Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menengok Pendekatan Kultural dalam Pencegahan Pandemi Tahun 1920

Kompas.com - 12/08/2020, 18:31 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Narasi dalam buku ini dimulai dari pertemuan dua tokoh cerita, si Pandjang dan si Gendoet, di jalan. Pada halaman pertama sebuah percakapan dimulai dari dialog antara dua tokoh ini dan si Gendoet yang kemudian mulai menceritakan apa yang dia lihat di sebuah desa yang dia lewati.

Pandjang: ,,Abang Gendoet ! Datang dari mana? Soedah lama sekali tidak kelihatan."

Gendoet: ,,Saja baharoe datang dari kampoeng Tamboen-Toelang.
Wah, Pandjang ! Terlaloe soesahnja orang-orang dikampoeng itoe!
Kampoengnja didiami penjakit besar, jang dinamai orang INFLUENZA, serdadoenja Demam dengan Batoek. Hampir tiada ada orang jang bangoen, semoeanja bergelimpangan.
Ach, iba hati kita mendengar ratap tangis orang disitoe. Soedah hampir waktoe bertanam padi, tiba-tiba anak negeri diserang oleh tentera Bangsat INFLUENZA, diikatnja kaki tangan mereka itoe.

Dalam kutipan percakapan tersebut, deskripsi betapa berbahayanya penyakit influenza tergambar dengan jelas melalui cerita si Gendoet.

Cerita pun berlanjut dengan Kepala Desa Tambun-Toelang, Datoek Bentara, yang pusing dan mulai bingung bagaimana cara menanggulangi penyebaran wabah influenza ini. Sampai-sampai, Kepala Desa tersebut membuat semacam sayembara, barangsiapa yang berhasil menghilangkan bahaya influenza ini boleh menikahi anak gadisnya.

Mendengar berita itu, si Pandjang pun pada akhirnya pergi menemui engkoe Dokter dan meminta nasihat bagaimana cara menghadapi wabah influenza ini. Singkat cerita, si Pandjang berhasil mendapat “Tangkal wasiat” dari Engkoe Dokter tersebut dengan syarat, jika dia berhasil nanti, dia harus menyebarkan isi dari Tangkal Wasiat itu di depan orang banyak.

Dengan percaya diri, dia pun pergi ke Desa Tamboen-Toelang yang mulai mendirikan semacam gugus tugas pada masa kini. Di dalam cerita itu, gugus tugasnya terdiri dari para helper atau penolong.

Di akhir cerita, dikisahkan bahwa si Pandjang berhasil menanggulangi wabah influenza di desa itu. Dia pun kemudian memperistri anak kepala desa.

Pada hari pernikahannya, dia pun berdiri di hadapan para undangan yang hadir serta seluruh warga Desa Tamboen-Toelang. Di hadapan mereka semua, dia menyampaikan isi “Tangkal Wasiat” yang dia dapat Engkoe Dokter, sebagai berikut:

Awas! Penjakit Influenza terbitan Balai Pustaka (1920), Author provided Di hadapan para undangan, si Pandjang menyampaikan isi “Tangkal Wasiat” yang dia dapat Engkoe Dokter.

Kata si Pandjang:
1. Penjakit INFLUENZA menimboelkan demam dan batoek.
2. Penjakit INFLUENZA menoelar.
3. Penjakit INFLUENZA dipindahkan oleh aboe tanah (leboe) jang dibawa angin.
4. Hati-hati djangan memboeat aboe!
5. Orang jang sakit demam dan batoek mesti tinggal didalam bilik, tidoer ditempat tidoer, atau dibalai-balai. Badannja diselimoeti dengan selimoet, kepalanja dikompres. Tidak boleh mandi.
6. Jang boleh dimakan hanja: boeboer, teloer, soesoe, sajoer menir (tidak berkelapa, tJdak bertjabe (lada) dan tidak berasam), soep atau kaldoe.
7. Mesti minoem-air jang soedah dimasak. Baik minoem air the jang hangat.
8. Didalam lima hari minoem tablet Bandoeng; oentoek orang toea: siang 3 dan malam 3 poela.
9. Batoeknja boleh dihilangkan dengan obat batoek.
10. Kalau soedah ada seminggoe, dan badannja ditimbang soedah koeat, boleh keloear dari rumah, tetapi tidak boleh boeka badjoe,
11. Baik menoeroet atoeran doktor, jang didjalankan oleh doktor sendiri atau oleh wakilnja, jaitoe: Verpleger, Helper, Distributeur, Wdono atau Polisi desa.

DJAGA BAIK_BAIK! DJANGAN LOEPA!

Pesan si Pandjang di depan khalayak ramai ini sekaligus mengakhiri cerita narasi yang diterbitkan Balai Pustaka.

Ditulis dengan sangat ringan, narasi ini menunjukkan bahwa komunikasi yang efektif dan tepat sasar menjadi salah satu faktor kunci dalam penanggulangan pandemi. Penerbitan ini dilakukan agar dapat dibaca dan dipahami oleh orang banyak. Semakin banyak yang dapat memahami, semakin efektif langkah-langkah penanggulangan dapat dilakukan.

Memang, beberapa sejarawan pandemi mengatakan bahwa penerbitan yang dilakukan oleh Balai Pustaka melalui komisi Influenza bentukan pemerintah Hindia Belanda ini dirasa sangat terlambat karena berjarak dua tahun sejak munculnya flu Spanyol pada masa itu.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com