Gizi Para Siswa Menurun Selama Pandemi Covid-19, Ini Alasannya

Kompas.com - 26/01/2021, 11:59 WIB
Seorang siswa SD dengan masker di wajahnya berjalan meninggalkan sekolah usai melakukan pendaftaran ulang pada hari pertama sekolah di Jayapura, Papua, Senin (13/7/2020). Siswa SD, SMP dan SMA mulai mengikuti kegiatan belajar-mengajar tahun ajaran baru 2020/2021 dengan sistem pembelajaran tatap muka langsung dan daring. ANTARA FOTO/GUSTI TANATISeorang siswa SD dengan masker di wajahnya berjalan meninggalkan sekolah usai melakukan pendaftaran ulang pada hari pertama sekolah di Jayapura, Papua, Senin (13/7/2020). Siswa SD, SMP dan SMA mulai mengikuti kegiatan belajar-mengajar tahun ajaran baru 2020/2021 dengan sistem pembelajaran tatap muka langsung dan daring.

KOMPAS.com - Pandemi Covid-19 ternyata berdampak besar bagi tubuh para siswa. Selama pandemi ada banyak siswa yang pemenuhan gizinya berkurang.

Alasannya, adanya penurunan kemampuan ekonomi keluarga selama pandemi berdampak pada pemenuhan gizi para siswa.

Hal ini, disampaikan langsung oleh Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah ( PAUD Dikdasmen) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ( Kemendikbud), Jumeri.

"Jika dalam satu keluarga mengalami penurunan tingkat penghasilan, maka dapat dipastikan bahwa yang akan dikorbankan adalah kualitas gizinya," kata Jumeri, dilansir dari kanal Youtube Direktorat Sekolah Dasar, Senin, (25/1/2021).

Ia mengatakan, jika kebutuhan gizi tidak terpenuhi maka pelajar akan sulit melakukan proses pembelajaran. Otomatis, daya tahan tubuh, tingkat fokus selama belajar akan berkurang.

Baca juga: 4 Prinsip Gizi Seimbang bagi Anak Usia Dini

Apalagi, anak usia dini hingga remaja mengalami proses pertumbuhan. Untuk itu, pemenuhan gizinya harus tinggi.

"Ini yang harus jadi ikhtiar kita dalam meningkatkan status gizi anak-anak kita agar terhindar dari anemia," jelasnya.

Potensi adanya anemia atau kurang darah mengakibatkan penderitanya merasakan kondisi lemas dan tidak fokus.

Hasil pendataan tahun 2018, disebutkan jika prevalensi anemia balita masih 38,5 persen, usia sekolah 26,5 persen dan anak remaja 15 sampai 24 tahun masih cukup tinggi, yakni 32 persen.

Padahal, organisasi kesehatan dunia atau World Health Organisation (WHO) mensyaratkan jika prevalensi anemia harus berada di bawah 20 persen.

Untuk itu, Ia ingin seluruh pihak mampu mengontrol gizi para pelajar di tengah pandemi. Baik keluarga, pemerintah dan pihak sekolah harus terlibat dalam pemenuhan gizi para siswa.

Baca juga: Perhatikan Edukasi Gizi Pelajar saat Pandemi, Pokja SBNP Siapkan Produk Baca

"Harus ada kontrol untuk peningkatan pencegahan orang tua dan sekolah dalam mencegah anemia sejak anak SD. Pemahaman harus dijalankan seluruh pihak," jelas dia.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X