Kompas.com - 08/11/2021, 08:00 WIB

KOMPAS.com - Para ilmuwan meyakini bahwa ada planet lain yang tampaknya mirip seperti Bumi.

Untuk dapat meneliti hal tersebut, NASA harus memiliki teleskop canggih agar dapat meneliti 160 planet berbatu yang sejauh ini ditemukan dan disebut-sebut sebagai kembaran dari Bumi.

Seperti dilansir dari Live Science, Sabtu (6/11/2021), setiap 10 tahun, National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine merekomendasikan lembaga pemerintah, seperti NASA dan National Science Foundation mengenai tujuan penelitian apa yang harus diprioritaskan para astronom dalam satu dekade mendatang.

Para komite merilis laporan terbaru mereka pada 4 November lalu, dan menyoroti tiga prioritas penelitian utama yaitu:

Baca juga: Pertama Kalinya, Astronom Deteksi Planet di Luar Galaksi Bima Sakti

  • Mendalami sifat lubang hitam dan bintang neutron.
  • Menyelidiki bagaimana galaksi terbentuk dan berevolusi.
  • Mengidentifikasi dunia mirip Bumi yang dapat dihuni maupun tanda-tanda biokimia kehidupan di sistem planet lain.

Mengenai poin terakhir, Fiona Harrison, ahli astrofisika dari Caltech yang ikut memimpin komite tersebut mengatakan, ada peluang di mana para ilmuwan dapat menemukan kehidupan di planet lain.

"Peluang ilmiah yang paling menakjubkan di hadapan kita dalam beberapa dekade mendatang adalah kemungkinan bahwa kita dapat menemukan kehidupan di planet lain yang mengorbit bintang di galaksi Bima Sakti," ujarnya.

Kemudian, para komite menyarankan, bahwa untuk menemukan planet seperti itu, NASA harus membuat teleskop canggih yang bisa mengalahkan teleskop luar angkasa Hubble.

Teleskop tersebut juga harus dilengkapi dengan sensor inframerah, optik, dan ultraviolet. Serta memiliki coronagraph, yaitu pelengkap teleskopik yang dirancang untuk menghalangi cahaya langsung dari bintang sehingga objek terdekat dapat dilihat.

Jika teleskop tidak memenuhi syarat tersebut, maka exoplanet yang redup mungkin dikaburkan oleh cahaya bintang lainnya yang bersinar 10 miliar kali lebih terang daripada mereka.

Pembuatan teleskop mungkin akan menelan biaya sekitar 11 miliar dollar AS (sekitar Rp 157,5 triliun), dan dapat diluncurkan pada awal 2040 mendatang.

Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.