Ciptakan Baterai Organik dari Alga Merah, Mahasiswa ITB Juara Kompetisi Asia-Pasifik

Kompas.com - 10/06/2021, 16:53 WIB
Dua mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) Yumna Dzakiyyah (Teknik Elektro 2019) dan Richie Fane (Teknik Industri 2019) berhasil ciptakan prototipe baterai organik dari alga merah. Dok. ITBDua mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) Yumna Dzakiyyah (Teknik Elektro 2019) dan Richie Fane (Teknik Industri 2019) berhasil ciptakan prototipe baterai organik dari alga merah.

KOMPAS.com - Berhasil ciptakan prototipe baterai organik dari alga merah, dua mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) Yumna Dzakiyyah (Teknik Elektro 2019) dan Richie Fane (Teknik Industri 2019) berhasil menjuarai kompetisi Schneider Go Green 2021 pada tingkat Asia-Pasifik.

Yumna dan Richie yang tergabung dalam tim Bernama Carragenergy berhasil menjadi juara 1 dalam Schneider Go Green 2021 tingkat nasional dan mewakili Indonesia di tingkat Asia Pasifik melawan tim dari Australia, Singapura, dan Korea Selatan.

Setelah melewati proses penjurian yang sengit, keduanya kembali meraih posisi pertama yang akan bersaing kembali di tingkat dunia.

Baca juga: Kemendikbud Ristek Buka Lowongan Kerja Magang untuk Mahasiswa

Yumna dan Richie memilih alga merah sebagai bahan penyusun baterai organik didasari pada hasil riset bersama tim dari sebuah start-up yang bergerak di bidang SME (Small Medium Enterprise) terhadap petani rumput laut di Pulau Tidung.

Keduanya menemui bahwa pemanfaatan rumput laut di Indonesia masih kurang optimal, terutama karena petani hanya menjual dalam bentuk rumput laut kering yang tentunya bernilai jual rendah.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Hal ini menimbulkan keinginan Yumna dan Richie untuk dapat meningkatkan value rumput laut Indonesia yang berlimpah, sehingga dipilih bahan ini sebagai penyusun baterai organik.

“Ketika kita menemukan rumput laut mempunyai potensial yang lebih, kita berangkat dengan ide ini,” ungkap Yumna seperti dirangkum dari laman ITB, Kamis (10/6/2021).

Bisa di-charge dan ramah lingkungan

Dijelaskan, berdasarkan studi literatur, performa baterai organik dengan gabungan elektroda organik dan biopolimer elektrolit menghasilkan performa yang komparabel dengan baterai Li-ion. Tentunya, baterai ini memiliki keunggulan dari sisi lingkungan.

Baca juga: H-7 Pengumuman SBMPTN, Ini 10 PTN dengan Kuota Jalur Mandiri Terbanyak

Selain itu, jelas Richie, dimulai dari proses pembuatan baterai hingga pengolahan limbahnya, baterai anorganik memberi dampak yang membahayakan bagi lingkungan dan kesehatan. Berbeda dengan baterai organik. Keunggulan inilah yang dapat memberi nilai lebih pada prototipe baterai organik.

“Dengan masyarakat mengetahui tentang baterai ini, secara tidak langsung masyarakat akan lebih aware akan masalah lingkungan,” ujar Richie.

Bahkan, baterai yang dibuat ini termasuk kategori baterai sekunder yang bersifat rechargeable.

Yumna dan Richie berharap proyek ini dapat memberi dampak bagi kehidupan dan tidak hanya berhenti setelah perlombaan usai.

“Dengan adanya lomba dan proyek seperti ini diharapkan dapat memberi pengaruh bagi masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan, melihat suatu produk dari seluruh rantai nilainya, dan pada akhirnya berkontribusi dalam mewujudkan dunia lebih green dan sustainable,” pungkas Richie.



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X