Puluhan Warga Nagorno-Karabakh Putus Asa Hadapi Perang, Berusaha Melarikan Diri ke Armenia

Kompas.com - 04/10/2020, 14:39 WIB
Orang-orang berkumpul di depan sebuah gedung apartemen yang diduga rusak oleh penembakan baru-baru ini di kota utama Stepanakert di wilayah Nagorno-Karabakh pada 3 Oktober 2020, selama pertempuran yang sedang berlangsung antara Armenia dan Azerbaijan atas wilayah yang disengketakan. AFPOrang-orang berkumpul di depan sebuah gedung apartemen yang diduga rusak oleh penembakan baru-baru ini di kota utama Stepanakert di wilayah Nagorno-Karabakh pada 3 Oktober 2020, selama pertempuran yang sedang berlangsung antara Armenia dan Azerbaijan atas wilayah yang disengketakan.

GORIS, KOMPAS.com - Puluhan penduduk dengan lingkaran hitam di mata dan ekspresi kekhawatiran, berkumpul di Goris, perbatasan wilayah Armenia dengan Nagorno-Karabakh. Mereka mencoba untuk mendapatkan tumpangan dari mobil yang lewat.

"Apakah kamu mau pergi ke Yerevan?" tanya mereka dengan putus asa ke setiap mobil yang lewat.

Melansir AFP pada Sabtu (3/10/2020), mereka mencoba untuk menuju ke ibu kota Armenia, setelah melarikan diri dari pertempuran sengit antara pasukan Armenia dan Azerbaijan, yang memperebutkan wilayah Nagorno-Karabakh yang disengketakan.

Baca juga: Pertempuran Sengit Azerbaijan-Armenia Berlanjut, Korban Tewas Bertambah 150 Orang

Banyak keluarga telah tiba di Goris, sebuah kota perbatasan di tenggara Armenia, melarikan diri dari pecahnya pertempuran di wilayah Nagorno-Karabakh, pada Minggu lalu dan sejauh ini telah menewaskan lebih dari 200 orang.

Bentrokan semakin meningkat dalam beberapa hari terakhir, dengan ibu kota Nagorno-Karabakh, Stepanakert, terkena tembakan roket dan artileri.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Lebih dari 50.000 penduduk kota telah mengungsi ke Goris sebagai langkah pertama untuk mencapai Yerevan, berjarak 350 kilometer ke barat laut.

Baca juga: Militer Azerbaijan Rilis Video Musik Heavy Metal di Tengah Ketegangan Perang dengan Armenia

Mobil dan truk biasa mengangkut penduduk di pintu masuk kota, di depan hotel abu-abu bergaya Soviet, beberapa langkah dari pompa bensin yang diterangi lampu neon.

Di sana, mereka berkumpul mencari tumpangan dari seorang teman atau cara apa pun untuk mendapatkan keamanan di Yerevan.

Para wanita, banyak dari mereka terlihat kelelahan, menunggu dengan duduk di tas mereka, anak-anak mereka bermain di dekatnya.

Sedangkan, para pria berusaha mencari tumpangan di antara kendaraan yang lewat, taksi atau terkadang bus umum berwarna ungu yang dikirim oleh pihak berwenang untuk menjemput mereka.

Baca juga: Di Tengah Sengketa Armenia-Azerbaijan, Nagorno-Kabarakh Ingin Perjuangkan Republik Sampai Mati

"Ada berapa banyak jumlah kalian? Apakah Anda ingin kami membawa Anda?" tanya Ani, seorang pengendara mobil Clio berwarna hijau yang berusia 31 tahun tiba dengan dari Yerevan.

Dia bekerja sebagai jurnalis, tetapi meninggalkan segalanya untuk bergegas ke perbatasan.

"Saya tidak memiliki jarak yang saya butuhkan untuk melakukan pekerjaan saya," kata Ani.

"Saya mengatakan kepada mereka (para kerabat dan rekannya) 'lupakan saya'."

"Ada ratusan pengungsi yang datang dari Stepanakert di mana pemboman itu terjadi hebat hari ini. Kami harus membantu mereka, dengan satu atau lain cara," ungkapnya.

Baca juga: Sebut Azerbaijan Dibantu Turki, PM Armenia Paparkan Buktinya

Di Yerevan, mereka yang melarikan diri dari pertempuran tinggal bersama teman dan keluarga atau ditempatkan di hotel dan sekolah secara gratis. Pihak berwenang mengumpulkan makanan, pakaian, uang, dan bahkan mainan untuk mereka.

"Seluruh negara ada untuk membantu. Selalu seperti ini di saat-saat sulit dalam sejarah kita," kata Ani.

Untuk saat ini, jumlah orang yang melarikan diri terbatas. Mereka pergi dengan mobil, tapi ada beberapa waktu, tidak terlihat tanda-tanda eksodus massal.

Namun, truk militer dan ambulans yang melewati wilayah di jalan ini adalah pengingat bahwa konflik ini masih jauh dari selesai.

Baca juga: Armenia: Dukungan Turki ke Azerbaijan Mengarahkan Tindakan Genosida


Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X