Kompas.com - 22/06/2020, 17:11 WIB


JAKARTA, KOMPAS.com – Sayur besan adalah salah satu jenis makanan Betawi yang jadi sajian wajib dalam rangkaian adat ‘ngenjot’ dalam proses perkawinan Betawi.

Sayur besan mendapatkan nama ‘besan’ karena sayur ini memang diperuntukkan khusus untuk besan atau orangtua dari calon menantu dalam keluarga Betawi.

Dalam buku “Kuliner Betawi: Selaksa Rasa & Cerita” produksi Akademi Kuliner Indonesia yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, dalam seporsi sayur besan biasanya ada kentang, suun atau bihun, petai, ebi, dan terubuk dalam kuah santan berwarna kuning kemerahan.

Baca juga: Ulang Tahun Jakarta, Mengulik Sejarah Kuliner Betawi Alami Akulturasi Budaya

Prosesi ngenjot adalah proses mengantar beberapa barang dan makanan oleh keluarga mempelai wanita kepada keluarga mempelai pria.

Barang dan makanan ini disebut sebagai ‘jotan’. Proses ngenjot dilakukan satu hari sebelum akan nikah dilakukan.

Ilustrasi terubukShutterstock Ilustrasi terubuk

“Jotan diantarkan oleh pihak perempuan ke pihak laki sebagai tanda bahwa di rumah pihak perempuan sudah siap segala sesuatunya untuk duduk nikah, ijab kabul, pesta-pesta, dan menerima tamu banyak,” jelas Budayawan Betawi Yahya Andi Saputra ketika dihubungi Kompas.com, Rabu (17/6/2020).

Sayur besan memiliki kuah berwarna kuning. Menurut Yahya, warna kuning tersebut menyimbolkan kemuliaan. Ibaratnya, pihak perempuan memuliakan besan dari pihak laki-laki.

Baca juga: Hari Ulang Tahun Jakarta, Inilah 5 Pusat Kuliner Betawi di Jakarta

Tak ada catatan pasti tentang sejak kapan sayur besan telah ada atau sudah digunakan sebagai salah satu makanan dalam jotan.

Hingga kini, sayur besan biasanya hanya ditemukan dalam jotan pernikahan adat Betawi.

Pasalnya, sayur besan hampir tak pernah dibuat untuk sehari-hari. 

Menurut Yahya, kembang tebu atau terubuk bahan dalam sayur besan sudah sangat sulit ditemukan di pasaran.

Baca juga: Ulang Tahun Jakarta, Sudah Pernah Coba 12 Makanan Betawi Langka Ini?

Setelah proses ngenjot yang dilakukan pihak perempuan, nantinya pihak laki-laki juga akan membalas dengan mengembalikan total harga dari seluruh jotan.

“Laki-laki akan hitung semua antaran keluarga perempuan. Nanti jumlah itu akan dikembalikan pada saat hari H,” papar Yahya.

Jotan yang diantarkan oleh pihak keluarga perempuan pun nantinya akan dibagikan pada tetangga sekitar. Pembagian jotan ini juga diibaratkan sebagai undangan pernikahan pada para tetangga.

“Orangtua mengundang dengan cara jotan itu. Itulah cara mengundang orang lain ke pernikahan,” kata Yahya.

Buku “Kuliner Betawi: Selaksa Rasa & Cerita” produksi Akademi Kuliner Indonesia yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama dapat dibeli di Gramedia.com

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.