Kompas.com - 07/07/2021, 11:10 WIB
Berdasarkan survei ini, sekitar 80 persen desainer interior beralih dan aktif di berbagai platform sosial media. ftadviser.comBerdasarkan survei ini, sekitar 80 persen desainer interior beralih dan aktif di berbagai platform sosial media.

KOMPAS.com - Masyarakat Indonesia dikenal ramah dan santun. Namun, tak begitu di dunia maya. Survei Digital Civility Index (DCI) yang dilakukan Microsoft pada tahun lalu, menempatkan warganet Indonesia sebagai negara dengan kesopanan digital terburuk di Asia Tenggara.

Hoax dan penipuan menjadi dua faktor tertinggi yang mempengaruhi rendahnya ranking Indonesia, dengan persentase 47 persen.

Sementara itu, riset dari Crimson Hexagon menunjukkan setidaknya ada 70 ribu unggahan kemarahan dan ujaran kebencian dituliskan oleh warganet Indonesia di berbagai media sosial setiap harinya.

Baca juga: Siswa Penerima KIP, Kemendikbud Ristek Perbarui Skema Penyaluran Dana

Hal ini ditengarai karena lemahnya literasi digital masyarakat indonesia. Survei yang dilakukan Katadata Insight Center (KIC) bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) membeberkan bahwa 11,2 persen warganet Indonesia yang disurvei menyatakan pernah menyebarkan hoax.

Sementara itu 68,4 persen responden mengaku pernah menyebarkan informasi tanpa memverifikasi kebenarannya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sebagai institusi pendidikan yang memiliki tanggung jawab sosial kepada masyarakat, Universitas Pertamina (UP) ikut andil dalam membentuk masyarakat yang melek digital.

Para dosen program studi Komunikasi UP misalnya, melakukan program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertema sosialisasi literasi media digital kepada berbagai kelompok usia.

“Tim dosen dan mahasiswa melakukan kampanye di sejumlah sekolah, mulai dari sekolah dasar hingga menengah seperti SDN 11 Kebayoran, SMAN 29 Jakarta, dan berbagai sekolah lainnya. PkM ini bertujuan meningkatkan kesadaran, pengetahuan dan keterampilan para siswa dalam menggunakan media digital. Kampanye dilakukan dalam bentuk sosialisasi, penayangan video animasi, permainan interaktif, dan wawancara,” ungkap Ketua tim, Ita Musfirowati Hanika, dalam wawancara daring, Jumat (02/07).

Baca juga: Beasiswa Unggulan 2021 Kemendikbud untuk Mahasiswa S1-S3: Manfaat dan Cara Daftar

Dampaknya, pengetahuan siswa terhadap penggunaan gawai yang bijak meningkat dari angka 20 persen menjadi 70 persen.

Sementara itu, pemahaman siswa akan bahaya penggunaan gawai yang berlebihan juga bertambah dari 55 persen menjadi 85 persen.

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.