Angka Kematian akibat Covid-19 Lampaui 100.000, PM Inggris Minta Maaf

Kompas.com - 27/01/2021, 11:42 WIB
PM Inggris Boris Johnson berpidato saat konferensi pers di Downing Street no. 10, London, pada Rabu (30/12/2020). DAILY TELEGRAPH/HEATHCLIFF OMALLEY via APPM Inggris Boris Johnson berpidato saat konferensi pers di Downing Street no. 10, London, pada Rabu (30/12/2020).

LONDON, KOMPAS.com - Perdana Menteri Inggris Boris Johnson meminta maaf, menunjukkan penyesalannya ketika kasus kematian akibat Covid di Inggris lampaui 100.000, lapor Yahoo News, Selasa (26/1/2021).

Dengan wajah muram, PM Johnson mengatakan bahwa dia sangat menyesal atas kematian para warganya akibat virus corona, yang angkanya melampaui 100.000.

"Kami melakukan semua yang kami bisa," kata Johnson pada jumpa pers di Downing Street pada Selasa.

Melalui jumpa pers tersebut, Johnson memperingati secara resmi kematian orang-orang akibat Covid-19, juga para pekerja dan sukarelawan yang disebutnya "telah membuat negara terus berjalan" selama lockdown.

Johnson juga memuji para ilmuwan Inggris dengan menyebut mereka 'brilian'.

Baca juga: Boris Johnson: Varian Baru Virus Corona di Inggris Mungkin Lebih Mematikan

“...Hal terbaik dan terpenting yang dapat kita lakukan untuk menghormati kenangan mereka yang telah meninggal adalah bekerja sama dengan tekad yang lebih besar untuk mengalahkan penyakit ini. Dan itulah yang akan kita lakukan," imbuh Johnson.

Sesaat sebelum jumpa pers, pemimpin Partai Buruh Sir Keir Starmer merilis video di mana dia mengatakan korban tewas yang melewati 100.000 adalah sebuah "tragedi nasional".

“Kepada semua yang berduka, kita harus berjanji untuk belajar dari apa yang salah dan membangun negara yang lebih tangguh,” kata Starmer.

Johnson telah menghadapi banyak pertanyaan tentang penanganannya terhadap pandemi sejak kasus Covid-19 pertama diidentifikasi pada 31 Januari tahun lalu.

Baca juga: Salah Satu dari Kembar Identik Tertua Inggris Memaki Boris Johnson Setelah Saudaranya Meninggal karena Covid-19

 

Pada bulan Juli, PM Inggris yang baru punya anak laki-laki dari istri barunya itu menjanjikan "penyelidikan independen".

Pada Selasa, pemimpin Demokrat Liberal Sir Ed Davey bahkan menyerukan penyelidikan publik saat ini juga.

Korban tewas akibat virus corona meningkat pesat selama musim dingin. Dua bulan lalu, pada 26 November, angkanya berada di 57.030 jiwa.

Profesor Chris Whitty, berbicara bersama Johnson pada jumpa pers Selasa, mengatakan kemunculan varian baru yang lebih menular telah "mengubah situasi kami secara substansial".

Dia menambahkan, varian baru itu tidak dapat diprediksi pada bulan September, ketika kasus infeksi mulai meningkat lagi.

Baca juga: [UPDATE] WHO Sebut Varian Baru Virus Corona di Inggris Terdeteksi di Setidaknya 60 Negara


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X