3 Faktor Pemicu Meningkatnya Kasus Covid-19 di Klaster Perkantoran

Kompas.com - 27/09/2020, 13:30 WIB
Ilustrasi pasien virus corona, pasien Covid-19 SHUTTERSTOCK/FunKey FactoryIlustrasi pasien virus corona, pasien Covid-19

KOMPAS.com - Kasus Covid-19 yang terjadi di sejumlah kota besar di Indonesia terus meningkat, dan banyak muncul dari klaster-klaster baru di perkantoran

Berdasarkan informasi dari Gugus Tugas Covid-19, penambahan kasus baru infeksi virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 ini memang banyak berasal dari perkantoran atau lingkungan kerja yang disebabkan oleh beberapa hal.

Di antaranya adalah masalah sirkulasi udara yang buruk, kurangnya jaga jarak, dan tidak disiplin dalam penggunaan masker.

Baca juga: Epidemiolog: 10.000 Kematian Covid-19 di Indonesia, Artinya Kita Abai

Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Laksana Tri Handoko menyampaikan bahwa memang saat ini kita sedang menghadapi situasi yang tidak mudah.

Transmisi atau penularan virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 tidak lagi hanya terjadi melalui droplet saja, melainkan juga dicurigai bisa menular melalui benda-benda terkontaminasi maupun melalui udara (airbone).

"Meskipun masih ada beberapa perdebatan terkait ini (penularan melalui udara). Tetapi, setidaknya itu menjadi potensi untuk kita menjaga diri dan antisipasi dari infeksi Covid-19 ini," kata Handoko dalam diskusi daring bertajuk Peningkatan Kualitas Udara Lingkungan Kerja Antisipasi Covid-19, Rabu (23/9/2020).

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Pusat Penelitian Metalurgi dan Material LIPI Nurul Taufiqu Rochman, menambahkan hal-hal terkait persoalan kualitas udara di perkantoran atau lingkungan kerja, yang menyebabkan meningkatnya kasus infeksi Covid-19.

1. Penyebaran virus melalui udara

Nurul menjelaskan, Covid-19 pada kasus tertentu dapat menimbulkan penyakit berat pada manusia seperti pneumonia, gagal ginjal hingga sindrom pernapasan akut yang menyebabkan kematian.

"Hal itu bisa terjadi dari penularan droplet dan aerosol yang mengandung virus pada hidung atau mulut dari orang yang terjangkit melalui udara, saat ia batuk atau bersin," ujarnya.

Nurul menegaskan, hasil dari droplet yang mengandung virus, mampu menempel pada permukaan benda dan bertahan selama 2-3 hari.

"Selain itu, virus juga dapat berada pada udara (airbone)," ucap dia.

Ironisnya, partikel aerosol yang berukuran kurang dari 5 mikro mampu menyebar di udara dalam waktu sekitar 3-8 jam.

Dengan demikian, orang yang rentan dapat terinfeksi bila menghirup aerosol yang  mengandung virus.

"Faktor ini dapat diperparah oleh kualitas udara pada lingkungan tersebut," jelasnya.

Apalagi, lingkungan kerja atau ruang kerja di perkantoran merupakan ruangan tertutup, tidak ada ventilasi yang baik, tidak cukup cahaya matahari, dan dilengkapi dengan AC.

Hal ini membuat aerosol yang mengandung virus terperangkap di ruangan tersebut.

Berbeda dengan lingkungan kerja di luar ruangan, di mana sirkulasi udara lebih baik.

Baca juga: 10.000 Kematian Covid-19, Ahli Perkirakan Total Bisa 3 Kali Lipat

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X