Pakar Sebut Serangan Korea Utara demi Raih Konsesi secara Paksa

Kompas.com - 18/06/2020, 07:37 WIB
Orang-orang yang memakai topeng wajah pergi setelah meletakkan bunga di depan patung-patung pemimpin Korea Utara Kim Il Sung dan Kim Jong Il pada kesempatan ulang tahun ke-108 dari pemimpin Korea Utara Kim Il Sung, yang dikenal sebagai Day of the Sun, di Pyongyang pada 15 April 2020 AFP/KIM WON JINOrang-orang yang memakai topeng wajah pergi setelah meletakkan bunga di depan patung-patung pemimpin Korea Utara Kim Il Sung dan Kim Jong Il pada kesempatan ulang tahun ke-108 dari pemimpin Korea Utara Kim Il Sung, yang dikenal sebagai Day of the Sun, di Pyongyang pada 15 April 2020

SEOUL, KOMPAS.com - Menurut pakar, tindakan Korea Selatan menghancurkan kantor penghubung antar-Korea merupakan salah satu dari rangkaian provokasi yang bertujuan untuk memaksa konsesi dari Seoul dan Washington.

Sebelumnya, Presiden Moon Jae-in telah menjadi perantara dialog antara Pyongyang dan Washington, tetapi kini Pyongyang mempersalahkan Moon yang tidak membujuk Amerika Serikat untuk melonggarkan sanksi.

Sementara itu, hubungan internal antar-Korea telah bersitegang selama beberapa bulan terakhir, menyusul gagalnya pertemuan puncak antara pemimpin tertinggi Korea Utara Kim Jong Un dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Hanoi.

"Secara internal, Korea Utara sangat kecewa dengan Moon dan tampaknya memutuskan hubungan internal dengan Korea Selatan," ungkap Kim Keun-sik, profesor di bidang ilmu politik di Universitas Kyungnam.

Baca juga: Provokasi Korea Utara demi Memperkuat Status Adik Kim Jong Un

Profesor Kim Keun-sik menambahkan, "Dengan begitu, itu menyiratkan dalam taktik brinkmanship-nya kepada Presiden Amerika Serikat bahwa dia harus melanjutkan pembicaraan atau mencabut sanksi ekonomi seperti yang telah dituntut selama ini."

Konflik antar-Korea bulan ini terkesan dipicu oleh selebaran anti-Pyongyang yang disebarluaskan para pembelot, padahal praktik itu sudah berlangsung cukup lama.

"Ini adalah siklus provokasi yang kerap dipentaskan daripada respons satu kali," kata pakar Korea Utara, Leif-Eric Easley dari Universitas Ewha.

"Pyongyang merusak hubungan antar-Korea untuk meningkatkan tekanan dalam mencari konsesi internasional," tambahnya. "Keputusan untuk menekan Seoul adalah strategi, bukan taktik."

Baca juga: Korea Utara Bakal Kirim Militer ke Perbatasan dengan Korea Selatan

Selangkah demi selangkah

Tindakan Korut tampaknya dikalibrasi dengan hati-hati, di mana Pyongyang telah mengeluarkan beberapa peringatan dari berbagai departemen yang ada dalam pemerintahan mereka menurut berbagai sumber resmi.

Simbolisme penghancuran kantor penghubung pada Selasa kemarin tidak salah lagi, karena bangunan yang dihancurkan itu tidak digunakan selama berbulan-bulan, tidak dihuni dan yang terpenting berada di sisi perbatasannya.

Halaman:

Sumber AFP
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pengadilan Bebaskan Petinggi Partai Berkuasa yang Terlibat Kasus Pembongkaran Masjid Kuno Abad ke-16

Pengadilan Bebaskan Petinggi Partai Berkuasa yang Terlibat Kasus Pembongkaran Masjid Kuno Abad ke-16

Global
Barter Foto Seksi dengan Diskon Baju, Hakim Ini Diperiksa

Barter Foto Seksi dengan Diskon Baju, Hakim Ini Diperiksa

Global
Suara Ledakan Dahsyat Terdengar di Seluruh Kota Paris, Gedung-gedung Bergetar

Suara Ledakan Dahsyat Terdengar di Seluruh Kota Paris, Gedung-gedung Bergetar

Global
Kesal dengan Istri, Pria Ini Panjat Menara Seluler dan Menolak Turun

Kesal dengan Istri, Pria Ini Panjat Menara Seluler dan Menolak Turun

Global
Azerbaijan Mengaku Bunuh dan Lukai 2.300 Tentara Armenia di Nagorny Karabakh

Azerbaijan Mengaku Bunuh dan Lukai 2.300 Tentara Armenia di Nagorny Karabakh

Global
Perempuan Berdaya: Bagaimana Standar Kecantikan Berevolusi dari Era Primitif hingga Sekarang

Perempuan Berdaya: Bagaimana Standar Kecantikan Berevolusi dari Era Primitif hingga Sekarang

Global
Wali Kota Ini Menang Pilkada 2 Minggu Setelah Meninggal karena Covid-19

Wali Kota Ini Menang Pilkada 2 Minggu Setelah Meninggal karena Covid-19

Global
Gadis Kasta Dalit Tewas Diperkosa, Aktivis yang Berunjuk Rasa Ditangkap Aparat India

Gadis Kasta Dalit Tewas Diperkosa, Aktivis yang Berunjuk Rasa Ditangkap Aparat India

Global
Keterlibatan Jerman dalam Aksi Pembantaian Massal Pasca G30S-1965 di Indonesia

Keterlibatan Jerman dalam Aksi Pembantaian Massal Pasca G30S-1965 di Indonesia

Global
Kesal Diselingkuhi, Wanita Ini Siram Air Mendidih ke Selangkangan Pacarnya

Kesal Diselingkuhi, Wanita Ini Siram Air Mendidih ke Selangkangan Pacarnya

Global
Pencarian Google 'Cara Pindah ke Kanada' Warnai Debat Perdana Pilpres AS

Pencarian Google "Cara Pindah ke Kanada" Warnai Debat Perdana Pilpres AS

Global
Kuwait Angkat Sumpah Jabatan Emir Baru, Syekh Nawaf Al Ahmad Al Sabah

Kuwait Angkat Sumpah Jabatan Emir Baru, Syekh Nawaf Al Ahmad Al Sabah

Global
Muncul di Depat Capres AS, Siapa Sebenarnya Antifa dan Proud Boys?

Muncul di Depat Capres AS, Siapa Sebenarnya Antifa dan Proud Boys?

Global
Vanuatu Tanggapi Komentar Rasis dari Indonesia: Terlihat Terkoordinasi

Vanuatu Tanggapi Komentar Rasis dari Indonesia: Terlihat Terkoordinasi

Global
Dari 'Supremasi Kulit Putih' sampai 'Rasisme', Ini Daftar Kata yang Paling Banyak Dicari Pasca Debat Perdana Capres AS

Dari 'Supremasi Kulit Putih' sampai 'Rasisme', Ini Daftar Kata yang Paling Banyak Dicari Pasca Debat Perdana Capres AS

Global
komentar
Close Ads X