Demi Udara Sehat Jakarta Jangan Izinkan Pembangunan Pembangkit Listrik, Kenapa?

Kompas.com - 12/08/2020, 18:02 WIB
Suasana gedung bertingkat yang terlihat samar karena kabut polusi di Jakarta Pusat, Senin (8/7/2019). Kualitas udara di DKI Jakarta memburuk pada tahun ini dibandingkan tahun 2018. Prediksi ini berdasarkan pengukuran PM 2,5 atau partikel halus di udara yang berukuran lebih kecil dari 2,5 mikron (mikrometer). KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGSuasana gedung bertingkat yang terlihat samar karena kabut polusi di Jakarta Pusat, Senin (8/7/2019). Kualitas udara di DKI Jakarta memburuk pada tahun ini dibandingkan tahun 2018. Prediksi ini berdasarkan pengukuran PM 2,5 atau partikel halus di udara yang berukuran lebih kecil dari 2,5 mikron (mikrometer).


KOMPAS.com- Para peneliti mengingatkan agar tidak mudah memberikan perizinan terhadap pembuatan pembangkit listrik tenaga fosil yang baru di daerah sekitar Jakarta.

Hal ini disampaikan oleh analis Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA), Isabella Suarez berdasarkan hasil penelitian dan pemantauan kualitas udara di Jakarta yang cukup signifikan bertahan dalam puncak kualitas sedang hingga tidak sehat dalam kurun waktu empat tahun.

"Kita berharap untuk dapat menanggapi masalah ini dengan baik, menyediakan pembangkit listrik yang berkualitas dan juga sustainable ( pembangunan berkelanjutan) untuk masa depan," kata Isabella dalam diskusi daring bertajuk Polusi Lintas Batas: Darimana Asal Kerumunan Gas Beracun di Kota Jakarta?, Selasa (11/8/2020).

Baca juga: Sumber Utama Polusi Udara Jakarta Ternyata Bukan Transportasi, Kok Bisa?

Untuk diketahui, pada periode tahun 2020 ini, data dari Januari hingga Mei ternyata menunjukkan untuk kali pertama dalam empat tahun, tidak ada satu hari pun yang memiliki kualitas udara yang baik atau sehat.

Setelah sebelumnya, terdapat 40 hari dengan kualitas udara yang sehat pada tahun 2017, 25 hari kualitas udara sehat pada tahun 2018, dan 8 hari kualitas udara sehat pada tahun 2019 di Kota Jakarta.

Isabella memaparkan ada alasan yang seharusnya dijadikan pertimbangan oleh para pemangku kebijakan untuk tidak memberikan izin pembangunan industri penghasil limbah ataupun pembangkit listrik tenaga fosil di sekitar Jakarta.

Kendaraan bermotor melintasi Jl. Prof. Dr. Satrio, Karet Kuningan, Jakarta Pusat, Kamis (1/8/2019). Berdasarkan data situs penyedia peta polusi daring harian kota-kota besar di dunia AirVisual, menempatkan Jakarta pada urutan pertama kota terpolusi sedunia pada Senin (29/7) pagi dengan kualitas udara mencapai 183 atau dalam kategori tidak sehat.KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG Kendaraan bermotor melintasi Jl. Prof. Dr. Satrio, Karet Kuningan, Jakarta Pusat, Kamis (1/8/2019). Berdasarkan data situs penyedia peta polusi daring harian kota-kota besar di dunia AirVisual, menempatkan Jakarta pada urutan pertama kota terpolusi sedunia pada Senin (29/7) pagi dengan kualitas udara mencapai 183 atau dalam kategori tidak sehat.

Baca juga: PSBB Transisi Jakarta Nomor Dua Penyumbang Polusi Udara Dunia, Kok Bisa?

1. Polusi udara di Jakarta dari lintas batas

Isabella menuturkan sumber emisi tidak bergerak sebagai pencemaran udara lintas batas yang terjadi di ruang udara Jakarta itu bisa berasal dari pembangkit listrik batu bara, pabrik, dan fasilitas industri lainnya.

Dengan kata lain, ruang udara Jakarta yang didominasi dengan partikel tercemar itu juga merupakan akibat dari aktivitas sumber emisi gas beracun di wilayah lain tetap beroperasi.

Dalam pemantauan CREA, sumber emisi di sejumlah daerah oleh faktor meteorologis seperti angin akan membawa dan sering memengaruhi kualitas udara di Jakarta menjadi tidak sehat.

Di antara daerah yang berpengaruh itu seperti Tangerang, Bogor, Depok, Bekasi, Puncak dan Cianjur, bahkan meluas hingga Sumatera Selatan, Lampung dan Jawa Tengah.

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X