Kompas.com - 17/06/2021, 20:45 WIB
Ilustrasi anak makan CreativaImagesIlustrasi anak makan

KOMPAS.com - Efek buruk mengonsumsi makanan olahan atau ultra proses tampaknya memang tak terjadi dalam waktu singkat, sehingga orang seringkali memilih untuk menikmatinya dan mengabaikan dampaknya.

Sebuah studi baru menunjukkan, anak-anak yang mengonsumsi lebih banyak makanan olahan lebih cenderung mengalami kelebihan berat badan atau obesitas saat dewasa.

Melansir CNN, studi baru ini dilakukan selama 17 tahun terhadap lebih dari 9.000 anak-anak Inggris yang lahir pada 1990-an.

Baca juga: Hati-hati, Makanan Ultra-proses Bisa Membuat Sel Menua Lebih Cepat

Para peneliti juga menemukan, bahwa makanan ultra proses, termasuk pizza beku, minuman bersoda, roti yang diproduksi secara massal dan beberapa makanan siap saji menyumbang proporsi yang sangat tinggi dari makanan anak-anak, bahkan lebih dari 60% kalori pada rata-rata.

Dr. Eszter Vamos, dosen klinis senior kedokteran kesehatan masyarakat di Imperial College London dan penulis studi mengatakan, bahwa salah satu hal utama yang ditemukan dalam studi ini adalah hubungan dosis-respons,

"Ini berarti bahwa bukan hanya anak-anak yang makan makanan ultra-proses yang mengalami kenaikan berat badan terburuk, tetapi juga siapa saja yang semakin banyak mengonsumsinya, maka akan semakin buruk ini," kata Vamos.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pemrosesan makanan industri memodifikasi makanan untuk mengubah konsistensi, rasa, warna, dan umur simpannya, menggunakan pergantian mekanis atau kimia untuk membuatnya lebih enak, murah, menarik, dan nyaman – yang mana proses itu tidak terjadi pada makanan rumahan.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal JAMA Pediatrics,pada 14 Juni lalu ini juga menyebut, bahwa makanan ultra proses cenderung lebih padat energi dan lebih miskin nutrisi.

Makanan ultra proses umumnya memiliki kadar gula, garam, dan lemak jenuh yang tinggi, tetapi kadar protein, serat makanan, dan zat gizi mikronya rendah, dan buruknya lagi makanan-makanan itu dipasarkan secara agresif oleh industri makanan. Demikian tulis studi tersebut.

Gunter Kuhnle, seorang profesor nutrisi dan ilmu makanan di University of Reading di Inggris, mengatakan bahwa hubungan antara kesehatan anak dan makanan ultra proses sangat kompleks, dan faktor sosial-ekonomi kemungkinan memainkan peran besar. Dia tidak terlibat dalam penelitian.

"Hasil penelitian ini tidak mengejutkan. Anak-anak yang mengonsumsi banyak makanan ultra proses kemungkinan besar menjadi kurang sehat dan lebih gemuk daripada teman sebayanya dengan asupan yang lebih rendah. Namun interpretasi hasil ini jauh lebih sulit, " kata Kuhnle yang tak terlibat dalam penelitian.

Ia melanjutkan, hasil penelitian ini sangat dikacaukan oleh faktor sosial ekonomi, di mana anak-anak yang tinggal di daerah yang lebih miskin dan dari keluarga dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah, dan status sosial ekonomi yang lebih rendah memiliki asupan makanan ultra proses tertinggi.

Sayangnya, anak-anak ini juga memiliki risiko tertinggi pada obesitas dan kesehatan yang buruk. Hal ini karena, masih ada kesenjangan kesehatan yang cukup besar di Inggris, di mana status sosial-ekonomi merupakan penentu penting kesehatan.

Baca juga: Risiko Penyakit yang Mengintai Anak Obesitas

Halaman:


Sumber CNN
Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X