Ledakan Kasus Covid-19 di Kudus, Berpotensi Terjadi di Daerah Lain

Kompas.com - 05/06/2021, 19:39 WIB
Tim Gugus Tugas Pencegahan dan Pengendalian COVID-19 memakamkan jenazah pasien positif COVID-19 di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Bakalankrapyak, Kudus, Jawa Tengah, Kamis (27/5/2021). Berdasarkan data dari Gugus Tugas Pencegahan dan Pengendalian COVID-19 setempat, hingga 27/05/2021 atau dua pekan setelah lebaran jumlah kasus terkonfirmasi postif COVID-19 mencapai 822 orang yang sebelumnya 137 orang pada14/05/2021 dan menjadi kasus tertinggi di Jawa Tengah. ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho/aww. ANTARA FOTO/YUSUF NUGROHOTim Gugus Tugas Pencegahan dan Pengendalian COVID-19 memakamkan jenazah pasien positif COVID-19 di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Bakalankrapyak, Kudus, Jawa Tengah, Kamis (27/5/2021). Berdasarkan data dari Gugus Tugas Pencegahan dan Pengendalian COVID-19 setempat, hingga 27/05/2021 atau dua pekan setelah lebaran jumlah kasus terkonfirmasi postif COVID-19 mencapai 822 orang yang sebelumnya 137 orang pada14/05/2021 dan menjadi kasus tertinggi di Jawa Tengah. ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho/aww.

KOMPAS.com - Epidemiolog Universitas Indonesia Tri Yunis Miko Wahyono mengatakan, ledakan kasus Covid-19 di Kudus berpotensi terjadi di daerah lain.

Hal itu, kata dia, karena sistem surveilans, baik itu testing maupun tracing tidak dilakukan secara optimal oleh daerah sehingga kurang mendeteksi berapa kasus yang sebenarnya.

"Masak dari Januari sampai sekarang ini, Juni, masih konstan 5.000 aja, ya menurut saya sih enggak ada perkembangan surveilans," kata Tri kepada Kompas.com, melalui sambungan telepon, Jumat (4/6/2021).

Menurut dia, hal itu bisa terjadi kapan saja, apalagi bagi daerah dengan tingkat populasi tinggi mengalami ledakan kasus.

Kasus yang meledak, artinya, orang yang membutuhkan pelayanan kesehatan akan semakin bertambah banyak dan bisa membuat fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) kewalahan.

"Menurut saya, kasus yang sebenarnya ada di masyarakat itu jauh lebih besar dari data yang ditampilkan saat ini," ungkap Miko.

Baca juga: Kekebalan terhadap Covid-19 Disebutkan Bertahan Bertahun-tahun, Benarkah?

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Menyembunyikan kasus

Berdasarkan data yang ia miliki, sebetulnya ada banyak daerah yang mempunyai kasus Covid-19 tergolong tinggi tetapi tidak disampaikan secara terbuka. 

Hal itu, kata Tri, akan semakin mempersulit sistem surveilans yang sebelumnya belum optimal.

"Potensi (ledakan kasus) itu ada, tapi saya yakin ada banyak daerah yang sebetulnya mempunyai kasus tinggi tapi disembunyikan," kata Miko.

Jika memang yakin dengan hal tersebut, Tri berpesan agar daerah bersiap terhadap konsekuensi surveilans yang tidak bagus itu. 

Halaman:

25th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X