Sebelum Kematian George Floyd, Rasisme di Minneapolis Sudah Marak Terjadi

Kompas.com - 30/05/2020, 22:27 WIB
Seorang bocah lelaki kulit hitam memegang kertas bertuliskan Am I Next? yang berarti, Apakah aku selanjutnya? saat protes di pusat kota Los Angeles, Jumat, 29 Mei 2020. Protes unjuk rasa itu dipicu atas kematian George Floyd, pria kulit hitam yang meninggal di tangan polisi Minneapolis. AP/Christian MonterrosaSeorang bocah lelaki kulit hitam memegang kertas bertuliskan Am I Next? yang berarti, Apakah aku selanjutnya? saat protes di pusat kota Los Angeles, Jumat, 29 Mei 2020. Protes unjuk rasa itu dipicu atas kematian George Floyd, pria kulit hitam yang meninggal di tangan polisi Minneapolis.

MINNEAPOLIS, KOMPAS.com - Kasus rasisme pada orang kulit hitam di kota Minneapolis, negara bagian Minnesota, Amerika Serikat (AS), sudah marak terjadi bahkan sebelum kasus pembunuhan George Floyd.

Selama bertahun-tahun kepolisian dan peradilan pidana di Minneapolis memiliki hubungan buruk dengan masyarakat Afrika-Amerika, kata para aktivis dilansir dari Associated Press (AP).

Kematian George Floyd kemudian membuat amarah para warga kulit hitam Minneapolis memuncak. Mereka melancarkan demonstrasi yang berujung kericuhan, hingga meluas ke hampir seluruh AS.

Baca juga: Rusuh Kematian George Floyd Meluas Hampir ke Seluruh AS

"Kemajuan dan perubahan bisa surut dan mengalir," kata Jeremiah Ellison, yang menduduki kursi Dewan Kota setelah berpartisipasi dalam protes sebelumnya, terhadap pembunuhan orang Afrika-Amerika di Minnesota oleh polisi.

Kerusuhan yang terjadi empat malam pekan ini - termasuk pembakaran kantor polisi - "membuktikan kepada saya bahwa kami telah mengalami kemunduran hingga di titik 2015," lanjut Ellison.

Ia merujuk pada tahun ketika terjadi demonstrasi atas kematian Jamar Clark, seorang pria kulit hitam yang terbunuh oleh polisi.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Minneapolis merupakan kota berpenduduk hampir 430.000 jiwa, terdiri dari 60 persen orang kulit putih, 19 persen kulit hitam, dan 9 persen Hispanik.

Kota ini memiliki sejarah panjang kesenjangan ekonomi dan pendidikan yang memarginalkan penduduk kulit hitam selama beberapa dekade, meski mulai menunjukkan perbaikan.

Baca juga: Kematian George Floyd Picu Kerusuhan Minneapolis, Kantor Polisi Dibakar, Toko-toko Dijarah

Dilansir dari AP, Minneapolis menunjuk kepala polisi kulit hitam pertamanya hampir tiga tahun lalu, setelah lambatnya kemajuan untuk menjadikan departemen itu lebih inklusif.

Kemudian awal tahun ini sebuah gugus tugas di seluruh negara bagian AS yang terdiri dari aktivis, orang-orang yang mewakili korban kekerasan polisi, dan para pemimpin penegak hukum, mengeluarkan rekomendasi untuk reformasi.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X