Kompas.com - 22/10/2021, 11:02 WIB
Ahli glasiologi Andrea Fischer dan Martin Stocker-Waldhuber, dari Austrian Academy of Sciences, memeriksa celah di langit-langit rongga gletser alami gletser Jamtalferner dekat Galtuer, Austria. Ekspedisi ilmuwan di gua es di bawah gletser Austria ini mengungkap kisah keruntuhan gletser ini. REUTERS/Lisi NiesnerAhli glasiologi Andrea Fischer dan Martin Stocker-Waldhuber, dari Austrian Academy of Sciences, memeriksa celah di langit-langit rongga gletser alami gletser Jamtalferner dekat Galtuer, Austria. Ekspedisi ilmuwan di gua es di bawah gletser Austria ini mengungkap kisah keruntuhan gletser ini.


KOMPAS.com - Para ilmuwan melakukan penjelajahan di dalam gua-gua es yang ada di bawah gletser Austria, yang berada di kawasan Pegunungan Alpen.

Ekspedisi dilakukan untuk mempelajari mengapa gletser ini mencair lebih cepat dari yang diperkirakan. Selain itu, untuk memahami nasib yang akan menimpa gletser di tempat lain, jika perubahan iklim tidak dihentikan.

Menurut para ilmuwan, seperti dilansir dari Reuters, Kamis (21/10/2021) sudah terlambat untuk menyelamatkan gletser di Pegunungan Alpen timur.

Pasalnya, sekarang pencairan gletser di pegunungan ini telah melewati titik yang tidak bisa kembali dan diperkirakan akan hilang sepenuhnya dalam beberapa dekade mendatang.

Tim ilmuwan menjelajahi setiap sudut gua-gua biru yang berada di bawah gletser terkutuk di  Austria yang diyakini menyimpan petunjuk bagaimana es yang terbentuk selama ribuan tahun dan meleleh selama beberapa dekade, runtuh jauh lebih cepat dari yang diperkirakan.

Dengan mempelajari petunjuk tersebut, para ilmuwan ini meyakini bahwa itu bisa membantu komunitas yang bergantung pada gletser di bagian lain dunia untuk mengelola penurunan mereka dengan lebih baik.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Gletser Darah di Pegunungan Alpen Bisa Jadi Penanda Perubahan Iklim

 

"Kita tidak bisa melakukan apa-apa lagi untuk gletser Alpine (Pegunungan Alpen) timur. Tapi di sini kita bisa melihat apa yang terjadi jika kita tidak melakukan apa-apa untuk gletser lain," kata Andrea Fischer, yang membawa seorang fotografer ke gua-gua di bawah gletser Jamtalferner di Pegunungan Alpen Tyrolean, yang menjulang di atas perbatasan Austria dengan Swiss.

Gletser Jamtalferner adalah salah satu dari 30 gletser terbesar di Austria dan salah satu dari 10 gletser, di mana para ilmuwan melakukan pengukuran yang sangat tepat setiap tahun.

Di gletser ini juga para ilmuwan mendokumentasikan penurunan gletser Pegunungan Alpen yang sekarang tidak dapat diubah.

Lubang-lubang itu mengikis gletser dari dalam, karena udara yang lebih hangat dan air lelehan bersentuhan dengan lebih banyak es, sampai runtuh.

"Lubang-lubang ini adalah tanda khas keruntuhan yang kami amati. Ini juga merupakan alasan mengapa hal itu (keruntuhan gletser di Austria) terjadi begitu cepat, es benar-benar terkikis dan proses ini tidak terlihat dari permukaan, lalu tiba-tiba semuanya meledak," Fischer, penjabat direktur Austrian Academy of Sciences' Institute of Interdisciplinary Mountain Research.

Baca juga: Gletser Pegunungan Alpen Terancam Hilang akibat Perubahan Iklim, Kok Bisa?

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Sumber REUTERS
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Peringatan Dini BMKG: Gelombang Tinggi Ekstrem dan Air Pasang Maksimum di Pesisir

Peringatan Dini BMKG: Gelombang Tinggi Ekstrem dan Air Pasang Maksimum di Pesisir

Fenomena
Banjir Rob di Manado, Ini Daftar Wilayah Berpotensi Gelombang Tinggi Capai 6 Meter

Banjir Rob di Manado, Ini Daftar Wilayah Berpotensi Gelombang Tinggi Capai 6 Meter

Fenomena
Banjir Rob di Manado, BMKG Sebut Penyebabnya Air Pasang, Ombak, dan Gelombang Tinggi

Banjir Rob di Manado, BMKG Sebut Penyebabnya Air Pasang, Ombak, dan Gelombang Tinggi

Fenomena
7 Cara Tumbuhan Mempertahankan Diri

7 Cara Tumbuhan Mempertahankan Diri

Oh Begitu
WHO: Dampak Pandemi, Kematian akibat Malaria Naik 69.000 pada 2020

WHO: Dampak Pandemi, Kematian akibat Malaria Naik 69.000 pada 2020

Oh Begitu
5 Manfaat Bermain Video Game yang Terbukti secara Ilmiah

5 Manfaat Bermain Video Game yang Terbukti secara Ilmiah

Oh Begitu
Peneliti di China Ciptakan Plastik Ramah Lingkungan dari Sperma Ikan Salmon

Peneliti di China Ciptakan Plastik Ramah Lingkungan dari Sperma Ikan Salmon

Oh Begitu
5 Hewan yang Bisa Melihat Tanpa Mata

5 Hewan yang Bisa Melihat Tanpa Mata

Oh Begitu
Viagra Berpotensi Menjadi Obat untuk Penyakit Alzheimer, Kok Bisa?

Viagra Berpotensi Menjadi Obat untuk Penyakit Alzheimer, Kok Bisa?

Oh Begitu
Ilmuwan Sebut Vaksin Covid-19 Beda Merek Terbukti Tingkatkan Imunitas

Ilmuwan Sebut Vaksin Covid-19 Beda Merek Terbukti Tingkatkan Imunitas

Oh Begitu
Studi: Plankton Bantu Terbentuknya Pegunungan di Bumi, Kok Bisa?

Studi: Plankton Bantu Terbentuknya Pegunungan di Bumi, Kok Bisa?

Fenomena
Epidemiolog Setuju PPKM Level 3 Serentak Dibatalkan, Apa Alasannya?

Epidemiolog Setuju PPKM Level 3 Serentak Dibatalkan, Apa Alasannya?

Kita
[POPULER SAINS] Pandemi Selanjutnya Disebut Lebih Parah dari Covid-19 | Daftar Wilayah Berpotensi Banjir

[POPULER SAINS] Pandemi Selanjutnya Disebut Lebih Parah dari Covid-19 | Daftar Wilayah Berpotensi Banjir

Oh Begitu
Pukul 21.00, Puncak Hujan Meteor Puppid-Velid Hiasi Langit Indonesia

Pukul 21.00, Puncak Hujan Meteor Puppid-Velid Hiasi Langit Indonesia

Oh Begitu
Laporan Awal, Varian Omicron 'Lebih Ringan' Dibanding Varian Delta

Laporan Awal, Varian Omicron "Lebih Ringan" Dibanding Varian Delta

Oh Begitu
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.