Kasus Terus Naik, Sudah Optimalkah Usaha Indonesia Kendalikan Virus Corona?

Kompas.com - 22/09/2020, 10:39 WIB
Orang tua bersama anak-anaknya saat menaiki motor saat melewati kawasan Kemayoran, Jakarta Utara, Rabu (16/9/2020). PSBB kembali diterapkan tanggal 14 September 2020, berbagai aktivitas kembali dibatasi yakni aktivitas perkantoran, usaha, transportasi, hingga fasilitas umum. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGOrang tua bersama anak-anaknya saat menaiki motor saat melewati kawasan Kemayoran, Jakarta Utara, Rabu (16/9/2020). PSBB kembali diterapkan tanggal 14 September 2020, berbagai aktivitas kembali dibatasi yakni aktivitas perkantoran, usaha, transportasi, hingga fasilitas umum.

KOMPAS.com - Ketika sejumlah negara tengah mempersiapkan untuk terjadinya gelombang kedua pandemi virus corona baru penyebab Covid-19, Indonesia justru masih berjibaku dalam merespons gelombang pertama.

Epidemiolog dari Griffith University, Australia Dicky Budiman mengatakan, penyebab Indonesia masih terjebak dalam gelombang pertama alias Endless First Wave adalah karena respons penanganan pandemi yang masih belum optimal.

Dicky menyebutkan, ada lima hal yang bisa menjadi indikator apakah Indonesia, secara nasional dan juga provinsi, sudah merespons secara optimal pandemi Covid-19, yaitu:

  • Kurva pandemi
  • Pertumbuhan kasus
  • Daya dukung fasilitas kesehatan
  • Kapasitas testing
  • Acuan strategi penanganan 

"Dari lima ini, terlihat kita masih belum dalam kategori yang merespon baik," kata Dicky saat dihubungi Kompas.com, Senin (21/9/2020).

Baca juga: Melihat Puncak Pandemi Covid-19 Indonesia bak Menyusuri Lorong Gelap...

Kurva pandemi

Pedagang masker scuba di Jalan Lenteng Agung - Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Senin (21/9/2020). Mulai hari ini sebagai upaya menekan penyebaran virus corona, PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) membuat aturan seluruh penumpang dilarang menggunakan masker scuba dan buff.KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMO Pedagang masker scuba di Jalan Lenteng Agung - Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Senin (21/9/2020). Mulai hari ini sebagai upaya menekan penyebaran virus corona, PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) membuat aturan seluruh penumpang dilarang menggunakan masker scuba dan buff.
Dicky mengatakan, landai atau tidaknya kurva pandemi bisa dilihat dari dua indikator, yakni angka kematian dan angka kasus baru harian.

"Dua-duanya ini kan kita lihat masih tinggi. Artinya, tentu ini belum menunjukkan kalau kurva sudah melandai," kata Dicky.

Diberitakan Kompas.com, Senin (21/9/2020) Indonesia kembali mencatat angka tertinggi baru dalam penambahan kasus harian Covid-19.

Berdasarkan data Satuan Tugas Penanganan Covid-19 pada Senin (21/9/2020), terdapat penambahan pasien positif Covid-19 sebanyak 4.176 orang dalam 24 jam terakhir.

Angka tersebut merupakan yang tertinggi sejak kasus perdana Covid-19 diumumkan Presiden Joko Widodo pada 2 Maret lalu.

Sebelumnya, berdasarkan catatan Kompas.com, angka tertinggi yang pernah dicatat yaitu 4.168 orang pada 19 September 2020, dua hari sebelumnya.

Padahal, 16 September 2020 lalu, Indonesia juga sempat mencatat angka tertinggi yakni sebesar 3.963 orang. 

Berdasarkan data covid19.go.id, hingga Senin (21/9/2020), total kasus konfirmasi positif Covid-19 di Indonesia ada sebanyak 248.852 dengan 58.378 merupakan kasus aktif.

Sementara itu, 180.797 orang dinyatakan sembuh sedangkan 9.677 orang meninggal dunia akibat Covid-19.

Baca juga: UPDATE 21 September: 108.880 Orang Suspek Covid-19 di Indonesia

Pertumbuhan kasus

Foto dirilis Sabtu (19/9/2020), memperlihatkan petugas penggali makam jenazah Covid-19 bersiap menurunkan peti di kompleks pemakaman Pondok Ranggon. Selain tenaga medis yang menjadi garda terdepan penanganan virus corona, salah satu pahlawan lain juga patut diberikan apresiasi tinggi adalah petugas pemakaman jenazah Covid-19.ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA Foto dirilis Sabtu (19/9/2020), memperlihatkan petugas penggali makam jenazah Covid-19 bersiap menurunkan peti di kompleks pemakaman Pondok Ranggon. Selain tenaga medis yang menjadi garda terdepan penanganan virus corona, salah satu pahlawan lain juga patut diberikan apresiasi tinggi adalah petugas pemakaman jenazah Covid-19.
Indikator kedua adalah pertumbuhan kasus. Dicky mengatakan, hal itu bisa dilihat dengan membandingkan tren pertumbuhan kasus secara kumulatif dengan bulan sebelumnya.

"Bisa juga dibandingkan dengan negara lain di wilayah sekitar, misalnya di ASEAN. Terlihat, kita juga termasuk dalam kelompok yang trennya meningkat," ujar dia.

Mengutip data covid-19.go.id, dalam rentang waktu 1-21 September 2020, Indonesia mencatat tambahan 74.056 kasus konfirmasi positif Covid-19.

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X