Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Biaya Membesarkan Anak di China Melampaui AS dan Jepang

Kompas.com - 22/02/2024, 16:31 WIB
Tito Hilmawan Reditya

Penulis

Sumber Guardian

BEIJING, KOMPAS.com - China jadi salah satu negara termahal di dunia untuk membesarkan anak, melampaui Amerika Serikat dan Jepang dalam hal biaya.

Ini menurut sebuah lembaga pemikir terkemuka China.

Laporan yang dirilis Rabu (21/2/2024) oleh YuWa Population Research Institute yang berbasis di Beijing menemukan bahwa rata-rata biaya membesarkan anak di Tiongkok hingga usia 18 tahun adalah 538.000 yuan atau Rp 1,2 miliar.

Baca juga: Menimbang Peluang China Lakukan Blokade Militer ke Taiwan

Ini lebih dari 6,3 kali lipat PDB per kapita negara tersebut. dibandingkan dengan 4,11 kali di AS atau 4,26 kali di Jepang.

Untuk anak-anak yang dibesarkan di kota-kota di China, biaya rata-rata meningkat menjadi 667.000 yuan atau Rp 1,4 miliar.

Di Australia, para peneliti menemukan bahwa biaya membesarkan anak 2,08 kali lebih tinggi dari rata-rata PDB per orang.

Dilansir dari Guardian, China berada di peringkat kedua setelah Korea Selatan, yang memiliki tingkat kesuburan terendah di dunia.

Laporan ini juga membahas biaya peluang (opportunity cost), yang sebagian besar ditanggung oleh para ibu, terkait dengan memiliki anak.

Antara tahun 2010 dan 2018, waktu mingguan yang dihabiskan orang tua untuk membantu pekerjaan rumah anak usia sekolah dasar meningkat dari 3,67 jam menjadi 5,88 jam.

Para ibu cenderung kehilangan jam kerja berbayar dan waktu senggang akibat membesarkan anak.

Baca juga: Menimbang Peluang China Lakukan Blokade Militer ke Taiwan

Sedangkan ayah hanya mengalami kehilangan waktu senggang.

“Karena alasan-alasan seperti tingginya biaya melahirkan anak dan kesulitan bagi perempuan untuk menyeimbangkan keluarga dan pekerjaan, rata-rata kemauan kesuburan masyarakat China hampir merupakan yang terendah di dunia,” para peneliti menyimpulkan.

“Keinginan untuk memiliki anak mengacu pada jumlah anak yang dianggap ideal, yaitu kurang dari dua di China, menurut beberapa survei," tambahnya.

Baca juga: [POPULER GLOBAL] Kisah Haru Eks PM Belanda | China Tak Jual Senjata Mematikan ke Rusia

Penelitian ini dipimpin oleh Liang Jianzhang, seorang pengusaha terkemuka yang juga seorang profesor ekonomi di Universitas Peking.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Sumber Guardian

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com