Ahli Kini Tahu Alasan Perubahan Warna Kulit pada Pasien Covid-19

Kompas.com - 08/08/2020, 13:01 WIB
Ilustrasi pasien Covid-19, angka kasus Covid-19 Amerika Serikat. SHUTTERSTOCKIlustrasi pasien Covid-19, angka kasus Covid-19 Amerika Serikat.

KOMPAS.com - Beberapa pasien Covid-19 dengan kondisi parah memiliki ruam dan lesi di sekitar kaki. Temuan terbaru menunjukkan, ruam dan lesi itu menandakan adanya pembekuan darah yang bisa memicu kondisi kesehatan yang fatal.

Dalam makalah yang terbit di jurnal JAMA Dermatology, Rabu (5/8/2020), para peneliti mengamati empat pasien Covid-19 dengan kondisi parah di New York. Keempat pasien ini diinkubasi dan mengalami komplikasi kulit.

Semua pasien mengalami acral fixed livingo racemosa atau kulit berubah warna, kadang kulit pecah pada ekstremitas. Selain itu, pasien juga mengalami retiform purpura, yakni lesi kulit tidak merata yang disebabkan sel darah merah bocor ke dalam kulit.

Menurut para peneliti dari New York-Presbyterian/Weill Cornell Medical College, kedua komplikasi tersebut adalah manifestasi khas dari pembekuan darah di kulit.

Baca juga: Tak Hanya Lesi Keunguan, Ruam Kulit Lainnya Bisa Jadi Gejala Covid-19

Kendati semua pasien menerima terapi untuk membantu mencegah penggumpalan darah, tapi penggumpalan darah di kulit terus berkembang dan dianggap memiliki emboli paru atau penyumbatan arteri di paru-paru.

Dilansir Science Alert, Sabtu (8/8/2020), para peneliti tidak dapat mengidentifikasi secara tepat kapan ruam itu pertama kali muncul. Mereka tidak melakukan pencitraan jensi apapun untuk menghindari paparan virus SARS-CoV-2.

Meski demikian, temuan ini menjadi pelajaran pentung bagi profesional di bidang kesehatan bahwa manifestasi kulit merupakan petunjuk adanya pembekuan darah abnormal.

Kondisi ini pun dikhawatirkan dapat memicu stroke, serangan jantung, emboli paru, dan komplikasi lain yang berpotensi fatal.

Daftar manifestasi akibat virus corona SARS-CoV-2 terus bertambah

Makalah ini jauh dari laporan pertama yang mencatat bahwa virus corona dapat menyebabkan komplikasi pada kulit pasien, seperti menimbulkan lesi ungu dan jari kaki bengkak.

Dalam grup Facebook untuk pasien dan penyintas virus corona, orang-orang melaporkan kulitnya mengalami lepuh berisi cairan, ruam di sekujur tubuh, gatal-gatal, bintik merah dan ungu, bercak kulit yang terbakar, cacar air seperti benjolan, dan banyak lagi.

Dalam beberapa kasus ini, perubahan kulit mungkin disebabkan oleh pembekuan darah di pembuluh darah kecil di kulit.

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

NASA akan Kirim Astronot Perempuan Pertama ke Bulan pada 2024

NASA akan Kirim Astronot Perempuan Pertama ke Bulan pada 2024

Oh Begitu
Ahli Ciptakan Peti Mati Ramah Lingkungan, Seperti Apa?

Ahli Ciptakan Peti Mati Ramah Lingkungan, Seperti Apa?

Oh Begitu
Ahli Sarankan Deteksi Pembawa 2 Mutasi Genetik Virus Corona, Kenapa?

Ahli Sarankan Deteksi Pembawa 2 Mutasi Genetik Virus Corona, Kenapa?

Oh Begitu
BMKG: Warga Harus Akhiri Kepanikan Potensi Tsunami dan Gempa Megathrust

BMKG: Warga Harus Akhiri Kepanikan Potensi Tsunami dan Gempa Megathrust

Fenomena
BMKG: Waspada Cuaca Ekstrem 3 Hari ke Depan, Ini Daftar Wilayahnya

BMKG: Waspada Cuaca Ekstrem 3 Hari ke Depan, Ini Daftar Wilayahnya

Oh Begitu
Zona Sepi Gempa dan Potensi Tsunami 20 Meter di Selatan Jawa, Begini Kata Ahli

Zona Sepi Gempa dan Potensi Tsunami 20 Meter di Selatan Jawa, Begini Kata Ahli

Oh Begitu
BMKG: Skema Mitigasi 20-20-20 Masih Relevan untuk Mitigasi Tsunami Selatan Jawa

BMKG: Skema Mitigasi 20-20-20 Masih Relevan untuk Mitigasi Tsunami Selatan Jawa

Fenomena
Makan Terlalu Banyak, Ini Penjelasan dari Alasan Makan Berlebihan hingga Akibatnya

Makan Terlalu Banyak, Ini Penjelasan dari Alasan Makan Berlebihan hingga Akibatnya

Kita
3 Faktor Pemicu Meningkatnya Kasus Covid-19 di Klaster Perkantoran

3 Faktor Pemicu Meningkatnya Kasus Covid-19 di Klaster Perkantoran

Kita
Mirip Paus Pembunuh, Dinosaurus Ini Ternyata Predator Laut Zaman Jurassic

Mirip Paus Pembunuh, Dinosaurus Ini Ternyata Predator Laut Zaman Jurassic

Fenomena
IOWave20 Latihan Mitigasi Tsunami, BMKG Target Sesuaikan SOP dan Kondisi Pandemi

IOWave20 Latihan Mitigasi Tsunami, BMKG Target Sesuaikan SOP dan Kondisi Pandemi

Oh Begitu
Hackathon Diluncurkan di Indonesia, Kesempatan Berinovasi Energi Terbarukan

Hackathon Diluncurkan di Indonesia, Kesempatan Berinovasi Energi Terbarukan

Kita
10 Cara Alami Menurunkan Darah Tinggi Tanpa Obat

10 Cara Alami Menurunkan Darah Tinggi Tanpa Obat

Kita
Termasuk Mamalia, Paus Berparuh Bisa Tahan Napas Lebih dari 3 Jam

Termasuk Mamalia, Paus Berparuh Bisa Tahan Napas Lebih dari 3 Jam

Oh Begitu
Logam Berusia 1.000 Tahun untuk Baja Tahan Karat Ditemukan di Iran

Logam Berusia 1.000 Tahun untuk Baja Tahan Karat Ditemukan di Iran

Oh Begitu
komentar
Close Ads X