Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

20.574 Kasus Covid-19 dalam Sehari, Ini Provinsi dengan Penambahan Tertinggi

Kompas.com - 25/06/2021, 12:28 WIB
Dandy Bayu Bramasta,
Inggried Dwi Wedhaswary

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Data kasus Covid-19 di Indonesia menunjukkan bahwa kondisi pandemi di Tanah Air semakin memburuk.

Berdasarkan data Satuan Tugas Penanganan Covid-19 hingga Kamis (24/6/2021) pukul 12.00 WIB, ada penambahan 20.574 kasus baru Covid-19 dalam 24 jam terakhir.

Penambahan ini merupakan rekor tertinggi jumlah kasus harian selama pandemi virus corona.

Total kasus Covid-19 di Indonesia saat ini mencapai 2.053.995 orang.

Selain itu, dalam 24 jam terakhir, jumlah pasien yang sembuh setelah terinfeksi virus corona bertambah 9.201 orang. Dengan demikian, total pasien yang sembuh mencapai 1.826.504 orang.

Pada periode 23-24 Juni 2021, ada 355 pasien Covid-19 yang tutup usia.

Dengan demikian, angka kematian akibat Covid-19 mencapai 55.949 orang sejak awal pandemi.

Baca juga: Menilik Efektivitas Vaksin dalam Menangkal Virus Corona Varian Delta...

Berikut sebaran 20.574 kasus baru Covid-19 di 34 provinsi di Indonesia hingga Kamis (24/6/2021):

  1. DKI Jakarta: 7.505 kasus
  2. Jawa Tengah: 4.384 kasus
  3. Jawa Barat: 3.053 kasus
  4. Jawa Timur: 945 kasus
  5. DI Yogyakarta: 791 kasus
  6. Banten: 599 kasus
  7. Kepulauan Riau: 459 kasus
  8. Kalimantan Timur: 336 kasus
  9. Riau: 295 kasus
  10. Sumatera Barat: 206 kasus
  11. Kalimantan Barat: 189 kasus
  12. Sumatera Utara: 185 kasus
  13. Bali: 181 kasus
  14. Kalimantan Tengah: 172 kasus
  15. Sumatera Selatan: 144 kasus
  16. Bengkulu: 141 kasus
  17. Papua Barat: 124 kasus
  18. Lampung: 121 kasus
  19. Maluku Utara: 121 kasus
  20. Bangka Belitung: 120 kasus
  21. Nusa Tenggara Timur: 104 kasus
  22. Sulawesi Selatan: 100 kasus
  23. Aceh: 73 kasus
  24. Jambi: 43 kasus
  25. Kalimantan Selatan: 39 kasus
  26. Sulawesi Tengah: 39 kasus
  27. Kalimantan Utara: 27 kasus
  28. Sulawesi Tenggara: 26 kasus
  29. Sulawesi Utara: 20 kasus
  30. Sulawesi Barat: 13 kasus
  31. Papua: 10 kasus
  32. Nusa Tenggara Barat: 9 kasus
  33. Gorontalo: 0 kasus
  34. Maluku: 0 kasus.

Baca juga: 5 Kondisi yang Harus Diwaspadai Saat Isolasi Mandiri di Rumah

Bijak lihat data tingkat positif

Seorang warga yang tidak mengenakan masker melintas, di depan mural yang berisi pesan waspada penyebaran virus Corona di kawasan Tebet, Jakarta, Selasa (8/9/2020). Data Satuan Tugas Penanganan COVID-19 per hari Selasa (8/9/2020) lima kabupaten/kota yang tercatat mengalami kenaikan risiko, sehingga saat ini ada 70 kabupaten kota dengan risiko tinggi dari pekan lalu sebanyak 65 daerah. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/hp.M RISYAL HIDAYAT Seorang warga yang tidak mengenakan masker melintas, di depan mural yang berisi pesan waspada penyebaran virus Corona di kawasan Tebet, Jakarta, Selasa (8/9/2020). Data Satuan Tugas Penanganan COVID-19 per hari Selasa (8/9/2020) lima kabupaten/kota yang tercatat mengalami kenaikan risiko, sehingga saat ini ada 70 kabupaten kota dengan risiko tinggi dari pekan lalu sebanyak 65 daerah. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/hp.
Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito meminta semua pihak bijak melihat data tingkat positif atau positivity rate kasus Covid-19 agar tidak salah menafsirkan keadaan.

"Rentang waktu 14 hari adalah yang paling efektif dalam penentuan langkah intervensi kebijakan selanjutnya, karena rentang yang terlalu singkat atau terlalu lama, seperti harian atau dua bulanan dapat mengaburkan situasi yang sebenarnya terjadi di lapangan," kata Wiku, Kamis (24/6/2021).

Berdasarkan data hingga pekan ke-3 Juni 2021, tingkat positif di Indonesia mencapai angka 14,64 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan standar yang dipatok WHO, yaitu 5 persen.

Jika berkaca pada data sejak awal pandemi, tingkat positif di Indonesia pernah mencapai puncak paling tinggi, sebesar 28,25 persen, pada dua pekan pertama Januari 2021.

Oleh karena itu, positivity rate sekarang yang sudah mendekati 15 persen ini harus diwaspadai dan semaksimal mungkin dikendalikan.

Wiku menjelaskan, karena positivity rate ditentukan dari jumlah orang yang diperiksa, maka ada beberapa kondisi yang memengaruhi akurasinya.

Salah satunya terbatasnya sumber daya dan akses pada fasilitas tes.

Hal itu, kata Wiku, karena tes diprioritaskan untuk yang sudah memiliki gejala atau kontak erat.

Dengan demikian, bukan tidak mungkin hasil tes cenderung menunjukkan positif Covid-19, karena sudah dikerucutkan pada kelompok orang yang memang memiliki gejala atau kontak erat.

"Di Indonesia, pada umumnya orang sehat tidak menjalani tes Covid-19, dan hal ini dapat mempengaruhi angka positivity rate menjadi tinggi," ujar Wiku.

Baca juga: Rumah Sakit Terancam Kolaps, Bagaimana Melakukan Isolasi Mandiri yang Aman Saat Kena Covid-19?

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com