Kompas.com - 06/05/2020, 16:02 WIB
Foto : Saat Vensilias Deki dan Sofia Rolin, para pelajar SMP asal Desa Golo Wune, Kecamatan Poco Ranaka, Kabupaten Manggarai Timur, NTT belajar di rumah mereka, Selasa (5/4/2020). KOMPAS.COM/NANSIANUS TARISFoto : Saat Vensilias Deki dan Sofia Rolin, para pelajar SMP asal Desa Golo Wune, Kecamatan Poco Ranaka, Kabupaten Manggarai Timur, NTT belajar di rumah mereka, Selasa (5/4/2020).

KOMPAS.com - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim mengakui proses adaptasi pembelajaran secara online di masa pandemi ini sulit.

Meski demikian, masa pandemi Covid-19 menjadi momentum untuk bangsa Indonesia untuk siap menyesuaikan diri dengan model pembelajaran online di masa depan.

"Proses adaptasi online learning ini diakui sulit. Situasi belajar dari rumah ini bukan dari keinginan tpai karena terpaksa," kata Nadiem dalam acara Konferensi Akademi Edukreator di Youtube Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Rabu (6/5/2020).

Kebijakan belajar dari rumah diketahui membuat orangtua stres lantaran harus melakukan pekerjaan bekerja dan mengajar anak secara bersamaan. Tugas-tugas yang banyak dan keterbatasan akses teknologi dikeluhkan para orangtua.

Tak hanya orangtua, anak-anak pun juga merasa tak senang dengan belajar dari rumah. Hal ini berdasarkan survei dari Forum Anak Nasional pada akhir Maret 2020 yang melibatkan ratusan anak di seluruh Indonesia.

"Survei tersebut menemukan bahwa sebagian besar anak sepakat bahwa gerakan di rumah saja sangat penting dilakukan di tengah pandemi Covid-19. Akan tetapi, hampir 60 persen anak merasa tidak terlalu senang saat harus menjalani proses belajar dari rumah," ujar Deputi Bidang Perlindungan Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) Nahar, dikutip dari keterangan pers.

Baca juga: Belajar dari Rumah, Antara Orangtua Gagap Adaptasi dan Anak Tak Senang

Nadiem mengatakan, ada wabah pandemi Covid-19 membuat bangsa Indonesia terpaksa keluar dari zona nyaman. Saat ini, mau tidak mau banyak jutaan orang yang menggunakan teknologi konferensi jarak jauh.

"Ini adalah kesempatan pembelajaran. Pada saat stakeholder di pendidikan, ini tool kita-kita baru yang ada koneksinya dengan digital. Ini menjadi momentum akan menjadi lebih siap," ujar Nadiem.

Menurutnya, wabah pandemi Covid-19 ini berdampak terhadap proses transformasi ke online learning yang lebih cepat. Masyarakat dinilai telah lebih cepat dan akrab dengan kondisi online learning.

"Tentunya situasinya tak ideal. banyak sekali yangg mencoba belajar dari jarak jauh. ini menjadi umpan balik ke kementerian, dinas, jadi mana yang penting metode belajarnya," tambah Nadiem.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X