Kompas.com - 11/08/2020, 16:02 WIB
Ilustrasi badai petir memicu serangan asma. Peneliti menemukan jumlah pasien asma di UGD mengalami peningkatan sebelum badai terjadi. SHUTTERSTOCK/John D SirlinIlustrasi badai petir memicu serangan asma. Peneliti menemukan jumlah pasien asma di UGD mengalami peningkatan sebelum badai terjadi.


KOMPAS.com - Bagi penderita penyakit asma, sepertinya harus waspada dengan kemungkinan dampak yang ditimbulkan dari badai petir.

Sebuah penelitian yang diterbitkan di JAMA Internal Medicine, Senin (10/8/2020), mengungkapkan selama hari-hari sebelum badai besar melanda, kunjungan unit gawat darurat di rumah sakit untuk manula meningkat.

Pasien sebagian besar menderita asma dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).

Kendati penelitian tersebut menggunakan data Medicare untuk pasien lanjut usia, berusia 65 tahun ke atas, namun ternyata dampaknya sama bahayanya bagi pasien yang lebih muda dengan penyakit pernapasan yang parah.

Baca juga: Kekurangan Vitamin D, Anak Berisiko Asma hingga Dermatitis Atopik, Kok Bisa?

 

Hal itu disampaikan penulis studi Dr. Anupam Jena, profesor Health Care Policy di Harvard Medical School, seperti dikutip dari CNN, Selasa (11/8/2020).

"Ini pasti juga berdampak pada anak-anak dan orang dewasa muda dengan asma," kata Jena.

Dia menambahkan pihaknya hanya memerlukan data spesifik yang disediakan Mediacare, sehingga peneliti dapat membandingkan tingkat rawat inap dengan pola cuaca di daerah kecil.

Studi tersebut menemukan kunjungan di UGD mencapai puncaknya sehari sebelum badai, dengan rata-rata 1,8 kunjungan tambahan per juta penerima manfaat.

Baca juga: Risiko Infeksi Virus Corona pada Penderita Asma, Perlukah Khawatir?

"Kunjungan itu bukan selama badai petir saat turun hujan. Tapi setelah badai usai, kami melihat tingkat kunjungan ke UGD menurun," ungkap Jena.

Fenomena badai asma

Fenomena yang kemudian disebut "thunderstorm asthma" ini pertama kali dicatat di Birmingham, Inggris pada tahun 1983 dan di Melbourne, Australia pada tahun 1987.

Pada saat itu, gelombang serangan asma yang meluas tampaknya terkait dengan badai petir yang dahsyat selama tingginya jumlah serbuk sari.

Ilustrasi serangan asmaShutterstock Ilustrasi serangan asma

Kejadian itu kembali terulang di Melbourne pada tahun 2016 dan menewaskan delapan orang, serta membuat sekitar 8.000 orang harus dirawat di UGD. Namun, tidak ada yang mengerti mengapa fenomena ini terjadi, sebab hujan biasanya akan membersihkan serbuk sari dari udara.

Selain itu, ukuran spora rye pollen di wilayah Melbourne terlalu besar untuk dapat dihirup dengan mudah dan umumnya akan bersarang di sinus sebelum mencapai paru-paru.

Lantas, bagaimana badai petir bisa memicu serangan asma?

Peneliti dari University of Georgia mempelajari peristiwa yang terjadi di Australia, mereka menemukan aliran udara dingin di dalam badai mengirim jamur dan serbuk sari mencapai awan, di mana tingkat kelembaban dan pencahayaan memecah spora.

Baca juga: Virus Corona Covid-19 Memperparah Asma, Ini yang Perlu Diketahui

Selanjutnya, pecahan itu kembali ke daratan dalam ukuran yang lebih kecil, partikel itu kemudian dapat melewati hidung dan sinus menuju ke dalam paru-paru.

"Dalam penelitian ini, kami menemukan serbuk sari tidak naik pada hari-hari sebelum badai, yang kemudian membuatnya aneh untuk membuat rawat inap meningkat akibat serbuk sari," kata Jena.

Studi sebelumnya juga menunjukkan bahwa kenaikan suhu yang cepat dapat memicu masalah pernapasan yang diamati pada hari-hari sebelum badai petir.

Lebih lanjut studi yang dilakukan Jena mencoba menganalisis klaim asuransi Medicare untuk kunjungan UGD yang terkait dengan gangguan pernapasan akut antara Januari 1999 dan Desember 2012.

 

Selanjutnya, membandingkan data itu dengan data atmosfer dan petir di National Oceanic and Atmospheric Administration untuk setiap wilayah di Amerika Serikat.

"Kami menemukan kunjungan ER meningkat pada hari-hari jelang badai petir ketika suhu naik dan jumlah partikel di udara mulai meningkat," kata Jena.

Pada partikel debu, kotoran dan asap berukuran lebih besar, tetapi ada juga partikel yang sangat kecil dan dapat terhirup, disebut PM 2,5 karena ukurannya umumnya 2,5 mikrometer atau kurang.

Baca juga: Asma, Penyakit Tidak Menular yang Paling Banyak Diidap Orang Indonesia

Partikulat adalah campuran dari materi padat dan cair yang ditemukan di udara. Partikulat ini dapat masuk ke dalam paru-paru dan merusak fungsi organ paru, serta tubuh kita.

Menurut National Weather Service, berbagai aspek cuaca seperti suhu yang lebih tinggi, hujan, kecepatan angin, turbulensi udara hingga sinar matahari dapat memengaruhi tingkat partikulat.

"Jadi, jika Anda tahu badai akan datang, berhati-hatilah (dari serangan asma) seperti saat jumlah serbuk sari tinggi," saran Jena.



Sumber CNN
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X