Banyak Hewan Terancam Punah, Kenapa Ilmuwan Pilih Selamatkan Parasit?

Kompas.com - 08/08/2020, 19:02 WIB
Kutu merupakan salah satu kelompok parasit penghisap darah. sciencealertKutu merupakan salah satu kelompok parasit penghisap darah.

KOMPAS.com - Ada banyak hewan yang membutuhkan bantuan konservasi. Sebut saja Panda, koala, harimau, paus, dan masih banyak lagi.

Namun, baru-baru ini ilmuwan justru meminta kita untuk memberi perhatian pada kelompok parasit.

Seperti dilansir dari Science Alert, Jumat (7/8/2020) meski dianggap monster penghisap darah, merugikan inangnya, dan dianggap tak perlu dilindungi, parasit juga memiliki peran ekologis yang sangat signifikan.

Baca juga: Berusia 500 Juta Tahun, Inilah Fosil Parasit Paling Awal di Bumi

Parasit memengaruhi kelangsungan hidup dan reproduksi banyak spesies inang serta membentuk hubungan penting di seluruh rantai makanan. Seperti misalnya mengatur populasi satwa liar yang terus berkembang biak.

Namun sayangnya, hanya sekitar 10 persen parasit saja yang telah diidentifikasi. Akibatnya sebagain besar ditinggalkan dari kegiatan konservasi dan penelitian.

"Parasit adalah kelompok spesies yang sangat beragam. Tetapi kita tidak menganggap keanekaragaman itu sebagai sesuatu yang berharga," papar Chelsea Wood, ahli ekologi dari Univerity of Washington.

Untuk itu, tim ilmuwan pun berencana membuat konservasi parasit global. Dalam sebuah makalah, tim ilmuwan internasional mengusulkan 12 tujuan yang dapat memajukan konservasi keanekaragaman hayati melalui campuran penelitian, advokasi, dan pengelolan.

Baca juga: Kamasutra Satwa: Anglerfish Jantan Gigit Tubuh Betina, Jadi Parasit untuk Selamanya

"Meskipun kami tak tahu banyak tentang sebagaian besar spesies parasit, kami masih dapat mengambul tindakan sekarang untuk melestarikan keanekaragaman hayati parasit," ungkap Skylar Hopkins, salah satu penulis makalah mengenai parasit ini.

Lebih lanjut, para ilmuwan punya tujuan ambisius untuk mendeskripsikan setengah dari parasit dunia dalam 10 tahun ke depan.

Pemberian deskripsi tersebut merupakan bagia penting dari proses konservasi. Sebab saat spesies tak memiliki nama, kita tak bisa menyelamatkan mereka.

Namun ia menekankan bahwa tidak ada parasit yang menginfeksi manusia atau hewan peliharaan yang termasuk dalam rencana konservasi mereka.

Makalah telah diterbitkan di Biological Conservation.


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

NASA akan Kirim Astronot Perempuan Pertama ke Bulan pada 2024

NASA akan Kirim Astronot Perempuan Pertama ke Bulan pada 2024

Oh Begitu
Ahli Ciptakan Peti Mati Ramah Lingkungan, Seperti Apa?

Ahli Ciptakan Peti Mati Ramah Lingkungan, Seperti Apa?

Oh Begitu
Ahli Sarankan Deteksi Pembawa 2 Mutasi Genetik Virus Corona, Kenapa?

Ahli Sarankan Deteksi Pembawa 2 Mutasi Genetik Virus Corona, Kenapa?

Oh Begitu
BMKG: Warga Harus Akhiri Kepanikan Potensi Tsunami dan Gempa Megathrust

BMKG: Warga Harus Akhiri Kepanikan Potensi Tsunami dan Gempa Megathrust

Fenomena
BMKG: Waspada Cuaca Ekstrem 3 Hari ke Depan, Ini Daftar Wilayahnya

BMKG: Waspada Cuaca Ekstrem 3 Hari ke Depan, Ini Daftar Wilayahnya

Oh Begitu
Zona Sepi Gempa dan Potensi Tsunami 20 Meter di Selatan Jawa, Begini Kata Ahli

Zona Sepi Gempa dan Potensi Tsunami 20 Meter di Selatan Jawa, Begini Kata Ahli

Oh Begitu
BMKG: Skema Mitigasi 20-20-20 Masih Relevan untuk Mitigasi Tsunami Selatan Jawa

BMKG: Skema Mitigasi 20-20-20 Masih Relevan untuk Mitigasi Tsunami Selatan Jawa

Fenomena
Makan Terlalu Banyak, Ini Penjelasan dari Alasan Makan Berlebihan hingga Akibatnya

Makan Terlalu Banyak, Ini Penjelasan dari Alasan Makan Berlebihan hingga Akibatnya

Kita
3 Faktor Pemicu Meningkatnya Kasus Covid-19 di Klaster Perkantoran

3 Faktor Pemicu Meningkatnya Kasus Covid-19 di Klaster Perkantoran

Kita
Mirip Paus Pembunuh, Dinosaurus Ini Ternyata Predator Laut Zaman Jurassic

Mirip Paus Pembunuh, Dinosaurus Ini Ternyata Predator Laut Zaman Jurassic

Fenomena
IOWave20 Latihan Mitigasi Tsunami, BMKG Target Sesuaikan SOP dan Kondisi Pandemi

IOWave20 Latihan Mitigasi Tsunami, BMKG Target Sesuaikan SOP dan Kondisi Pandemi

Oh Begitu
Hackathon Diluncurkan di Indonesia, Kesempatan Berinovasi Energi Terbarukan

Hackathon Diluncurkan di Indonesia, Kesempatan Berinovasi Energi Terbarukan

Kita
10 Cara Alami Menurunkan Darah Tinggi Tanpa Obat

10 Cara Alami Menurunkan Darah Tinggi Tanpa Obat

Kita
Termasuk Mamalia, Paus Berparuh Bisa Tahan Napas Lebih dari 3 Jam

Termasuk Mamalia, Paus Berparuh Bisa Tahan Napas Lebih dari 3 Jam

Oh Begitu
Logam Berusia 1.000 Tahun untuk Baja Tahan Karat Ditemukan di Iran

Logam Berusia 1.000 Tahun untuk Baja Tahan Karat Ditemukan di Iran

Oh Begitu
komentar
Close Ads X