Kompas.com - 16/09/2020, 16:50 WIB
Peternak kambing mulyoko screenshootPeternak kambing mulyoko

KOMPAS.com - Kerja keras dan tidak mudah menyerah. Setidaknya itu dua modal utama Mulyoko (34) bisa sukses menjadi peternak kambing seperti saat ini.

Meskipun pernah berkali-kali gagal dalam membangun usaha, bahkan hingga menangguk kerugian hampir setengah miliar rupiah. Namun dia bisa bangkit kembali.

Dia saat ini memiliki peternakan "Sekar Mendho" di bawah kaki Gunung Gandul, tepatnya di Desa Pare, Kecamatan Selogiri, Wonogiri, Jawa tengah.

Peternakan kambing tersebut memiliki kapasitas kandang yang mampu menampung hingga 2.500 ekor.

Bahkan pada Idul Adha lalu, dia mengaku bisa menjual kambing hingga 3.500 ekor, sampai hanya tersisa sekitar 50-an ekor saat itu.

Baca juga: Kisah Pemuda Wonogiri, Dedikasikan Hidup untuk Meneliti Ikan di Indonesia

Berkali-kali gagal

Namun kisah sukses itu tidak datang begitu saja. Sebelum sampai pada titik tersebut, jatuh bangun dalam membangun usaha harus dilakoninya.

Bahkan karena kegagalan itu dia pernah sampai memiliki utang hingga Rp 500 juta.

Namun berkat ketekunan dan kesabarannya, juga dorongan dari sang istri, dia bisa kembali bangkit.

“Kami saat ini fokus pada penggemukan. Tapi karena ada permintaan kami sekalian jual beli. Untuk saat ini karena sekarang belum fokus fatening (penggemukan) kambing masih di bawah 1.000, sekitar 600-700 ekor,” tuturnya saat dihubungi Kompas.com (7/9/2020).

Mulyoko menceritakan, menurutnya tidak mudah membangun bisnis di bidang peternakan kambing.

Ia mengaku telah mengalami jatuh bangun berkali-kali sebelum akhirnya bisnis kambingnya sebesar sekarang.

Baca juga: Kisah Rayhan Diterima di UI, UNS, Unpad, dan Binus Setelah Gagal SNMPTN dan SBMPTN

Fokus kambing jenis domba

Mulyoko mengatakan, saat ini pihaknya memilih berfokus untuk beternak kambing jenis domba meskipun juga menyediakan kambing Jawa.

Beternak domba menurutnya memiliki beberapa keunggulan yakni lebih mudah dan simpel juga membutuhkan tempat lebih sedikit dibandingkan kambing Jawa.

Adapun saat ini peternakan kambingnya memiliki beberapa lini bisnis yakni trading (jual beli), penggemukan yang arahannya untuk menyediakan pemenuhan mereka yang memiliki usaha aqiqah, sate kambing, serta susu.

Peternakan Kambing Sekar Mendho WonogiriKOMPAS.com/Nur Rohmi Aida Peternakan Kambing Sekar Mendho Wonogiri

Selain itu, belajar dari pengalamannya saat beberapa kali menghadapi komplain dari warga di tempat-tempat sebelumnya, ia kini juga mengolah kotoran menjadi pupuk sehingga tidak berbau.

Ia mengatakan jika terdapat masyarakat yang ingin berbisnis kambing maka menurutnya yang paling penting adalah menentukan tujuan akan berbisnis kambing atau domba jenis apa.

Selain itu harus bisa mengukur nilai gizi kambing.

Serta harus memperhitungkan dengan benar berapa biaya yang dikeluarkan, juga cost margin dalam setahun.

Dia juga mengingatkan untuk selalu ulet, tidak mudah menyerah, dan kerja keras menjadi hal yang dibutuhkan untuk menjadi peternak kambing.

Baca juga: Viral, Kisah Pria Indonesia Dibayar Rp 90 Juta karena Editan Fotonya

Jual beli tanaman hias

Sebelum menekuni bisnis jual beli dan penggemukan kambing, ia awalnya usaha jual beli tanaman hias gelombang cinta. Yaitu sekitar tahun 2007 hingga 2008.

Usaha tanaman hias itu ia jalani usai menikah.

Tetapi musim ramai orang menyukai tanaman hias ternyata tidak berlangsung lama.

Saat orang-orang bosan dengan tanaman hias, bisnis tanaman hias pun mulai menurun.

Mulyoko kemudian mencoba beralih dengan memelihara sapi dengan sistem gaduh.

Sistem gaduh adalah sistem pemeliharaan ternak di mana pemilik hewan ternak mempercayakan pemeliharaan ternaknya kepada penggaduh hewan ternak dengan imbalan bagi hasil.

Namun usaha pemeliharaan sapi yang dilakoninya juga tidak berlangsung lama.

Sebab dia merasa usaha dengan sistem gadung tersebut margin keuntungan sapi turun dan pendapatannya juga tidak banyak.

Saat itulah dia kemudian mencoba beralih ke usaha jual beli dan peternakan kambing.

Jual beli kambing

Awalnya ia melakukan usaha jual beli kambing secara tradisional dari pasar ke pasar.

Ia menceritakan, ketika usaha kambingnya baru mulai merinstis sekitar 2007-2008, sekitar setahun kemudian kandang yang ia miliki roboh.

Padahal saat itu ia tengah mendapatkan orderan dari temannya dengan jumlah cukup besar.

Akibat kejadian itu, kambing miliknya dan kambing pesanan temannya yang saat itu belum juga diambil mati hingga sekitar 80 ekor.

“Saat itu baru awal sudah dibenturkan masalah besar,” ungkap Mulyoko.

Namun kejadian itu tak membatnya menyerah. Ia mengatakan salah satu kunci semangatnya adalah sang istri.

Dengan semangat dari sang istri ia kemudian berusaha bangkit lagi membangun usaha.

Namun saat mulai bangkit, lagi-lagi dia mendapatkan permasalahan hingga berkali-kali.

Mulai dari masalah pembayaran, juga komplain dari warga yang bahkan menyebabkan dia harus berpindah-pindah tempat usaha hingga 3 kali.

Baca juga: Cerita Singkat Beny Santoso, Pengusaha Tempe

Kambing mati hingga utang Rp 500 juta

Selain itu, Mulyoko mengatakan, dalam usaha peternakan kambing, adanya kasus kematian kambing juga masih saja terus ada.

Namun menurut dia salah satu yang menjadi cobaan terberatnya adalah saat akumulasi utangnya mencapai Rp 500 juta. Utang itu berasal dari pinjaman dan kegagalan dalam proses usahanya.

Padahal saat itu usianya baru 25 tahun.

Mempunyai utang hingga Rp 500 juta dalam usia muda, dia bertekad bisa melunasinya dalam waktu 5 tahun.

Namun berkat keinginan kuatnya bisa terbebas dari utang, dalam waktu 2 tahun sudah bisa melunasinya.

Ia menyebut, saat-saat menghadapi berbagai masalah itu, sempat terlintas untuk berhenti berbisnis domba lagi.

“Tapi dengan semangat dari istri, saya terus belajar. Mulai lagi. Dari tahun ke tahun akhirnya ketemu (resep bisnisnya), ya mungkin baru 4 tahunan ini,” tuturnya.

Belajar pada peternak yang sukses

Mulyoko mengaku tidak malu untuk belajar dari pengusaha yang telah lebih dulu sukses. Selain mengambil ilmunya juga untuk motivasi dan inspirasi.

Ia terus menimba ilmu bahkan ke peternak yang lebih besar hingga ke daerah Bogor, Jawa Barat dan Surabaya, Jawa Timur.

“Jadi ketemunya perjalanan panjang di komposisi pakan. Intinya di situ,” terang dia.

Ia menceritakan untuk dapat menemukan komposisi pakan ia mencari formula dari peternak besar.

Mencoba membedah apa sebetulnya bahan konsentrat pakan yang mereka gunakan, selanjutnya melakukan beberapa kali percobaan hingga akhirnya menemukan komposisi yang pas.

Selain itu kesehatan hewan, sanitasi, kebersihan kandang, ketepatan memberi pakan, SDM dan disiplin waktu juga merupakan hal yang penting.

Baca juga: Kisah Andhika Sudarman, Mahasiswa Indonesia Pertama yang Pidato di Wisuda Harvard Law School

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.