Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Serangan Iran ke Israel Disebut Hanya Ingin Tepati Janji Pembalasan, Jauh dari Potensi Perang Dunia Ketiga

Kompas.com - 15/04/2024, 06:00 WIB
Diva Lufiana Putri,
Ahmad Naufal Dzulfaroh

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Guru Besar Kajian Timur Tengah Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Ibnu Burdah mengatakan, serangan Iran terhadap Israel pada Sabtu (13/4/2024) malam merupakan peristiwa bersejarah.

Pasalnya, Iran menyerang langsung dari wilayahnya menuju Israel, bukan melalui proksi atau perantara seperti yang terjadi selama ini.

Kendati demikian, menurut Ibnu, serangan tersebut masih jauh dari pemicu Perang Dunia III, seperti yang dikhawatirkan warganet akhir-akhir ini.

Dia mengatakan, melihat skala dan akibatnya, Iran tampaknya tidak menginginkan eskalasi yang luas.

"Iran sepertinya lebih ingin menepati janjinya untuk menyerang Israel sebagai balasan atas yang dilakukan Israel terhadap Zahedi dan lain-lain," ujarnya, saat dihubungi Kompas.com, Minggu (14/4/2024).

Baca juga: Kenapa Iran Menyerang Israel? Berikut Alasannya

Sebagai informasi, Brigadir Jenderal Mohammad Reza Zahedi merupakan seorang Komandan Senior Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Iran yang tewas terbunuh dalam serangan Israel di Suriah.

Dia terbunuh bersama enam orang lainnya ketika pesawat tempur Israel menembakkan beberapa rudal ke Konsulat Iran di ibu kota Damascus, Senin (1/4/2024).

Serangan yang menyebabkan tewasnya Zahedi ini membuat Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei berjanji akan membalas Israel.

Ibnu menyampaikan, Iran sepertinya hanya menginginkan serangan terukur dan terbatas untuk membalaskan perbuatan Israel.

Sementara itu, dari sisi Israel, menurutnya juga kecil kemungkinan akan melakukan pembalasan membabi-buta seperti yang terjadi di Gaza, Palestina.

"Jadi masih jauhlah kalau bicara Perang Dunia Ketiga," tuturnya.

Baca juga: Iran Serang Israel, Begini Respons Negara-negara Timur Tengah

"Strategi sabar" Iran hadapi Israel

Mohammad Reza Zahedi, komandan Pasukan Al Quds Iran yang tewas dalam serangan udara Israel di Damaskus, Suriah.Wikimedia Mohammad Reza Zahedi, komandan Pasukan Al Quds Iran yang tewas dalam serangan udara Israel di Damaskus, Suriah.

Ibnu mengungkapkan, pengambil keputusan di Iran merupakan orang yang rasional, bahkan strateginya sering disebut sebagai "strategi sabar".

Strategi sabar merujuk pada sikap Iran yang dinilai tidak mudah terpancing dengan suatu aksi. Alih-alih mereaksi dengan cepat, Iran justru berusaha memperhitungkan secara lebih luas dan jangka panjang, khususnya dalam menghadapi Israel.

Penulis buku Konflik Timur Tengah: Aktor, Isu, dan Dimensi Konflik (2008) ini melanjutkan, sejauh ini Iran selalu didesak setelah beberapa kali diserang oleh Israel.

Halaman:

Terkini Lainnya

Rumput Lapangan GBK Jelang Kualifikasi Piala Dunia usai Konser NCT Dream Disorot, Ini Kata Manajemen

Rumput Lapangan GBK Jelang Kualifikasi Piala Dunia usai Konser NCT Dream Disorot, Ini Kata Manajemen

Tren
Bukan UFO, Penampakan Pilar Cahaya di Langit Jepang Ternyata Isaribi Kochu, Apa Itu?

Bukan UFO, Penampakan Pilar Cahaya di Langit Jepang Ternyata Isaribi Kochu, Apa Itu?

Tren
5 Tokoh Terancam Ditangkap ICC Imbas Konflik Hamas-Israel, Ada Netanyahu

5 Tokoh Terancam Ditangkap ICC Imbas Konflik Hamas-Israel, Ada Netanyahu

Tren
Taspen Cairkan Gaji ke-13 mulai 3 Juni 2024, Berikut Cara Mengeceknya

Taspen Cairkan Gaji ke-13 mulai 3 Juni 2024, Berikut Cara Mengeceknya

Tren
Gaet Hampir 800.000 Penonton, Ini Sinopsis 'How to Make Millions Before Grandma Dies'

Gaet Hampir 800.000 Penonton, Ini Sinopsis "How to Make Millions Before Grandma Dies"

Tren
Ramai soal Jadwal KRL Berkurang saat Harpitnas Libur Panjang Waisak 2024, Ini Kata KAI Commuter

Ramai soal Jadwal KRL Berkurang saat Harpitnas Libur Panjang Waisak 2024, Ini Kata KAI Commuter

Tren
Simak, Ini Syarat Hewan Kurban untuk Idul Adha 2024

Simak, Ini Syarat Hewan Kurban untuk Idul Adha 2024

Tren
BMKG Keluarkan Peringatan Dini Kekeringan di DIY pada Akhir Mei 2024, Ini Wilayahnya

BMKG Keluarkan Peringatan Dini Kekeringan di DIY pada Akhir Mei 2024, Ini Wilayahnya

Tren
8 Bahaya Mencium Bayi, Bisa Picu Tuberkulosis dan Meningitis

8 Bahaya Mencium Bayi, Bisa Picu Tuberkulosis dan Meningitis

Tren
3 Alasan Sudirman Said Maju sebagai Gubernur DKI Jakarta, Siap Lawan Anies

3 Alasan Sudirman Said Maju sebagai Gubernur DKI Jakarta, Siap Lawan Anies

Tren
Starlink Indonesia: Kecepatan, Harga Paket, dan Cara Langganan

Starlink Indonesia: Kecepatan, Harga Paket, dan Cara Langganan

Tren
AS Hapuskan 'Student Loan' 160.000 Mahasiswa Senilai Rp 123 Triliun

AS Hapuskan "Student Loan" 160.000 Mahasiswa Senilai Rp 123 Triliun

Tren
Apakah Setelah Pindah Faskes, BPJS Kesehatan Bisa Langsung Digunakan?

Apakah Setelah Pindah Faskes, BPJS Kesehatan Bisa Langsung Digunakan?

Tren
Apakah Gerbong Commuter Line Bisa Dipesan untuk Rombongan?

Apakah Gerbong Commuter Line Bisa Dipesan untuk Rombongan?

Tren
Kapan Tes Online Tahap 2 Rekrutmen BUMN 2024? Berikut Jadwal, Kisi-kisi, dan Syarat Lulusnya

Kapan Tes Online Tahap 2 Rekrutmen BUMN 2024? Berikut Jadwal, Kisi-kisi, dan Syarat Lulusnya

Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com