Hadapi Pandemi Corona, Pemerintah Juga Fokus ke Eliminasi Malaria 2030

Kompas.com - 27/04/2020, 11:03 WIB
Nyamuk Anopheles stephensi memperoleh makanan darah dari inang manusia melalui belalainya. Nyamuk ini adalah vektor malaria yang tersebar dari Mesir hingga China. Jim Gathany/CDCNyamuk Anopheles stephensi memperoleh makanan darah dari inang manusia melalui belalainya. Nyamuk ini adalah vektor malaria yang tersebar dari Mesir hingga China.

KOMPAS.com - Di tengah pandemi Covid-19 yang melanda dunia termasuk Indonesia saat ini, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Indonesia tidak mengendorkan target eliminasi malaria pada tahun 2030.

Pada tahun 2020 ini, pemerintah telah menerapkan berbagai upaya untuk mencegah penyebaran transmisi virus corona SARS-CoV-2 yang menjadi penyebab Covid-19 di Indonesia.

Upaya yang dilakukan berupa physical distancing, karantina mandiri, dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dianggap berpengaruh terhadap upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit-penyakit lain termasuk malaria.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektordan Zoonosis, dr Siti Nadia Tarmizi, M.Epid mengatakan bahwa malaria merupakan salah satu penyakit menular yang berdampak kepada penurunan kualitas sumber daya manusia.

Baca juga: Gejalanya Mirip, Begini Prosedur Diagnosis Malaria di Tengah Pandemi Corona

Selain itu, malaria juga dapat menimbulkan berbagai masalah sosial dan ekonomi, bahan berpengaruh terhadap ketahanan nasional.

"Penyebaran malaria tidak mengenal batas wilayah administrasi, maka membebaskan masyarakat dari malaria (eliminasi malaria) memerlukan komitmen global, regional dan nasional," kata Nadia.

Nadia menyebutkan, kendati penanganan Covid-19 masih terus berjalan tetapi sejak awal pemerintah mentargetkan pada tahun 2024 akan ada sebanak 405 kabupaten atau kota mencapai eliminasi malaria.

Sementara, periode 2020-2024 merupaan periode penting dan menentukan dalam upaya menapai Indonesia Bebs Malaria tahun 2030.

Oleh sebab itu, upaya mencapai target Eliminasi Malaria Nasional tahun 2030, didahului dengan tahapan pencapaian daerah bebas malaria tingkat provinsi, setelah seluruh kabupaten atau kota mencapai daerah bebas malaria.

"Dalam wilayah regional Jawa-Bali sebagian besar kabupaten atau kota telah mencapai eliminasi malaria," ujar dia.

Untuk diketahui, prosedur protokol pemeriksaan aau diganostik untuk pasien malaria saat ini dilakukan sesuai dengan protokol pencegahan Covid-19. Hal ini dilakukan karena malaria dan Covid-19 memiliki gejala yang hampi mirip. Seperti demam, sakit kepala dan nyeri otot.

Baca juga: Parasit Malaria Kebal Obat, Berpotensi Picu Darurat Kesehatan Dunia

Petugas kesehatan akan menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) untuk Covid-19. Masyarakat atau pasien harus menggunakan masker, cuci tangan pakai sabun dan melakukan himbauan lainnya sesuai pencegahan Covid-19.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X