Armenia: Dukungan Turki ke Azerbaijan Mengarahkan Tindakan Genosida

Kompas.com - 02/10/2020, 11:04 WIB
Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinian berhenti sejenak saat berbicara di parlemen Armenia di Yerevan, Armenia, Minggu, 27 September 2020. Pashinian pada hari Minggu mengatakan negara dapat memeriksa kembali apakah akan mengakui Nagorny-Karabakh sebagai negara independen. Langkah seperti itu kemungkinan besar akan menghalangi negosiasi lebih lanjut. AP/Tigran MehrabyanPerdana Menteri Armenia Nikol Pashinian berhenti sejenak saat berbicara di parlemen Armenia di Yerevan, Armenia, Minggu, 27 September 2020. Pashinian pada hari Minggu mengatakan negara dapat memeriksa kembali apakah akan mengakui Nagorny-Karabakh sebagai negara independen. Langkah seperti itu kemungkinan besar akan menghalangi negosiasi lebih lanjut.

YEREVAN, KOMPAS.com - Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan menuduh Turki "sekali lagi mengarahkan jalur genosida" dalam ketegangan yang sedang berlangsung antara Armenia dan Azerbaijan.

Pashinyan mengatakan militer Ankara secara langsung memimpin serangan oleh pasukan Azeri terhadap pasukan etnis Armenia di sekitar Nagorny Karabakh.

Puluhan orang telah dilaporkan tewas dan ratusan lainnya cedera sejak perang yang meletus pada Minggu (27/9/2020) yang telah meningkatkan kekhawatiran tentang stabilitas di Kaukasus Selatan, koridor jaringan pipa yang membawa minyak dan gas ke pasar dunia.

Baca juga: Rusia Tawarkan Jadi Tuan Rumah Pembicaraan Damai Perang Armenia-Azerbaijan

Presiden Prancis, Rusia, dan Amerika Serikat pada Kamis menyerukan gencatan senjata segera antara Azerbaijan dan pasukan etnis Armenia di sekitar Nagorny Karabakh.

Namun, seperti yang dilansir dari Reuters pada Jumat (2/10/2020), Turki, sekutu Azeri, mengatakan bahwa 3 kekuatan besar negara itu seharusnya tidak memiliki peran dalam gerakan perdamaian.

Baca juga: Azerbaijan Mengaku Bunuh dan Lukai 2.300 Tentara Armenia di Nagorny Karabakh

“Situasinya jauh lebih serius (dibandingkan bentrokan sebelumnya pada 2016). Akan lebih tepat untuk membandingkannya dengan apa yang terjadi pada 1915, ketika lebih dari 1,5 juta orang Armenia dibantai selama genosida pertama abad ke-20," kata Pashinyan kepada surat kabar Le Figaro dalam sebuah wawancara yang diterbitkan Kamis malam.

"Negara Turki, yang terus menyangkal masa lalu, sekali lagi merambah jalan genosida," lanjutnya.

Baca juga: Perang Masih Berlanjut, Azerbaijan Klaim Hancurkan Rudal Armenia

Komentar tersebut cenderung memprovokasi Ankara. Turki menerima bahwa banyak orang Armenia yang tinggal di Kekaisaran Ottoman terbunuh dalam bentrokan dengan pasukan Ottoman selama Perang Dunia I.

Namun, Turki membantah angka korbannya mencapai 1,5 juta dan menyangkal bahwa pembunuhan itu diatur secara sistematis dan merupakan genosida.

Baca juga: Azerbaijan dan Armenia Tolak Perundingan di Tengah Eskalasi Konflik

Pashinyan, yang tidak memberikan bukti atas pernyataannya, mengatakan Turki telah mengirim ribuan tentara bayaran Suriah ke wilayah Nagorny Karabakh dan perwira militer Turki terlibat langsung dalam memimpin serangan oleh Azeri.

“Dunia harus menyadari apa yang terjadi di sini,” katanya.

“Keinginan Turki adalah untuk memperkuat peran dan pengaruhnya di Kaukasus Selatan. Itu mengejar mimpi membangun sebuah kerajaan meniru Kesultanan dan itu membuat jalan yang dapat membakar wilayah itu (Nargony Karabakh)," ungkapnya.

Baca juga: Armenia Tuding Jet Tempur Mereka Dijatuhkan Turki di Nagorny Karabakh


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Buru Pembunuh Putrinya, Seorang Ibu Menyamar Sebagai Tunawisma

Buru Pembunuh Putrinya, Seorang Ibu Menyamar Sebagai Tunawisma

Global
Krisis Oksigen di Brasil Kini Ancam Kebutuhan Medis Bayi Prematur

Krisis Oksigen di Brasil Kini Ancam Kebutuhan Medis Bayi Prematur

Global
Minta Pertolong Lewat Pesan Tertulis, Anak Korban Kekerasan Akhirnya Diselamatkan

Minta Pertolong Lewat Pesan Tertulis, Anak Korban Kekerasan Akhirnya Diselamatkan

Global
[Biografi Tokoh Dunia] Martin Vizcarra, Pejuang Anti Korupsi yang Terjegal Dua Kudeta Politik

[Biografi Tokoh Dunia] Martin Vizcarra, Pejuang Anti Korupsi yang Terjegal Dua Kudeta Politik

Global
Bus Gandeng Tabrak Pembatas Jalan, Menggelantung di Jembatan Layang

Bus Gandeng Tabrak Pembatas Jalan, Menggelantung di Jembatan Layang

Global
Pemilu Uganda, Diktator Yoweri Museveni Menang untuk Keenam Kalinya

Pemilu Uganda, Diktator Yoweri Museveni Menang untuk Keenam Kalinya

Global
Viral Video Anjing Menangis Saat Mencari Sahabatnya yang Hilang Dicuri Orang

Viral Video Anjing Menangis Saat Mencari Sahabatnya yang Hilang Dicuri Orang

Global
Akhir Era Kanselir Jerman Angela Merkel Dimulai Saat CDU Memilih Pemimpin Partai Baru

Akhir Era Kanselir Jerman Angela Merkel Dimulai Saat CDU Memilih Pemimpin Partai Baru

Global
[Cerita Dunia] Sebelum Rentetan Kecelakaan Pesawat Terjadi, Ini Dia yang Pertama

[Cerita Dunia] Sebelum Rentetan Kecelakaan Pesawat Terjadi, Ini Dia yang Pertama

Global
Jajak Pendapat AS: Mayoritas Warga AS Tidak Ingin Trump Menjabat Lagi

Jajak Pendapat AS: Mayoritas Warga AS Tidak Ingin Trump Menjabat Lagi

Global
Berteman dengan China, Negara Kerajaan Ini Dapat 1 Juta Vaksin Sinovac Gratis

Berteman dengan China, Negara Kerajaan Ini Dapat 1 Juta Vaksin Sinovac Gratis

Global
Luo Lili, Sosialita yang Bunuh Diri Sambil Peluk Bayinya karena Depresi Hamil Tak Dinikahi

Luo Lili, Sosialita yang Bunuh Diri Sambil Peluk Bayinya karena Depresi Hamil Tak Dinikahi

Global
5 Racun Paling Mematikan di Dunia, Kena Sedikit Saja Langsung Tewas Seketika

5 Racun Paling Mematikan di Dunia, Kena Sedikit Saja Langsung Tewas Seketika

Global
Makin Kewalahan, Hampir 40 Persen Pasien Covid-19 Dirawat di Rumah Sakit Brasil Meninggal Dunia

Makin Kewalahan, Hampir 40 Persen Pasien Covid-19 Dirawat di Rumah Sakit Brasil Meninggal Dunia

Global
Pfizer Mengurangi Pengiriman Vaksin ke Eropa untuk Sementara Waktu

Pfizer Mengurangi Pengiriman Vaksin ke Eropa untuk Sementara Waktu

Global
komentar
Close Ads X