Kompas.com - 27/05/2022, 20:30 WIB
Penulis Dian Ihsan
|
Editor Dian Ihsan

KOMPAS.com - Menurut survei Asia For Animals Coalition, Indonesia merupakan negara peringkat pertama penghasil dan pengedar konten kekerasan hewan di media sosial.

Namun, perlu diketahui pula bahwa tiap konten tersebut memiliki berbagai tujuan yang berbeda. Misalnya, ada yang untuk membuat viral agar kasus tersebut dilirik aparat.

Baca juga: Mau Jadi Konten Kreator? Ini 4 Tipsnya dari Alumnus Unair

Sekretaris Badan Perlindungan Hukum Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI), Bilqisthi Ari Putra menyebut penanganan dari pihak kepolisian cukup lambat.

Karena itu, dorongan masyarakat melalui media sosial menjadi langkah untuk mempercepat penanganan.

"Mungkin dari jumlah 1.600-an akun, banyak yang mengupload dengan tujuan agar permasalahan (kekerasan terhadap hewan) ditangani pihak berwajib," ucap dia melansir laman Unair, Jumat (27/5/2022).

Bilqisthi mengungkapkan, kasus kekerasan hewan tidak ditangani oleh PDHI.

Sehingga pelimpahan dan penanganan kasus menjadi tanggung jawab pihak kepolisian.

"Badan Perlindungan Hukum Perhimpunan PDHI tidak mengurusi pelanggaran terhadap hewan, hanya mengakomodasi transaksi teraupetik," tutur dia.

Baca juga: Unud Akan Punya 6 Guru Besar Baru

Muncul beberapa tuntutan mahasiswa atas maraknya kasus kekerasan hewan. Tuntutan itu demi melawan pelaku kekerasan hewan.

1. Revisi Undang-Undang

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

 

Konten pilihan untukmu

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.