Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jumlah Limbah Medis Melonjak, Universitas Pertamina Tawarkan Solusi

Kompas.com - 31/07/2021, 10:30 WIB
Ayunda Pininta Kasih

Penulis

KOMPAS.com - Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebutkan pada rentang Maret hingga September 2020, jumlah limbah B3 Covid-19 di Indonesia mencapai 1.662,75 ton.

Data tersebut menunjukkan, di masa pandemi Covid-19, jumlah limbah medis infeksius kategori Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) meningkat drastis.

Hingga penghujung tahun 2020, baru 117 rumah sakit yang kantongi izin pengelolaan limbah B3 medis.

Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fasyankes) yang tak miliki izin pengelolaan limbah B3 medis harus mengirim limbahnya ke jasa pengelolaan terdekat.

Baca juga: Cerita Siswi SMK Ranking Ke-33 di Kelas yang Lolos Masuk UI

Namun, limbah B3 medis idealnya hanya dapat disimpan maksimal 2x24 jam dengan suhu di bawah 0 derajat celcius. Jika limbah diangkut dengan armada yang tak dilengkapi pendingin, lama perjalanan tidak boleh lebih dari batas waktu yang telah ditentukan.

Pasalnya, selain berpotensi pada pencemaran lingkungan, limbah infeksius juga dapat meningkatkan potensi penularan virus.

Menghadirkan solusi atas permasalahan tersebut, tim dosen Ilmu Komputer Universitas Pertamina menginisiasi pembuatan aplikasi Hazwaste, guna mengoptimalkan proses penanganan limbah infeksius.

"Universitas Pertamina memandang perlunya inovasi agar limbah infeksius sampai di tempat pengelolaan secara efektif dan efisien. Tim dosen Ilmu Komputer universitas kemudian menginisiasi pembuatan aplikasi Hazwaste, yang dapat mengoptimalkan proses penanganan limbah infeksius,” ungkap Erwin Setiawan, Dosen Program Studi Ilmu Komputer sekaligus ketua tim, dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Jumat (30/7/2021).

Terutama di daerah minim fasilitas pengelolaan limbah B3 medis, sambung Erwin, aplikasi ini dapat digunakan untuk mengoptimalkan penjadwalan rute perjalanan kendaraan dan memantau kecepatan kendaraan agar limbah B3 sampai ke fasilitas pengelolaan tepat waktu.

Baca juga: Sering Bolos dan Balap Liar, tapi Usaha Ini Buat Esa Masuk Teknik ITB

Sehingga pihak-pihak terkait dapat mengawasi proses pengelolaan limbah B3 medis agar sesuai ketentuan.

“Uji coba purwarupa aplikasi kami lakukan tahun lalu di Kota Padang. Penghasil limbah B3 medis di sana harus mengirimkan limbahnya ke pulau Jawa. Hasil uji coba menunjukkan adanya efisiensi pengiriman limbah,” pungkas Erwin.

Menurut Erwin, aplikasi ini juga berpotensi meningkatkan daya saing Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang bergerak di bidang pengangkutan limbah B3 medis.

Fasyanskes biasanya akan memilih perusahaan besar untuk mengangkut limbah B3 medis karena kekhawatiran penyalahgunaan limbah oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

“Dengan adanya aplikasi Hazwaste, para pihak dapat memantau rute perjalanan dan pergerakan kendaraan pengangkut limbah B3 medis secara waktu nyata. Jika ada hal yang berpotensi pada pembuangan limbah di tempat yang tidak semestinya, pihak penghasil bisa langsung mengonfirmasi ke pihak pengangkut. Misalnya, truk berhenti di titik yang tidak seharusnya atau melewati rute yang tidak seharusnya,” tutur Erwin.

Aplikasi ini, lanjut Erwin, akan sangat membantu UMKM pengangkut limbah memberikan layanan yang cepat dan efisien.

Baca juga: Mahasiswa, Ini 10 Profesi yang Paling Bersinar di Tahun 2025

Di tahap awal pengembangan aplikasi, Tim telah bekerja sama dengan PT Bina Enviro Nusa untuk penggunaan aplikasi. Ke depan, Tim akan sangat terbuka untuk kerja sama dengan UMKM lainnya.

“Program pemberdayaan masyarakat semacam ini sangat dibutuhkan oleh UMKM untuk meningkatkan nilai jual dan membangun kepercayaan mitra kepada kami,” ujar Donal Endriadi, Ketua PT Bina Enviro Nusa.

Bagi siswa siswi SMA yang ingin berkuliah di kampus besutan PT Pertamina (Persero) tersebut, saat ini tengah dibuka Seleksi Nilai UTBK dan Seleksi Nilai Rapor untuk Tahun Akademik 2021/2022.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com