Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 29/11/2022, 17:00 WIB
Penulis Dian Ihsan
|
Editor Dian Ihsan

KOMPAS.com - Dekan Fakultas Pertanian UGM, Jaka Widada menyebut bencana kelaparan akan terjadi di tahun 2050 sebagaimana prediksi organisasi pangan dunia FAO.

Bencana kelaparan itu, menurut dia, ancaman yang nyata bagi dunia, termasuk Indonesia.

Baca juga: Cek Jadwal Seleksi Masuk PTN: SNBP, SNBT, dan Seleksi Mandiri 2023

Kondisi ini, kata dia, salah satunya dipicu oleh pertambahan jumlah penduduk dunia yang akan mencapai angka 10 miliar di tahun tersebut.

"Jumlah penduduk dunia akan menembus sepuluh miliar. Akan terjadi kelaparan luar biasa manakala produksi pangan tidak naik sebesar 70 persen dari sekarang," kata dia dalam keterangannya, Selasa (29/11/2022).

Dia mengaku, hal itu bukan perkara yang mudah, karena perubahan iklim juga sangat berpengaruh terhadap bencana kelaparan ini.

3 negara sudah siap hadapi ancaman krisis pangan

Menurut dia, ada tiga negara yang telah siap menghadapi ancaman krisis pangan, yaitu Cina, Israel, dan Belanda.

Cina, sambung dia, sudah bisa membuat benih padi yang produksinya dua kali lipat lebih banyak.

Sedangkan Belanda dan Israel telah mengimplementasikan teknologi yang mumpuni untuk meningkatkan produksi komoditas pertanian.

Baca juga: 5 Negara dengan Sistem Pendidikan Terbaik di Dunia

"Ethiopia dulu adalah negara dengan banyak kelaparan, sekarang setelah Israel masuk ke situ menjadi sumber pangan nomor tujuh di dunia karena teknologi dari Israel," jelas dia.

Ancaman perubahan iklim dan krisis pangan, bilang dia, memang belum terlalu terlihat di Indonesia.

Itu karena ketersediaan sumber daya alam (SDA) masih cukup melimpah dan kondisi geografis Indonesia yang memungkinkan produksi pertanian tetap berjalan sepanjang tahun.

Akibatnya, pemborosan atau penggunaan sumber daya secara kurang efisien masih terjadi dalam banyak aspek, termasuk di sektor pertanian.

Baca juga: Jelang SNPMB 2023, Catat Jadwal Resmi SNBP dan UTBK SNBT 2023

"Di Indonesia, pemborosannya luar biasa karena merasa air tidak harus dibeli, tapi ke depan ancamannya akan luar biasa. UGM perlu melakukan edukasi untuk pelan-pelan menyadarkan tentang perubahan iklim," jelas Jaka.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+