AS Memanas, Tuding Rusia Melakukan Uji Coba Senjata Anti-Satelit Berbasis Luar Angkasa

Kompas.com - 24/07/2020, 12:36 WIB
Gambar ini diambil oleh astronot di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) pada tahun 2011, cahaya hijau tipis yang merupakan oksigen terlihat di atas kurva Bumi. Di permukaan Bumi, tampak permukaan kawasan Afrika Utara yang disinari lampu malam sepanjang Sungai Nil. NASA/SPACE.comGambar ini diambil oleh astronot di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) pada tahun 2011, cahaya hijau tipis yang merupakan oksigen terlihat di atas kurva Bumi. Di permukaan Bumi, tampak permukaan kawasan Afrika Utara yang disinari lampu malam sepanjang Sungai Nil.

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Militer Amerika Serikat (AS) dan Inggris pada Kamis (23/7/2020), menuding Rusia melakukan uji coba senjata anti-satelit berbasis luar angkasa pada awal bulan ini.

Dikatakan bahwa senjata itu dapat menargetkan objek melalui satelit luar angkasa.

Komando Luar Angkasa AS mengatakan memiliki bukti bahwa Rusia melakukan uji coba non-destruktif dari senjata anti-satelit berbasis luar angkasa.

Melansir CNN pada Rabu (23/7/2020), dikatakan bahwa pada 15 Juli Rusia telah "menyuntikan objek baru ke dalam orbit dari Cosmos 2543", sebuah satelit Rusia yang telah diorbitkan sejak 2019.

Baca juga: Adik Kim Jong Un: Korea Utara Belum akan Berhenti Bikin Senjata Nuklir

"Objek" baru itu dilepaskan di dekat satelit Rusia lainnya, aktivitas yang menurut Komando Luar Angkasa AS "tidak konsisten dengan misi sistem yang dinyatakan sebagai satelit pengawas."

Kepala Direktorat Antariksa Inggris, Wakil Marsekal Udara, Harvey Smyth, menagatakan tindakan Rusia itu mengancam penggunaan ruang luar angksa yang damai dan berisiko menimbulkan ancaman terhadap satelit dan sistem luar angkasa.

"Kami meminta Rusia untuk tidak melakukan pengujian lebih lanjut," kata Smyth dalam sebuah pernyataan.

Tuduhan itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Moskow terkait sejumlah masalah.

Baca juga: Kompleks Rumah PM Kanada Disusupi Tentara, Pelaku Bawa Senjata Ilegal

Dalam beberapa hari terakhir AS menuduh Rusia melakukan berbagai kegiatan, termasuk serangan siber terhadap organisasi yang terlibat dalam pengembangan vaksin virus corona, pelanggaran hak asasi manusia, dan menggunakan tentara bayaran Rusia untuk mengguncang Libya.

Ketegangan antara AS dengan Rusia telah lama terjadi sejak muncul laporan bahwa operasi Rusia menawarkan insentif tunai kepada para pasukan militan Taliban untuk menyerang AS di Afganistan.

Halaman:

Sumber CNN
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X