Kompas.com - 16/07/2021, 20:00 WIB
Tampilan aplikasi Kompas.id di telepon seluler. Kompas.id resmi diluncurkan sebagai aplikasi pada 8 Maret 2018. Arsip Kompas.idTampilan aplikasi Kompas.id di telepon seluler. Kompas.id resmi diluncurkan sebagai aplikasi pada 8 Maret 2018.

KOMPAS.com - Tak jarang kita menemukan adanya ajakan dari pihak tertentu untuk berhenti mengakses informasi terkait Covid-19.

Alasannya, agar terhindar dari rasa takut dan stres. Dengan begitu, imun tubuh akan kuat, sehingga mampu melawan infeksi virus corona.

Namun, apakah dengan menghindar dari berita, kita dapat tetap sehat dan terhindar dari Covid-19?

Baca juga: Simak, Ini Cara Dapat Obat Isoman Gratis dari Pemerintah

Hal yang merugikan

Peneliti pandemi sekaligus pakar epidemiologi dari Grifftith University Dicky Budiman menyebut, hal itu sebagai sesuatu yang justru merugikan.

Tidak ada negara yang berhasil mengendalikan pandemi dengan cara menutup diri dari informasi, sepahit apapun informasi yang harus mereka terima.

"Negara yang berhasil mengendalikan pandeminya itu enggak ada yang tertutup atau tidak transparan. Dan negara yang berhasil mengatasi pandemi, data disampaikan apa adanya, (baik) positif (maupun) negatif," kata Dicky saat dihubungi Kompas.com, Jumat (16/7/2021).

"Dan tidak ada negara yang bisa mengendalikan pandeminya itu, masyarakatnya menutup diri terhadap informasi. Sebaliknya, ada banyak negara yang gagal, tidak berhasil mengendalikan pandeminya (mereka) berkecamuk dengan segala macam teori, pembenaran, klaim, penyangkalan-penyangkalan," lanjut dia.

Baca juga: Waspadai, Berikut Ini 12 Gejala Covid-19 Varian Delta

Penyangkalan kondisi sebenarnya

Hal ini sebagaimana yang hingga saat ini masih terjadi di Indonesia, bahkan di tengah situasi pandemi yang krisis seperti akhir-akhir ini.

Ia menyebut upaya menutup diri semacam ini sesungguhnya merupakan sebuah bentuk penyangkalan atas realitas yang terjadi di sekitar kita yang semestinya kita hadapi.

"Menutup diri itu salah satu bagian dari penyangkalan. Masalah ini harus dihadapi, bukan disangkal. Masalah itu harus dicari sumbernya, diselesaikan," seru dia.

Ia menyebut penyangkalan atas Covid-19 sudah ada di Indonesia sejak awal masa pandemi, mulai dari mengaitkannya dengan isu konspirasi, hoaks, dan sebagainya.

Namun, hal itu masih bisa dipahami. Berbeda cerita ketika penyangkalan masih juga dilakukan di masa sekarang, di mana krisis akibat Covid-19 ini tengah terjadi.

"Penyangkalan masalah hanya akan membuat masalah menjadi besar, kemudian membuat kita banyak kehilangan korban jiwa. Contohnya ya saat ini indonesia, sejak awal (pandemi masuk) ada penyangkalan," ungkap Dicky.

"Kalau sudah dalam kondisi krisis seperti ini masih menyangkal juga, ya namanya bunuh diri, menggali lubang kuburan sendiri," lanjut dia.

Baca juga: Ramai soal Syarat Buat KTP Harus Punya Kartu Vaksin, Benarkah? Ini Kata Dukcapil

Tak semua informasi harus dihindari

Dicky tidak menyangkal ada baiknya juga membatasi atau menutupi diri dari informasi terkait pandemi. Namun bukan semua informasi pandemi harus kita hindari.

Ada banyak informasi yang harus kita tahu.

Misalnya, perkembangan penanganan pandemi, dari langkah yang harus kita lakukan untuk mencegah infeksi, atau kebijakan baru apa yang sedang dijalankan.

Dengan demikian, kita tahu apa yang boleh dan tidak boleh diperbuat.

"Misalnya bagaimana nanti kita tahu bahwa sekarang harus pakai 2 lapis masker, kalau enggak pernah lihat (informasi) itu. Di sini (Australia) yang pandemi terkendali juga ada informasi yang harus diakses, 'Oh di sana jangan ke daerah itu dulu, sedang ada kasus meningkat'," Dicky mencontohkan.

Sebaliknya, informasi-informasi yang memang harus dihindari adalah informasi pandemi yang hoaks, sesat, konspirasi, dan sebagainya.

Misalnya, informasi tak berdasar yang banyak merebak di grup-grup percakapan aplikasi perpesanan.

"Kalau hoaks ya harus (dihindari). Hoaks, teori konspirasi. Caranya dari mana? Ya dari berita-berita yang sumber enggak jelas. Misal di WhatsApp Group, udah itu enggah usah dibaca, hapus saja. Tapi misalnya dari BBC, dari pakar yang jelas kredibilitas dan institusinya, apalagi institusi dunia, itu penting untuk kita ketahui," pungkas dia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.