Kompas.com - 09/03/2020, 19:02 WIB
Tamu hotel terlihat memakai masker di Hotel Shangrila’s Rasa Sentosa Resort and Spa di Pulau Sentosa, Singapura. Hotel ini ditinggali oleh korban pertama di Singapura yang terinfeksi virus corona. ST PHOTO/TIMOTHY DAVIDTamu hotel terlihat memakai masker di Hotel Shangrila’s Rasa Sentosa Resort and Spa di Pulau Sentosa, Singapura. Hotel ini ditinggali oleh korban pertama di Singapura yang terinfeksi virus corona.

KOMPAS.com – Tiap negara memiliki cara penanganan masing-masing berkaitan dengan kasus Covid-19. Singapura misalnya, dipuji banyak pihak sebagai negara yang tanggap menangani kasus pandemik tersebut.

Empat orang ahli epidemiologi Marc Lipstich dari Harvard TH Chan School of Public Health pernah menyebutkan bahwa pendekatan Singapura terhadap deteksi virus SARS-CoV-2 merupakan yang terbaik, disebut sebagai "gold standard".

Studi tersebut, seperti dilansir dari Asia News Network pada Rabu (19/2/2020), menyebutkan bahwa apabila negara-negara di dunia memiliki alat deteksi virus SARS-CoV-2 layaknya Singapura, mungkin jumlah penderitaya sudah 2,8 kali lebih banyak dari sekarang.

Baca juga: Ahli Harvard Sebut Singapura Terbaik dalam Deteksi SARS-CoV-2

Sementara itu, sebelumnya Marc Lipstich selaku salah satu ahli epidemiologi dari institusi yang sama menyebutkan bahwa sistem kesehatan di Indonesia dan Thailand mungkin tidak dapat mendeteksi virus SARS-CoV-2.

Sebelum ditemukannya kasus pertama positif Covid-19 di Indonesia, hal tersebut telah dibantah oleh Siswanto selaku Kepala Badan Litbang Kementerian Kesehatan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Warga Thailand mengenakan masker untuk menjaga diri dari risiko terpapar virus corona, awal Februari 2020.Shutterstock Warga Thailand mengenakan masker untuk menjaga diri dari risiko terpapar virus corona, awal Februari 2020.

Tidak bisa dibandingkan

Representatif World Health Organization (WHO) untuk Indonesia, Dr N Paranietharan, menyebutkan bahwa kasus Covid-19 di Indonesia tidak bisa dibandingkan dengan Singapura.

“Penanganan di negara-negara besar seperti Indonesia ini tidak bisa dibandingkan dengan negara seukuran Singapura. Di Singapura, populasinya sedikit,” tutur N Paranietharan saat sesi diskusi bersama media di Jakarta beberapa waktu lalu.

Baca juga: Update Virus Corona 9 Maret: Menginfeksi 110.063 Orang di 110 Negara

Populasi yang minim di Singapura, lanjut ia, sangat membantu pemerintah dan petugas medis untuk memetakan kasus Covid-19 dengan mudah.

“Singapura punya Covid-19 mapping, karena mapping di negara tersebut mudah. Kalau negaranya sebesar Indonesia, butuh resource yang banyak,” tambah N Paranietharan.

Baca juga: WHO Peringatkan, Uang Kertas Mungkin Dapat Menyebarkan Virus Corona

N Paranietharan menjelaskan bahwa terkait kasus Covid-19, tiap negara di dunia harus mempraktekkan 3C yaitu Cases, Clusters, dan Community Transmission.

“Pihak-pihak harus bekerja sama menemukan kasus dengan cepat, kemudian membuat clusters lewat diagnosis dan analisa, serta menutup community transmission sehingga meminimalisir penyebaran virus,” tutupnya.

 



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.