Filosofi Bubur Suro khas Tahun Baru Islam, Tiap Lauknya Pun Bermakna

Kompas.com - 18/08/2020, 21:50 WIB
Ilustrasi bubur suro Shutterstock/DANDY BINTARFANO DWINANDAIlustrasi bubur suro

KOMPAS.com – Salah satu hidangan yang identik dengan Tahun Baru Islam adalah bubur suro. Masyarakat Jawa khususnya, menghadirkan bubur suran atau bubur suro pada malam menjelang datangnya 1 Suro.

Satu Suro adalah hari pertama dalam kalender Jawa yakni bulan Sura atau Suro. Satu Suro ini bertepatan pula dengan tanggal 1 Muharram dalam kalender Hijriyah atau Tahun Baru Islam.

Dalam konsep Jawa, hari esok dianggap datang setelah lewat pukul empat petang. Maka dari itu bubur suro disajikan pada malam menjelang datangnya 1 Suro.

Baca juga: Filosofi Tumpeng, Representasi Hubungan Manusia yang Dalam

Bubur suro sebagai uba rampe

Dilansir dari Kompas.com, tanggal 1 suro diperingati oleh masyarakat Jawa dengan cara yang khas dan telah dilaksanakan secara turun temurun selama berabad-abad. Salah satunya lewat elemen kuliner yang khas sebagai lambang perayaan tersebut.

Bubur suro menjadi lambang untuk perayaan Tahun Baru Islam, dan karenanya harus dibaca, dilihat, dan ditafsirkan sebagai alat (uba rampe dalam bahasa Jawa) untuk memaknai 1 Suro atau Tahun Baru yang akan datang.

Kartibi juru masak bubur suro, saat mengaduk bubur untuk dibagikan kepada warga dan jamaah masjid Suro Palembang, Sumatera SelatanKOMPAS.com/ Aji YK Putra Kartibi juru masak bubur suro, saat mengaduk bubur untuk dibagikan kepada warga dan jamaah masjid Suro Palembang, Sumatera Selatan

Bubur beras dan kelengkapannya

Bubur suro punya rasa gurih dengan nuansa pedas yang tipis. Biasanya dibuat dari beras, santan, garam, jahe, dan sereh. Selain itu, bubur suro juga biasa disajikan dengan lauk berupa opor ayam dan sambal goreng labu siam berkuah encer dan pedas.

Di atas bubur ditaburi serpihan jeruk bali dan bulir-bulir buah delima.

Ada pula tujuh jenis kacang yakni: kacang tanah, kacang mede, kacang hijau, kedelai, kacang merah, kacang tholo, dan kacang bogor. Sebagian kacang ada yang digoreng, dan ada yang direbus.

Tak itu saja, ada pula tambahan berupa irisan timun dan beberapa lembar daun kemangi.

Sebagai uba rampe, bubur suro juga disajikan dengan uba rampe lainnya berbentuk sirih lengkap, kembar mayang, dan sekeranjang buah-buahan.

Kehadiran sirih lengkap melambangkan asal-usul dan penghormatan atau pengenangan kita kepada orang tua dan para leluhur, khususnya yang telah mendahului kita.

Sirih lengkap akan diletakkan dalam bokor kuningan atau tembaga yang selalu hadir sebagai kelengkapan dalam ritual perlintasan Jawa dengan makna yang sama.

Sementara untuk kembar mayang, merupakan dua vas bunga yang masing-masing berisi tujuh kuntum mawar merah, tujuh kuntum mawar putih, tujuh ronce (rangkaian) melati, dan tujuh lembar daun pandan.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X