Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Viral Petisi Netizen Jepang Minta Kartun Doraemon Hapus Adegan Nobita Intip Shizuka Mandi

Kompas.com - 12/12/2020, 11:24 WIB
Shintaloka Pradita Sicca

Penulis

BEIJING, KOMPAS.com - Viral netizen Jepang mengajukan petisi untuk menghapus adegan Nobita masuk kamar mandi Shizuka di serial manga Jepang, Doraemon.

Petisi tersebut menyatakan bahwa adegan Nobita itu tidak pantas dimunculkan dalam tontonan yang banyak dikonsumsi anak-anak, karena bisa menyesatkan.

Melansir Global Times pada Jumat (11/12/2020), petisi tersebut memicu diskusi panas di kalangan netizen lainnya di China tentang bagaimana memperlakukan plot yang tidak sesuai dalam kartun, pada Kamis (10/12/2020).

Baca juga: Ali Khamenei: Dukungan Kartun Nabi Muhammad adalah Politik Pemerintah Perancis yang Kejam

Netizen di Jepang mengajukan petisi kepada media TV Asahi dan perusahaan produksi Doraemon untuk menghapus segmen tersebut di mana Nobita masuk dalam kamar mandi Shizuka selama dia mandi.

Adegan seperti itu dikhawatirkan dapat mendorong perilaku dan memberikan bimbingan yang salah terhadap anak-anak, menurut Entertainment Sina Weibo.

Topik tersebut telah dilihat lebih dari 620 juta kali di Sina Weibo dan menghasilkan sekitar 30.000 komentar.

Sebagian besar pengguna Weibo itu menyatakan dukungannya untuk petisi ini.

Baca juga: Protes Kartun Nabi Muhammad, Seniman Sudan Tolak Penghargaan dari Perancis

“Sulit untuk tidak setuju,” kata seorang pengguna Weibo bernama @Zhanghairou, yang mendapatkan lebih dari 145.000 likes untuk komentar tersebut.

"Dukung! Produk budaya harus mengikuti perkembangan zaman,” kata yang lain.

"Sebagai orang tua, saya khawatir bahwa beberapa segmen kartun dapat berdampak buruk pada anak saya," kata Qi Xiuli, orang tua di Weihai, sebuah kota di Provinsi Shandong, China Timur.

"Misalnya, dia suka melihat kartun tentang mobil dan dia senang saat melihat mobil besar menabrak mobil kecil,” katanya kepada Global Times.

Baca juga: Presiden Perancis Beri Klarifikasi soal Pernyataan Kartun Nabi Muhammad

Beberapa netizen memberikan pendapat berbeda tentang bagaimana memperlakukan segmen kartun yang dianggap orang dewasa tidak sesuai untuk anak-anak.

“Kita tidak bisa terlalu mengandalkan kartun untuk mendidik anak-anak. Orang tua perlu menjelaskan perilaku dalam kartun kepada anak-anaknya agar mereka mengerti benar dan salah,” kata pengguna Weibo @Bai_RuinuiR.

Kartun tidak boleh mendorong praktik yang salah,” kata Liu Yang, seorang guru sekolah menengah di Beijing.

“Akan lebih baik, jika kartun dapat digunakan untuk pendidikan seks yang tepat untuk anak-anak, seperti mengajar anak-anak untuk tidak membiarkan orang lain menyentuh bagian dari tubuh mereka," tambah Liu Yang.

Baca juga: Presiden Perancis Paham Muslim Marah dengan Kartun Nabi Muhammad

Pada 6 April 2013, seorang anak laki-laki berusia 9 tahun di Provinsi Jiangsu, China Timur, membuat api untuk meniru alur cerita tentang memanggang kambing dari kartun China, "Pleasant Goat and Big Big Wolf", yang mengakibatkan luka bakar yang parah bagi kedua temannya.

“Adegan kekerasan harus dihindari karena anak-anak tidak memahami penderitaan korban, dan mereka hanya akan berpikir bahwa memukuli orang lain itu keren,” kata Liu.

Banyak juga netizen yang angkat bicara untuk wanita.

Seorang pengguna Weibo bernama @YourFashionGirlFriend berkomentar, “Apakah sebagian orang benar-benar berpikir bahwa tidak apa-apa bagi perempuan jika roknya terangkat dan diintip saat mandi?”

Baca juga: Perancis: Sekularisme, Kartun Nabi Muhammad, dan Sikap Presiden Macron

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya

Terkini Lainnya

Rangkuman Hari Ke-807 Serangan Rusia ke Ukraina: Putin Angkat Lagi Mikhail Mishustin | AS Pasok Ukraina Rp 6,4 Triliun

Rangkuman Hari Ke-807 Serangan Rusia ke Ukraina: Putin Angkat Lagi Mikhail Mishustin | AS Pasok Ukraina Rp 6,4 Triliun

Global
ICC Didesak Keluarkan Surat Perintah Penangkapan Netanyahu

ICC Didesak Keluarkan Surat Perintah Penangkapan Netanyahu

Global
143 Negara Dukung Palestina Jadi Anggota PBB, AS dan Israel Menolak

143 Negara Dukung Palestina Jadi Anggota PBB, AS dan Israel Menolak

Global
AS Akui Penggunaan Senjata oleh Israel di Gaza Telah Langgar Hukum Internasional

AS Akui Penggunaan Senjata oleh Israel di Gaza Telah Langgar Hukum Internasional

Global
[POPULER GLOBAL] Netanyahu Tanggapi Ancaman Biden | Pembicaraan Gencatan Senjata Gaza Gagal

[POPULER GLOBAL] Netanyahu Tanggapi Ancaman Biden | Pembicaraan Gencatan Senjata Gaza Gagal

Global
Saat Dokter Jantung Ladeni Warganet yang Sebut Non-Perokok sebagai Pecundang...

Saat Dokter Jantung Ladeni Warganet yang Sebut Non-Perokok sebagai Pecundang...

Global
Agungkan Budaya Gila Kerja, Petinggi Mesin Pencari Terbesar China Malah Blunder

Agungkan Budaya Gila Kerja, Petinggi Mesin Pencari Terbesar China Malah Blunder

Global
Karyawan Ini Nekat Terbang Sebentar ke Italia demi Makan Pizza, Padahal Besok Kerja

Karyawan Ini Nekat Terbang Sebentar ke Italia demi Makan Pizza, Padahal Besok Kerja

Global
Warga Israel Bakar Kompleks Gedung UNRWA di Yerusalem Timur

Warga Israel Bakar Kompleks Gedung UNRWA di Yerusalem Timur

Global
100.000 Orang Terpaksa Tinggalkan Rafah Gaza di Bawah Ancaman Serangan Darat Israel

100.000 Orang Terpaksa Tinggalkan Rafah Gaza di Bawah Ancaman Serangan Darat Israel

Global
Jeda Pengiriman Senjata AS Tak Berdampak, Israel Terus Gempur Rafah

Jeda Pengiriman Senjata AS Tak Berdampak, Israel Terus Gempur Rafah

Global
Kontestan Israel Lolos ke Final Kontes Lagu Eurovision, Tuai Kecaman

Kontestan Israel Lolos ke Final Kontes Lagu Eurovision, Tuai Kecaman

Global
Selama 2024, Heatstroke di Thailand Sebabkan 61 Kematian

Selama 2024, Heatstroke di Thailand Sebabkan 61 Kematian

Global
Mesir Ungkap Kunci Hamas dan Israel jika Ingin Capai Kesepakatan Gencatan Senjata Gaza

Mesir Ungkap Kunci Hamas dan Israel jika Ingin Capai Kesepakatan Gencatan Senjata Gaza

Global
Perundingan Gencatan Senjata Gaza di Kairo Berakhir Tanpa Kesepakatan

Perundingan Gencatan Senjata Gaza di Kairo Berakhir Tanpa Kesepakatan

Global
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com