri efektif untuk mencegah infeksi difteri. Tetapi, mungkin ada beberapa efek samping ringan, seperti rewel, mengantuk, dan nyeri di tempat suntikan. Komplikasi yang lebih serius akibat vaksin ini, seperti reaksi alergi, sangat jarang terjadi dan tetap bisa diobati.

Konsultasikan pada dokter sebelum membawa anak untuk vaksinasi difteri untuk meminimalisasi risiko efek sampingnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Cuaca Panas Berisiko Tingkatkan Kanker Kulit, Ini Kata Dokter

Cuaca Panas Berisiko Tingkatkan Kanker Kulit, Ini Kata Dokter

Oh Begitu
Bahaya Merokok dalam Rumah, Ini Cara Wujudkan Tempat Tinggal Bebas Asap Rokok

Bahaya Merokok dalam Rumah, Ini Cara Wujudkan Tempat Tinggal Bebas Asap Rokok

Oh Begitu
[POPULER SAINS] Viral Wanita Curi Cokelat di Alfamart | WHO Ganti Nama Cacar Monyet | Cerita Kejahatan di Kehidupan Nyata | Gelombang Tinggi 6 Meter

[POPULER SAINS] Viral Wanita Curi Cokelat di Alfamart | WHO Ganti Nama Cacar Monyet | Cerita Kejahatan di Kehidupan Nyata | Gelombang Tinggi 6 Meter

Oh Begitu
Ilmuwan Deteksi Sambaran Petir Paling Kuat dan Langka, Seperti Apa?

Ilmuwan Deteksi Sambaran Petir Paling Kuat dan Langka, Seperti Apa?

Fenomena
Bantu Ahli Deteksi Potensi Penyakit di Masa Depan, Menkes Budi Luncurkan BGSi

Bantu Ahli Deteksi Potensi Penyakit di Masa Depan, Menkes Budi Luncurkan BGSi

Oh Begitu
Suku Maya Gunakan Abu Kremasi Manusia untuk Bikin Bola Karet, Studi Jelaskan

Suku Maya Gunakan Abu Kremasi Manusia untuk Bikin Bola Karet, Studi Jelaskan

Fenomena
7 Jenis Kura-kura yang Dilindungi di Indonesia

7 Jenis Kura-kura yang Dilindungi di Indonesia

Oh Begitu
Gigitan Tomcat Sebabkan Gatal dan Kulit Melepuh, Ini Cara Mengobatinya

Gigitan Tomcat Sebabkan Gatal dan Kulit Melepuh, Ini Cara Mengobatinya

Oh Begitu
Manfaat Tanaman Porang, dari Bahan Pangan hingga Bahan Baku Industri

Manfaat Tanaman Porang, dari Bahan Pangan hingga Bahan Baku Industri

Oh Begitu
Jupiter Sejajar Bulan Malam Ini, Begini Cara Mengamatinya

Jupiter Sejajar Bulan Malam Ini, Begini Cara Mengamatinya

Fenomena
Overthinking dan Gangguan Kecemasan, Apa Itu dan Bagaimana Cara Mengatasinya?

Overthinking dan Gangguan Kecemasan, Apa Itu dan Bagaimana Cara Mengatasinya?

Kita
Mengenal Terapi Lintah, Bisa Atasi Masalah Kulit hingga Penyakit Sendi

Mengenal Terapi Lintah, Bisa Atasi Masalah Kulit hingga Penyakit Sendi

Oh Begitu
Segudang Manfaat Kopi, Benarkah Bisa Bikin Panjang Umur?

Segudang Manfaat Kopi, Benarkah Bisa Bikin Panjang Umur?

Oh Begitu
Gelombang Tinggi hingga 6 Meter Masih Berpotensi Terjadi di Selatan Jawa

Gelombang Tinggi hingga 6 Meter Masih Berpotensi Terjadi di Selatan Jawa

Oh Begitu
Viral Kasus Wanita Mencuri Cokelat di Alfamart Diduga Kleptomania, Apa Itu?

Viral Kasus Wanita Mencuri Cokelat di Alfamart Diduga Kleptomania, Apa Itu?

Oh Begitu
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.