Kompas.com - 09/05/2021, 12:32 WIB
Ilustrasi berbuka puasa SHUTTERSTOCK/Odua ImagesIlustrasi berbuka puasa

 

KOMPAS.com - Puasa selama bulan suci Ramadhan dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh yang pada akhirnya melindungi tubuh dari infeksi.

Hal ini dikatakan oleh seorang ahli medis Abu Dhabi, Dr Salama Mohamed Al Hosani, dokter spesialis, manajemen operasi kesehatan divisi kantor pusat Perusahaan Layanan Kesehatan Ambulatory (SEHA).

"Saat kami mempertimbangkan dampak Covid-19 di bulan Ramadhan tahun ini, kami juga mempertimbangkan efek puasa dalam menajga kebugaran dan keamanan, serta bagaimana hal itu memengaruhi sistem kekebalan," kata Salama dilansir dari Khaleej Times, Jumat (7/5/2021).

Dia menjelaskan, saat kita berpuasa, tubuh mulai memecah sejumlah sel darah putih yang melawan kekebalan.

Baca juga: Bisakah Orang dengan Gangguan Mental Berpuasa Ramadhan?

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Secara naluriah, tubuh tahu untuk mulai menghemat energi dan salah satu caranya adalah dengan membunuh sel-sel sistem kekebalan yang tua atau rusak.

Ini yang pada akhirnya memicu regenerasi sel baru dan oleh karena itu meningkatkan jumlah sel peningkat kekebalan tubuh.

“Ketika puasa berlangsung selama 13 jam sehari atau lebih, sel-sel dalam tubuh yang mendukung respons imun dan menyerang patogen penyebab penyakit, meninggalkan aliran darah karena kandungan nutrisi menjadi rendah dan berpindah ke sumsum tulang yang padat nutrisi, di mana mereka mulai beregenerasi dan menjadi supercharged," terangnya.

Akibatnya sel-sel dapat melindungi tubuh dari infeksi.

Puasa baik untuk kesehatan mental

Dr Salama mengatakan puasa memiliki efek positif pada kesehatan mental juga.

“Puasa bisa membantu meningkatkan semangat Anda. Meski tampak sulit pada awalnya, tingkat endorfin yang lebih tinggi dilepaskan setelah beberapa hari ketika tubuh telah menyesuaikan diri dengan rutinitas makan dan minum yang baru, memberikan dorongan pada kesehatan mental,” ungkapnya.

Dr Salama menekankan pada pilihan makanan seimbang ketika berbuka puasa.

“Saat berbuka puasa, makanan harus terdiri dari semua kelompok makanan. Ini akan memungkinkan tubuh untuk beralih ke pembakaran lemak untuk sumber energi, bukan glukosa. Ini membantu tubuh mempertahankan massa otot dan mempertahankan berat badan yang stabil. Pola makan yang seimbang juga dapat membantu mengatur kadar gula darah dan kolesterol, membuat diabetes dan tekanan darah tinggi lebih mudah ditangani. Minum banyak air juga penting untuk tetap terhidrasi dan merasa berenergi. Itu juga bisa mencegah Anda makan berlebihan,” katanya.

Baca juga: Apa Itu Self Love? 6 Cara Mencintai Diri Sendiri Menurut Psikolog

Dr Salama menekankan bahwa diet seimbang harus mencakup vitamin dan nutrisi penting, karena dapat meningkatkan kekebalan dan memberikan dukungan dalam memerangi penyakit.

“Mengonsumsi makanan yang salah akan melemahkan sistem kekebalan Anda, membuat Anda lebih rentan terhadap kuman dan virus,” ujarnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X