Kompas.com - 11/08/2020, 21:03 WIB

KOMPAS.com - Kalau membeli sosis solo, jangan bayangkan akan mendapatkan daging yang dibalut dengan usus atau lembaran lemak.

Sebab sosis solo ini jutsru lebih mirip risol ketimbang sosis daging, mengapa namanya bisa disebut sosis solo?

Baca juga: Sejarah Sambal Tumpang, Makanan dari Tempe Busuk yang Ada Sejak 1814

Menurut peneliti pusat studi pandan dan gizi Universitas Gadjah Mada, Murdijati Gardjito, sosis solo adalah hasil akulturasi. 

“Sosis hasil alkuturasi dari seni dapur Eropa dan Solo, sehingga bentuknya sudah tidak sama dengan sosis-sosis lainya,” jelas wanita yang akrab disapa Murdijati itu saat dihubungi oleh Kompas.com, Senin (10/7/2020).

Sosis Solo terbuat dari daging sapi giling yang digulung di telur dadar yang sangat tipis.

Baca juga: Sejarah Panjang Sayur Genjer, Makanan Wong Cilik Saat Krisis Pangan

 

Hidangan ini lahir karena dulunya seni dapur Jawa tidak memiliki makanan yang disebut bangsa kolonial sebagai sosis.

Sosis milik orang Eropa terbuat dari adonan daging giling yang dicampur susu.

Ilustrasi sosis solo.Dok. Sajian Sedap Ilustrasi sosis solo.

Murdijati menyebutkan unsur budaya kuliner Belanda sangat kental di Solo saat masa penjajahan. 

Sebab Solo atau Kota Surakarta adalah sasaran petinggi Belanda untuk menjalin hubungan baik dengan raja-raja di Mataram Kuno.

"Orang Solo kepingin merasakan kenikmatan dari sosis orang Belanda," cerita Murdijati. 

"Saat mereka tau bahwa adonan sosis dibuat dari susu, akhirnya mereka memilih membuat versinya sendiri yang cocok dengan lidah wong Solo,” lanjutnya. 

Baca juga: Sejarah Sate Kere, Bukti Kreativitas Orang Solo pada Masa Penjajahan

Ia menyebutkan saat itu masyarakat Solo tidak biasa mengonsumsi susu. Akhir dibuatlah sosis versi Solo dengan bumbu merica, bawang putih, dan pala.

Murdijati juga memaparkan jika sosis orang Eropa umumnya disantap sebagai lauk saat memakan roti, tetapi sosis solo dikonsumsi sebagai camilan.

Cerita lain datang dari Heri Priyatmoko Dosen Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma.

Ia menjelaskan jika sosis solo berasal dari kreatifitas pengusaha restoran Tionghoa di Solo.

Baca juga: Sejarah Tengkleng Khas Solo, Tercipta karena Kehabisan Bahan Pangan di Masa Penjajahan

Mereka melihat peluang bisnis dengan menjajakan sosis kreasinya untuk para bangsawan kolonial dan priyayi di Solo pada masa penjajahan.

"Ditilik dari kacamata ekologi budaya, telur adalah unsur yang tersedia melimpah di tanah Jawa dan cukup diakrabi masyarakat pribumi dengan peternakan ayam di pekarangan," jelas Heri.

Cara membuat sosis solo juga butuh ketrampilan tersendiri.

Heri menjelaskan jika para koki sangat cekatan dalam membuat kulit sosis, karena jika tidak kulit yang tiipis akan mudah sobek.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.