Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Hubungan Bilateral Indonesia dan Rusia Saat Masih Uni Soviet

Kompas.com - 02/07/2022, 10:00 WIB
Dandy Bayu Bramasta,
Rendika Ferri Kurniawan

Tim Redaksi

Pada rapat 1 Mei 1946 di Yogyakarta, Presiden Soekarno menyampaikan bahwa Pemerintah Indonesia siap menjalin hubungan dengan Uni Soviet dan mendirikan perwakilan masing-masing di Jakarta dan Moskow.

Baca juga: Tiba di Kyiv, Ini Agenda yang Akan Dilakukan Jokowi di Ukraina

Upaya menjalin hubungan kedua negara

Untuk memperjuangkan Indonesia di wilayah Eropa Timur, wakil Indonesia di Praha, Suripno mempunyai surat mandat yang ditandatangani Presiden Soekarno pada Desember 1947 untuk mewakili pemerintah Indonesia dalam melakukan perundingan dan menjalin hubungan persahabatan dengan negara-negara Eropa Timur dan Uni Soviet.

Pada Mei 1948, dilakukan perundingan antara Duta Besar Uni Soviet untuk Cekoslovakia, M. Silin dengan Suripno dan disepakati untuk menjalin hubungan kedua negara pada tingkat konsul.

Persetujuan Konsuler ditandatangani oleh Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Haji Agus Salim.

Ini menunjukan adanya hubungan antara Indonesia dengan Uni Soviet pada masa revolusi di Indonesia.

Tetapi kesepakatan tersebut tidak dapat terealisasi sehubungan dengan gejolak politik dalam negeri Indonesia, seperti peristiwa Madiun dan Agresi Militer Belanda.

Baca juga: Hasil Pertemuan Jokowi dan Putin di Moskwa Rusia

Hubungan diplomatik Indonesia-Uni Soviet resmi dibuka

Pada 25 Januari 1950, Menteri Luar Negeri Uni Soviet A. Vyshinsky menyampaikan secara tertulis kepada Perdana Menteri/Menteri Luar Negeri Moch. Hatta bahwa Uni Soviet mengakui kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia, dan keinginan menjalin hubungan diplomatik dengan Indonesia. Pemerintah Indonesia menyambut baik hal tesebut.

Kemudian, pada Mei 1950, Delegasi Indonesia yang dipimpin oleh N. Palar dengan anggotanya terdiri dari Yusuf Wibisono, Yamin, dan Hadinoto berkunjung ke Moskow untuk melakukan perundingan.

Hasil dari perundingan tersebut disampaikan pada Sidang Kabinet yang dihadiri Presiden Soekarno pada 16 Mei 1950, yaitu kesepakatan untuk saling membuka Kedutaan Besar dan tanggapan positif Uni Soviet mengenai masuknya Indonesia menjadi anggota PBB.

Dalam Sidang Majelis Umum PBB ke VIII pada September 1953, Menteri Luar Negeri RI Sunarjo memberitahukan kepada Menteri Luar Negeri Uni Soviet, A. Vyshinsky mengenai keinginan Pemerintah Indonesia untuk membuka Kedutaan Besar Republik Indonesia di Uni Soviet

Menanggapi hal tersebut, pada 17 Desember 1954 A. Vyshinsky menyampaikan kepada Sunarjo bahwa Pemerintah Uni Soviet menyambut positif keinginan Pemerintah Indonesia dan siap menerima Duta Besar Indonesia di Moskow. Di samping itu, pihaknya siap membuka perwakilannya di Jakarta.

Baca juga: Ini 3 Alasan India Larang Ekspor Gandum, Tak Hanya karena Invasi Rusia

Soebandrio ditunjuk duta besar RI di Moskow

Lebih lanjut, pada 21 Januari 1954, Pemerintah Uni Soviet memberikan agreement kepada Dr. Soebandrio sebagai Duta Besar Republik Indonesia di Moskow.

Pada saat itu, Kedutaan Besar Republik Indonesia berkantor sementara di Hotel Metropol, kemudian pindah ke sebuah gedung di jalan Sadovo-Somatechnaya 14.

Selanjutnya, sejak 1960-an hingga saat ini berlokasi di jalan Novokuznetskaya 12-14, tidak jauh dari Lapangan Merah dan Istana Presiden Rusia "Kremlin".

Pemerintah Indonesia pun menyampaikan persetujuannya menerima D. Zhukov sebagai Duta Besar Uni Soviet di Jakarta pada 24 Mei 1954.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com