Kompas.com - 15/04/2021, 19:32 WIB
Pelayanan laboratorium di RSUP Kariadi Semarang, Rabu (17/2/2021). KOMPAS.com/RISKA FARASONALIAPelayanan laboratorium di RSUP Kariadi Semarang, Rabu (17/2/2021).

Jika ada pihak yang menolak rekomendasi itu, Dicky mengatakan, pemerintah harus berani bertindak tegas karena berbahaya dan tidak memahami prosedur atau metode ilmiah.

Ia mengatakan, salah satu contoh ketidakpahaman pelaku riset di balik Vaksin Nusantara adalah melibatkan relawan yang sudah divaksin.

"Yang namanya riset uji fase I dan II itu ada metodologinya dan tidak boleh orang yang sudah divaksin dijadikan relawan, sudah tidak masuk kriteria," kata Dicky.

"Ini salah kaprah. Ini berbahaya ketika ada satu riset yang tidak merujuk dan berpedoman pada kaidah ilmiah. Namanya bukan riset, dan itu tidak bisa menjamin keamanan. Harus ada ketegasan dari pemerintah," lanjut dia.

Dicky menyebutkan, strategi pandemi harus memilih teknologi riset yang jelas dan memiliki dasar ilmiah yang kuat dalam memberikan dampak pada kesehatan masyarakat.

Misalnya, penggunaan mRNA dalam vaksin Covid-19. Meski relatif baru, vaksin dengan metode mRNA memiliki rujukan ilmiah yang kuat.

"Nah kalau bicara vaksin Nusantara, teknologinya saja masih dalam kajian panjang. Studi praklinis masih terus dilakukan karena banyak hal yang belum mendapatkan hasil meyakinkan," ujar Dicky.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Terkait metode dendritik yang digunakan vaksin Nusantara, Dicky menilai, kurang tepat untuk digunakan sebagai strategi kesehatan masyarakat.

Selain membutuhkan SDM yang banyak dan intensif, vaksin itu juga membutuhkan biaya yang sangat mahal.

Terlepas dari itu, Dicky mengingatkan, suatu riset disebut valid dan akurat jika tahapan ilmiahnya ditaati dan dibuktikan.

Baca juga: Vaksin Nusantara Diklaim Karya Anak Bangsa, tetapi Komponennya Impor

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X