Kompas.com - 13/11/2020, 09:02 WIB
Lutung Popa, spesies baru monyet asal Myanmar hadapi kepunahan. Hewan ini memiliki ciri unik dengan lingkaran putih di sekitar mata. Thaung Win/BBCLutung Popa, spesies baru monyet asal Myanmar hadapi kepunahan. Hewan ini memiliki ciri unik dengan lingkaran putih di sekitar mata.

KOMPAS.com - Spesies monyet yang sebelumnya tidak ada dalam catatan sains telah ditemukan di hutan terpencil di Myanmar.

Lutung Popa, yang dinamai sesuai dengan tempat asalnya di Gunung Popa, tergolong sangat terancam punah karena jumlahnya hanya sekitar 200 ekor.

Lutung adalah sekelompok monyet pemakan daun yang ditemukan di Asia Tenggara.

Jenis lutung baru itu diidentifikasi dengan bentuk mata yang unik dan bulunya yang berwarna keabu-abuan.

Lutung Popa terancam punah karena kehilangan habitat dan juga perburuan.

Baca juga: Kalajengking Baru Ditemukan, Ilmuwan Ungkap Keberagaman Spesies di Somalia

Para ilmuwan telah lama menduga kemungkinan adanya spesies baru di Myanmar, berdasarkan DNA yang diekstrak dari kotoran monyet liar. Tetapi bukti terkait monyet itu selama ini sulit ditemukan.

Dengan informasi yang terbatas, para ilmuwan beralih ke sampel-sampel yang dikumpulkan sepanjang masa dan tersimpan di museum sejarah alam di London, Leiden, New York, dan Singapura.

Sampel-sampel itu dikumpulkan oleh sejumlah penjelajah di Myanmar, namun belum pernah diperiksa secara rinci.

Para peneliti mengekstraksi DNA lantas mengukur wujud fisik seperti ekor dan panjang telinga, untuk kemudian dibandingkan dengan populasi liar.

Proses ini akhirnya mengungkap keberadaan spesies baru, yakni lutung Popa yang hanya ditemukan di wilayah hutan di bagian tengah Myanmar.

Sebagian besar populasi monyet tersebut tinggal di taman suaka margasatwa di lereng Gunung Popa yang dianggap suci oleh masyarakat setempat.

Lutung Popa, spesies baru monyet asal Myanmar hadapi kepunahan.Thaung Win/BBC Lutung Popa, spesies baru monyet asal Myanmar hadapi kepunahan.

Mendeskripsikan spesies ini secara ilmiah akan membantu pelestariannya, kata Frank Momberg dari kelompok konservasi Flora and Fauna International.

"Lutung Popa, yang baru saja dijelaskan, sudah sangat terancam punah dan menghadapi kepunahan sehingga sangat penting untuk melindungi populasi yang tersisa dan terlibat dengan komunitas lokal serta pemangku kepentingan sektor swasta demi menjaga masa depannya," katanya kepada BBC News.

Hanya ada 200 hingga 250 hewan dari spesies baru ini, yang hidup di empat kelompok populasi yang terisolasi.

Sepanjang 10 tahun terakhir ini, Myanmar telah membuka kolaborasi internasional dengan para ilmuwan.

Keterbukaan ini telah menghasilkan penemuan spesies baru dalam catatan ilmu pengetahuan, termasuk berbagai spesies reptil dan amfibi. Namun, penemuan primata baru jarang terjadi.

Christian Roos dari laboratorium genetika primata di Pusat Primata Jerman di Gottingen, mengatakan hewan tersebut menghadapi ancaman dari hilangnya habitat dan perburuan.

Baca juga: 4 Spesies Kepiting Baru, dari Berbulu Banyak hingga Seperti Perhiasan

"Perburuan adalah masalah besar, tetapi ancaman terbesar adalah habitatnya yang hampir habis dan terus berkurang, mereka terpisah-pisah dan terisolasi akibat perambahan manusia," katanya.

Penemuan tersebut dijelaskan dalam jurnal Zoological Research.

Studi genetik mengungkapkan bahwa lutung Popa (Trachypithecus popa) terpisah dari spesies lain yang diketahui hidup sekitar satu juta tahun yang lalu.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X